“Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.
BAB II
KAJIAN
TEORI
A. Pengembangan Integritas
a. Pengertian Pengembangan
Dalam istilah psikologi tidak ditemukan
istilah pengembangan, tetapi yang digunakan adalah istilah perkembangan.
Perkembangan adalah sebuah pemaparan tentang kondisi manusia yang terus
mengalami perubahan ketingkat (fase) yang lebih tinggi secara alami dan terus
terjadi. Sedangkan pengembangan adalah usaha memposisikan kondisi manusia ke
arah yang seharusnya dimiliki (terjadi) ketika seseorang sudah berada pada
posisi (fase) tertentu.[1]
setiap
manusia memiliki kemampuan dan potensi dalam dirinya, sebagaimana yang telah
dijelaskan dala surah At-Tin ayat 4 ialah:
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OÈqø)s? ÇÍÈ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Dari ayat
tersebut dapat kita ketahui bahwa
manusia telah diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya namun pengembangan potensi
diri belum tentu secara otmatis tampak. Setiap individu perlu berusaha untuk
membangun potensi diri secara bertahap sesuai dengan karakter agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Adapun pengembangan menurut Abdul Majid ialah
pengembangan merupakan suatu proses mendesain pembelajaran secara logis,
sistematis dalam rangka untuk menetapkan segala sesuatu yang akan dilaksanakan
dalam proses kegiatan belajar dengan memperhatikan potensi dan kompetensi
peserta didik.[2]
Pada hakikatnya pengembangan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non
formal yang dilaksanakan secara sadar, terencana, terarah dan bertanggungjawab
dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, mengembangkan suatu dasar
kepribadian yang seimbang, utuh, selaras, pengetahuan keterampilan sesuai
dengan bakat, keinginan serta kemampuan untuk meningkatkan tercapainya
martabat, mutu, dan kemampuan manusiawi
yang optimal. Setiap manusia
memliki
Pengembangan adalah suatu proses,
cara, perbuatan, mengembangkan secara bertahap dan teratur yang menjurus kepada
sasaran yang dikehendaki.[3]
Berdasarkan teori tersebut maka dapat dijelaskan bahwa pengembangan ialah suatu
proses untuk menjadikan potensi yang ada menjadi sesuatu yang lebih baik dan
berguna.
b. Pengertian Integritas
Kepemimpinan yang dibangun atas
kekuatan berpikir dengan kebiasaan yang produktif yang dilandasi oleh kekuatan
moral berarti ia memiliki “integritas” untuk bersikap dan berperilaku sehingga
ia mampu memberikan keteladanan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan
perubahan yang terkait dengan proses berpikir.
Menurut Gen Ronald R. Fogleman
menemukan bahwa pemimpin yang berintegritas menunjukkan sikap tulus dan
konsisten, memiliki keteguhan hati dan karakter, dan merupakan seorang yang
bertahan sampai akhir.[4] Secara bahasa integritas atau integrity berarti keutuhan, kebulatan,
kejujuran, kesamaan antara hati, ucapan, dan tindakan. Integritas erat
kaitannya dengan moral dan etika. Secara etimologi, kata integritas berasal
dari bahasa latin yaitu integrer
(keseluruhan atau lengkap) yang berarti utuh, bulat, penuh suci atau bersih.
Untuk itu integritas bisa dimaknai
sebagai cara hidup yang sehat, bersih,
dan damai sejahtera secara menyeluruh.[5] Orang yang memiliki integritas adalah orang
yang pada dirinya terpadu dan bersatu antara kata dan perbuatan, yaitu matang
secara teori dan praktik. Senada dengan pendapat di atas, Achmad Maulana
mengartikan istilah ini dengan arti kesempurnaan, kesatuan, keterpaduan, intel
ketulusan hati, kejujuran, dan tak tersuap.[6]
Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai suatu sifat yang menjadi
tolak belakang keutuhan pibadi seseorang, yaitu sebagai berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ
النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم – قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ
كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
“Tanda orang munafik ada
tiga, apabila ia berkata ia bohong, apabila berjanji ia mengingkari, dan
apabila dipercaya mengkhianati” (HR. Muslim).
Dari makna hadis di atas yaitu
orang yang ingin memiliki integritas harus menjauhkan diri dari kemunafikan.
Fenomena seperti miskin integritas dapat dikatakan sebagai virus atau wabah
penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian banyak orang. Menurut Sujana, bila
seseorang terjangkit penyakit hati yang munafik, maka tidak jarang mereka
mengambil tindakan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.[7]
Kata int egritas erat kaitannya dengan “etika” dan “moralitas”.
Etika pada umumnya didefenisikan
sebagai suatu usaha yang sistematis dengan menggunakan rasio untuk menafsirkan
pengalaman moral individual dan sosial sehingga dapat menetapkan aturan untuk
mengendalikan perilaku manusia serta nilai-nilai yang berbobot untuk dapat
dijadikan sasaran hidup.[8]
Sedangkan moral dalam pengertian yang umum adalah menaruh penekanan pada
karakter dan sifat-sifat individu yang khusus, bukan pada aturan-aturan dan
ketaatan. Adapun pengertian integritas
menurut para ahli ialah:
a.
Menurut Andreas Harefa, arti
integritas adalah suatu kunci kehidupan yang dapat diamati secara langsung,
yaitu menunjukkan kejujuran, berkomitemen, dan melakukan sesuatu dengan
konsisten.
b.
Menurut Hendry
Cloud, arti integritas adalah sesuatu yang sangat berhubungan dengan keutuhan
dan kefektifan seseorang sebagai insan manusia dalam menjalankan fungsinya
sesuai dengan yang telah dirancang sebelumnya.
c.
Menurut Ippho
Santoso, pengertian integritas adalah suatu keadaan menyatunya pikiran,
perkataan, dan perbuatan sehingga melahirkan reputasai dan kepercayaan.
d.
Menurut KBBI,
arti integritas adalah mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan kesatuan
yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kewibawaan dan
kejujuran.[9]
Berdasarkan pendapat para ahli di
atas maka dapat dijelaskan bahwa pengertian integritas ialah satunya kata
dengan perbuatan dengan kata lain konsisten antara apa yang dikatakan dengan
apa yang diperbuat.
c. Bentuk- Bentuk Integritas
Bagi para pemimpin, tokoh
masayrakat, elite kekuasaan, dan bahkan setiap orang, khususnya orang-orang
yang mengaku beriman, integritas merupakan syarat mutlak yang tidak dapat di
tawar-tawar. Sebab bilamana tidak memiliki integritas, maka akan berakibatkan
hilangnya kepercayaan. Adapun yang menjadi bentuk-bentuk integritas ialah:
a. Ketulusan Hati (Ikhlas)
Setiap orang di tuntut agar
senantiasa ikhlas dalam beramal, yakni sikap tulus yang berarti bekerja tanpa
pamrih, tidak melihat perbuatannya karena daya dan upayanya sendiri, tetapi
semata-mata karena Allah SWT. Hal ini karena ikhlas atau
ketulusan hati memperlihatkan semangat tauhid, yaitu komitmen untuk menyembah
hanya kepada Allah SWT. Sehingga tepat rasanya bila dikatakan ikhlas dapat
menjadi kunci keselamatan bagi setiap orang, karena bila beramal tanpa
dibarengi rasa keikhlasan maka akan sia-sia dan dekat kepada kemusyrikan.[10]
b. Kejujuran
Kejujuran itu ialah
satunya kata dengan perbuatan, ucapan dan pikiran. Jujur dalam hal ini berarti
tidak bersikap plin-plan dan tidak memutarbalikkan fakta. Dalam bahasa Arab
diketahui dengan kata As-Siddiq yang mengadung arti kejujuran, kebenaran,
kesungguhan, dan keterbukaan. Kejujuran seseorang harus dilihat dari intensitas
dan kesungguhan orang yang bersangkutan dalam menjaga dan memelihara perkataan,
perbuatan, dan sikap mentalnya.
c. Istiqamah
Keadaan ini sering datang menjadi ujian bagi
orang-orang yang teguh mempertahankan keyakinan atau pendiriannya. Pendirian
yang dimaksud dapat berupa kebijkan-kebijakan yang dibuat
oleh para pemimpin atau seperti ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para
intelektual muslim. Sikap ini dalam islam erat hubungannya dengan keteguhan
hati. Seperti pada firman Allah SWT dalam surah As-Saff ayat 2-3 ialah:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä zNÏ9 cqä9qà)s? $tB w tbqè=yèøÿs? ÇËÈ uã92 $ºFø)tB yYÏã «!$# br& (#qä9qà)s? $tB w cqè=yèøÿs? ÇÌÈ
Artinya: 2. Wahai orang-orang yang
beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
d. Keterpaduan
Kata dasar pada poin ini adalah
padu, memahami kata ini ialah dengan maksud bercampur atau menyatunya beberapa
unsur menjadi sebuah kesatuan yang utuh, kukuh, dan kuat. Secara
sadar, setiap orang akan melakukan segala hal apapun sesuai dengan
pengetahuannya. sehingga dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya ilmu itu
adalah untuk amal. Sebagai muslim yang taat, sudah menjadi kewajiban
mengamalkan syariat Islam aats dasar iman dan takwa kepada Allah SWT.
Diantaranya adalah menjaga diri dari kemunafikan. untuk itu, setiap muslim
dituntut agar senantiasa terpadu dan bersatu antara kata dan perbuatannya.
e. Kesempurnaan
Sering
diatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. pernyataan ini
tentu memiliki kebenaran dan logikanya sendiri. Kesempurnaan manusia ini dapat
dilihat dari tiga aspek yaitu: kesempurnaan fisik, kesempurnaan spiritual, dan
kesempurnaan lingkungan. Manusia dikatakan sempurna bila dalam hidupnya mampu
membangun dan mewujudkan kesalehan individu dan kesalehan sosial. Islam adalah
agama yang benar lagi sempurna, bila manusia menyadarinya, kesempurnaan Islam
sebagai satu-satunya tuntunan yang sesuai dengan pembawaan fitrahnya. juga
satu-satuya jalan untuk mencapai kesempurnaan. sebagaimana firman Allah SWT
dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 208:
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$2 wur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B ÇËÉÑÈ
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.[11]
Sering dikatakan, manusia adalah
makhluk yang paling sempurna. Pernyataan ini tentu memiliki kebenaran dan
logikanya sendiri. Kesempurnaan manusia ini dapat dilihat dari tiga aspek,
yaitu: kesempurnaan fisik, kesempurnaan spiritual, dan kesempurnaan lingkungan.
4. Integritas Dalam Konteks
Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan hal penting
yang harus senantiasa di kawal perkembangannya demi kemajuan dan kesejahteraan
manusia. Merujuk pada maknanya, manusia adalah salah satu jenis makhluk ciptaan
Allah SWT di muka bumi. Hidup dengan segala sifat kemanusiaan, keterbatasan.
Ketika manusia dilahirkan ke muka bumi dalam wujud bayi, rohani dan akalnya
kosong tidak tahu apa-apa. Seperti teori Barat yang menyebutkan bahwa manusia
lahir ia seperti kertas kosong dan ditentukan oleh pengaruh lingkungannya.
Umat islam meyakini bahwa segala
sesuatu yang berasal dari Al-Qur’an menjadi hukum baginya, sebab bagi setiap
muslim Al-Qur’an adalah pedoman hidup.[12]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa integritas juga adalah bagian penting
dari tujuan pendidikan agama islam. Ibarat legalitas suatu produk, maka setiap
orang yang lahir dari Rahim pendidikan islam seharusnya adalah orang yang
terjamin akan kualitas pibadinya (berintegritas). Keadaan berperilaku dengan
integritas diharapkan muncul bukan hanya karena tuntutan pekerjaan yang
mengharuskan seseorang untuk berintegritas tetapi karena individu tersebut
memahami dengan baik bahwa memiliki integritas adalah bagian dari proses untuk
membangun sesuatu yang lebih baik. [13]
B. Kepribadian Anak Usia 6-12 Tahun
Pada dasarnya istilah kepribadian
digunakan untuk pengertian yang ditujukan pada individu atau perorangan.
Artinya, yang mempunyai kepribadian adalah individu. Kemudian istilah
kepribadian digunakan pula untuk kelompok individu atau masayrakat.[14]
a. Pengertian Kepribadian
Istilah kepribadian atau dalam
Bahasa Inggrisnya “Personalitty”
berasal dari Bahasa Yunani Kuno, yaitu Prospon
atau Persona yang berarti “topeng”
dan biasa digunakan dalam pertunjukan teater. Menggunakan topeng sesuai dengan
ekspresi topeng yang dipakainya. Seolah-olah, topeng itu mewakili ciri karakter
tertentu. Konsep awal dari personality adalah tingkah laku yang ditunjukkan
kepada lingkungan sosial dan kesan mengenai diri yang di inginkan agar dapat
ditangkap oleh orang lain. (Schults&Schults, 2005).[15]
Adapun pengertian kepribadian adalah bahwa kepribadian itu tidak dapat
dipisahkan dari diri sseorang.
Adapun definisi mengenai
kepribadian memuat hal-hal sebagai berikut:
a.
Bahwa kepribadian itu merupakan suatu
kebulatan yang terdiri dari aspek-aspek jasmaniah dan ruhaniah.
b.
Kepribadian seeseorang itu besifat dinamik
dalam hubungannya dengan lingkungannya.
c.
Kepribadian seseorang itu adalah khas (unique) berbeda dari orang lain
d.
Kepribadian itu berkembang dengan dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dan luar.
Dari definisi di atas mendekati
dengan apa yang dikemukakan oleh Gordon W. Allport, yang dikutip oleh
Burhanuddin, yang menyatakan:
“ Personality is the dynamic organization the individual of those
psychophysical system, that determines his unique adjustment to his
environment” (Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari system
psikofisik individu yang memberikan orak yang khas dalam caranya menyesuaikan
diri dengan lingkungannya (Gordon W. Allport, 1960: 48).[16]
Kepribadian adalah kesatuan system jiwa dan raga dalam diri individu yang
bersifat dinamis dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[17]
Berdasarkan teori tersebut maka dapat dijelaskan bahwa kepibadian ialah
sejumlah sikap dan tingkah laku manusia yang merupakan sifat khas seseorang.
b. Pengembangan Kepribadian
Kepribadian meliputi ciri-ciri psikologis yang
stabil yang mendefenisikan bahwa setiap manusia merupakan pribadi unik. Baik
anak-anak maupun orang dewasa memiliki ciri-ciri kepribadian. Sementara beragam
penjelasan dimana kebanyakan ahli sepakat bahwa apapun penyebabnya, kepribadian
individu adalah kokoh didirikan pada akhir anak usia dini. [18]
maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan kepribadian adalah sebagai bentuk
usaha yang dapat dilakukan untuk mengubah kondisi manusia yang terus mengalami
perubahan kea rah yang lebih baik dank e tingkat yang lebih tinggi secara alami
dan terus-menerus.
c.
Pengembangan Kepribadian Islam
Dalam pengembangan kepribadian
islam, hal yang paling utama untuk diperhatikan adalah pengembangan hati (qalb). Hati tempat bermuara segala
kebaikan illahiyah, karena ruh ada di dalamnya. Dengan demikian, pengembangan
kepribadian islam adalah setiap usaha individu dengan kekhasan daya insaninya
yang menempuh perjalanan hidup secara fisik dan psikis ke arah kebenaran (al-haqq).
Pernyataan di atas mengandung tiga
unsur sebagai suatu keterkaitan terpadu
(centered relationship), yaitu ke
khasan daya insani, perjalanan hidup, dan kebenaran.[19]
Dengan demikian pengembangan kepribadian islam adalah usaha sadar yang
dilakukan oleh individu agar mampu menjadikan diri lebih baik sehingga
memperoleh kenikmatan dunia dan akhirat.
d. Aspek-Aspek Kepribadian
Tingkah laku manusia dianalisis ke
dalam tiga aspek atau fungsi, yaitu:
a.
Aspek kognitif (Pengenalan), yaitu pemikiran,
ingatan, hayalan, inisiatif, kreativitas, pengamatan dan pengindraan. Fungsi
aspek kognitif adalah menunjukkan jalan, mengarahkan, dan mengendalikan tingkah
laku.
b.
Aspek afektif, yaitu bagian kejiwaan yang b
erhubungan dengan kehidupan alam perasaan atau emosi.
c.
Aspek motorik, yaitu berfungsi sebagai
pelaksana tingkah laku manusia seperti perbuatan dan gerakan jasmaniah lainnya.
[20]
e. Aspek-Aspek Yang Mempengaruhi
Kepribadian
Pembentukan kepribadian
dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik hereditas (pembawaan) maupun lingkungan.
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian, yaitu:
a. Fisik, yang dipandang mempengaruhi
kepribadian adalah postur tubuh (langsing, pendek, gemuk atau tinggi)
kecantikan, kesehatan, keutuhan, tubuh (utuh atau cacat) dan berfungsinya organ
tubuh kondisi fisik yang berlainan itu menyebabkan sikap dan sifat-sifat serta
temperamen yang berbeda-beda.
b. Intelegensi, yang tinggi atau
normal biasanya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan secara wajar,
sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan dalam menyesuaikan
diri dengan lingkungannya.
c. Keluarga, seorang anak yang
dibesarkan dalam lingkungan yang harmonis dan agamis, maka kepribadian anak
cenderung positif. Adapun anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang
broken home, kurang harmonis, orangtua bersikap keras terhadap anak dan tidak
memperhatikan nilai-nilai agama, maka perkembangan kepribadian cenderung akan
mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya.
d. Teman sebaya atau peergroup,
melalui hubungan interpersonal dengan teman sebaya anak belajar menilai dirinya
sendiri dan kedudukannya dalam kelompok. Bagi anak yang kurang mendapat kasih
sayang, bimbingan keagamaan dan etika dari orangtuanya, biasanya kurang
memiliki kemampuan selektif dalam memilih teman dan mudah terpengaruh oleh
sifat dan perilaku kelompoknya. Kebudayaan, tradisi atau kebudayaan suatu
masayrakat memberikan pengaruh terhadap kepribadian setiap anggotanya, baik
menyangkut cara cara berpikir, bersikap pengaruh kebudayaan terhadap
kepribadian dapat dilihat dari adanya perbedaan antara masayrakat modern dengan
masayrakat primitive.[21]
f. Periode Kanak-Kanak Akhir (6-12
Tahun)
a. Ciri dan tugas perkembangan
kanak-kanak akhir
1) Ciri umum
Orangtua umumnya menganggap masa
ini merupakan usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menurut perintah
dan lebih banyak dipengaruhi oleh teman sebayanya. Para pendidik menyebut
sebagai usia sekolah dasar, yaitu saat anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan
dan berbagai keterampilan di sekolah dasar. Masa ini merupakan masa pembentukan
kebiasaan dorongan berprestasi yang cenderung menetap sampai dewasa sehingga
disebut juga masa kritis dalam dorongan berprestasi.
2) Tugas perkembangan kanak-kanak
akhir
a) Belajar kemungkinan-kemungkinan
fisik/ ketangkasan fisik.
b) Membentuk sikap sehat terhadap
dirinya sendiri sebagai pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang.
c) Belajar bergaul dengan teman
sebayanya.
d) Mengembangkan kemampuan-kemampuan
dasar dalam membaca, menulis dan menghitung.
e) Mengembangkan hati nurani/kata
hati
f) Belajar membentuk sikap terhadap
kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga di lingkungannya. [22]
3. Perkembangan
sosial-emosional
Perkembangan emosi dan sosial
adalah proses berkembangnya kemampuan anak untuk menyesuaikan diri terhadap
dunia sosial yang lebih luas. Dalam proses perkembangan anak diharapkan
mengerti/memahami orang lain yang berarti mampu menggambarkan ciri-cirinya,
mengenali apa yang dipikirkan, dirasa, dan diinginkan serta dapat menempatkan
diri pada sudut pandang orang lain tersebut tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Pada masa ini, anak menjadi lebih peka terhadap perasaannya sendiri dan
perasaan orang lain. Mereka dapat lebih baik mengatur ekspresi emosionalnya
dalam situasi sosial dan mereka dapat merespons tekanan emosional orang lain. [23]
C. Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 60-82
1. Mengenal Surah Al-Kahfi Ayat 60-82
Secara etimologi Al-Qur’an diambil
dari kata qur’ana atau qiraa’atan, yaitu bentuk masdar dari kata qara’a
yang berarti bacaan. Sedangkan secara istilah adalah kalam Allah SWT Yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang dituliskan dalam mushaf yang
dinukilkan (disampaikan) kepada kita secara mutawatir, yang membacanya merupakan
ibadah.[24]
Menurut Muhammad Ali Shabuni dikutip oleh Abdurrahman Dahlan, Al-Qur’an adalah:
“firman Allah yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada penutup para Nabi
dan Rasul (Muhammad Saw) melalui Malaikat Jibril, termaktub dalam mushaf yang
diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, yang
dimulai dengan surah Al-Fatihah dan di akhiri dengan surah An-Nass”.[25]
Al-Qur’an diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari
malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Dzulhijjah haji wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.[26]
Tujuan Al-Qur’an diturunkan
berangsur-angsur adalah agar Rasulullah SAW, dan para sahabatnya dapat
menyimak, memahami, mengamalkan, dan memeliharanya dengan baik. Sehubungan
dengan proses turunnya Al-Qur’an, Rasulullah SAW, Mengerahkan sejumlah penulis
untuk mencatat seteliti mungkin. Zaid Ibn Tsabit adalah sekretaris utama
Rasulullah SAW, yang mencatat ayat-ayat Al-Qur’an yang turun. Disamping Zaid,
tercatat pula nama-nama sahabat lain yang diperintahkan menulis Al-Qur’an
seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair Ibn Awwam, Abdullah Ibn Sa’ad, dan
Ubay Bin Ka’ab, ayat-ayat tersebut ditulis diatas batu, tulang, pelepah kurma
dan lain-lain.[27]
2. Teks dan Terjemahan Al- Qur’an
Surah Al-Kahfi Ayat 60-82
øÎ)ur ^$s% 4ÓyqãB çm9tFxÿÏ9 Iw ßytö/r& #_¨Lym x÷è=ö/r& yìyJôftB Ç`÷tóst7ø9$# ÷rr& zÓÅÓøBr& $Y7à)ãm ÇÏÉÈ $£Jn=sù $tón=t/ yìyJøgxC $yJÎgÏZ÷t/ $uÅ¡nS $yJßgs?qãm xsªB$$sù ¼ã&s#Î6y Îû Ìóst7ø9$# $\/u| ÇÏÊÈ $£Jn=sù #yur%y` tA$s% çm9tFxÿÏ9 $oYÏ?#uä $tRuä!#yxî ôs)s9 $uZÉ)s9 `ÏB $tRÌxÿy #x»yd $Y7|ÁtR ÇÏËÈ tA$s% |M÷uäur& øÎ) !$uZ÷urr& n<Î) Íot÷¢Á9$# ÎoTÎ*sù àMÅ¡nS |Nqçtø:$# !$tBur çmÏ^9|¡øSr& wÎ) ß`»sÜø¤±9$# ÷br& ¼çntä.ør& 4 xsªB$#ur ¼ã&s#Î6y Îû Ìóst7ø9$# $Y7pgx ÇÏÌÈ tA$s% y7Ï9ºs $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£s?ö$$sù #n?tã $yJÏdÍ$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ #yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym #sÎ) $t6Ï.u Îû ÏpuZÏÿ¡¡9$# $ygs%tyz ( tA$s% $pktJø%tyzr& s-ÌøóçFÏ9 $ygn=÷dr& ôs)s9 |M÷¥Å_ $º«øx© #\øBÎ) ÇÐÊÈ tA$s% óOs9r& ö@è%r& ¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÐËÈ tA$s% w ÎTõÅz#xsè? $yJÎ/ àMÅ¡nS wur ÓÍ_ø)Ïdöè? ô`ÏB ÌøBr& #Zô£ãã ÇÐÌÈ $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym #sÎ) $uÉ)s9 $VJ»n=äñ ¼ã&s#tGs)sù tA$s% |Mù=tGs%r& $T¡øÿtR Op§Ï.y ÎötóÎ/ <§øÿtR ôs)©9 |M÷¥Å_ $\«øx© #[õ3R ÇÐÍÈ * tA$s% óOs9r& @è%r& y7©9 y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÐÎÈ tA$s% bÎ) y7çGø9r'y `tã ¥äóÓx« $ydy÷èt/ xsù ÓÍ_ö6Ås»|Áè? ( ôs% |Møón=t/ `ÏB ÎoTß©9 #Yõãã ÇÐÏÈ $s)n=sÜR$$sù #Ó¨Lym !#sÎ) !$us?r& @÷dr& >ptös% !$yJyèôÜtGó$# $ygn=÷dr& (#öqt/r'sù br& $yJèdqàÿÍhÒã #yy`uqsù $pkÏù #Y#yÉ` ßÌã br& Ùs)Zt ¼çmtB$s%r'sù ( tA$s% öqs9 |Mø¤Ï© |NõyGs9 Ïmøn=tã #\ô_r& ÇÐÐÈ tA$s% #x»yd ä-#tÏù ÓÍ_øt/ y7ÏZ÷t/ur 4 y7ã¤Îm;tRé'y È@Írù'tGÎ/ $tB óOs9 ìÏÜtGó¡n@ Ïmøn=¨æ #·ö9|¹ ÇÐÑÈ $¨Br& èpoYÏÿ¡¡9$# ôMtR%s3sù tûüÅ3»|¡yJÏ9 tbqè=yJ÷èt Îû Ìóst7ø9$# Nur'sù ÷br& $pkz:Ïãr& tb%x.ur Nèduä!#uur Ô7Î=¨B äè{ù't ¨@ä. >puZÏÿy $Y7óÁxî ÇÐÒÈ $¨Br&ur ÞO»n=äóø9$# tb%s3sù çn#uqt/r& Èû÷üuZÏB÷sãB !$uZϱysù br& $yJßgs)Ïdöã $YZ»uøóèÛ #\øÿà2ur ÇÑÉÈ !$tR÷ur'sù br& $yJßgs9Ïö7ã $yJåk5u #Zöyz çm÷ZÏiB Zo4qx.y z>tø%r&ur $YH÷qâ ÇÑÊÈ $¨Br&ur â#yÅgø:$# tb%s3sù Èû÷üyJ»n=äóÏ9 Èû÷üyJÏKt Îû ÏpuZÏyJø9$# c%x.ur ¼çmtFøtrB Ö\x. $yJßg©9 tb%x.ur $yJèdqç/r& $[sÎ=»|¹ y#ur'sù y7/u br& !$tóè=ö7t $yJèd£ä©r& %y`Ì÷tGó¡tur $yJèdu\x. ZpyJômu `ÏiB y7Îi/¢ 4 $tBur ¼çmçGù=yèsù ô`tã ÌøBr& 4 y7Ï9ºs ã@Írù's? $tB óOs9 ìÏÜó¡n@ Ïmøn=¨æ #Zö9|¹ ÇÑËÈ
Artinya: (60) dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada
muridnya". Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan
dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun". (61). Maka
tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan
ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (62). Maka
tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya:
"Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena
perjalanan kita ini". (63). Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala
kita mecari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa
(menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan
cara yan g aneh sekali". (64). Musa
berkata: "Itulah (tempat) yang kita
cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (65). lalu
mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami
berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami. (66). Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku
mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara
ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (67). Dia menjawab:
"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.(68).
dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (69). Musa berkata: "Insya
Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan
menentangmu dalam sesuatu urusanpun". (70). Dia berkata: "Jika kamu
mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun,
sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (71). Maka berjalanlah keduanya,
hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata:
"Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan
penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang
besar. (72). Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah berkata:
"Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".
(73). Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan
janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".(74).
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang
anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa
yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah
melakukan suatu yang mungkar".(75). Khidhr berkata: "Bukankah sudah
kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar
bersamaku?" (76). Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang
sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu,
Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku". (77). Maka keduanya
berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka
minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau
menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah
yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata:
"Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu". (78).
Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan
kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
(79). Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di
laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada
seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. (80). dan Adapun anak muda itu,
Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan
mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. (81). dan Kami
menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang
lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada
ibu bapaknya). (82). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim
di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua,
sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya
mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai
rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku
sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat
sabar terhadapnya.
3. Penjelasan Kata Kunci
a. Surah Al-Kahfi ayat 60
øÎ)ur ^$s% 4ÓyqãB çm9tFxÿÏ9 Iw ßytö/r& #_¨Lym x÷è=ö/r& yìyJôftB Ç`÷tóst7ø9$# ÷rr& zÓÅÓøBr& $Y7à)ãm ÇÏÉÈ
وَإِذْ (Dan)
ingatlah قَالَ مُوسَى (ketika
Musa berkata) Nabi Musa adalah anak lelaki Imran لِفَتَاهُ (kepada
muridnya) yang bernama Yusya bin Nun; ia selalu mengikutinya dan menjadi
pelayannya serta mengambil ilmu daripadanya, لَا أَبْرَحُ (“Aku
tidak akan berhenti) artinya, aku akan terus berjalan حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ (sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan) tempat
bertemunya Laut Romawi dan laut Persia dari sebelah Timurnya; yakni tempat
bertemunya kedua lautan tersebut أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا (atau aku akan
berjalan sampai bertahun-tahun)” selama bertahun-tahun untuk mencapainya
sekalipun jauh.
b.
Surah Al-Kahfi ayat 61
$£Jn=sù $tón=t/ yìyJøgxC $yJÎgÏZ÷t/ $uÅ¡nS $yJßgs?qãm xsªB$$sù ¼ã&s#Î6y Îû Ìóst7ø9$# $\/u| ÇÏÊÈ
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا (Maka tatkala
keduanya sampai ke pertemuan dua buah laut itu) yakni tempat bertemunya kedua
laut itu نَسِيَا
حُوتَهُمَا (mereka
berdua lupa akan ikannya) Yusya’ lupa membawanya ketika berangkat, Nabi Musa
pun lupa mengingatkannya فَاتَّخَذَ (maka ia
mengambil) yakni ikan itu melompat untuk mengambil سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ (jalannya ke laut itu) Allahlah yang menjadikan jalan itu,
yaitu dengan menjadikan baginya سَرَبًا (dalam
keadaan berlubang) seperti lubang bekasnya, yaitu lubang yang sangat panjang
dan tak berujung. Demikian itu karena Allah swt. menahan arus air demi untuk
ikan itu, lalu masuklah ikan itu ke dalamnya dengan meninggalkan bekas seperti
lubang dan tidak terhapus karena bekasnya membeku.
c.
Surah Al-Kahfi ayat 63
tA$s% |M÷uäur& øÎ) !$uZ÷urr& n<Î) Íot÷¢Á9$# ÎoTÎ*sù àMÅ¡nS |Nqçtø:$# !$tBur çmÏ^9|¡øSr& wÎ) ß`»sÜø¤±9$# ÷br& ¼çntä.ør& 4 xsªB$#ur ¼ã&s#Î6y Îû Ìóst7ø9$# $Y7pgx ÇÏÌÈ
قَالَ أَرَأَيْتَ (Muridnya
menjawab, “Tahukah kamu) ingatkah kamu إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ (tatkala kita mencari tempat berlindung di
batu tadi) yakni di tempat tersebut فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا
الشَّيْطَانُ (maka
sesungguhnya aku lupa ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku kecuali
setan) kemudian Dhamir Ha pada ayat ini dijelaskan oleh ayat berikutnya, yaitu
أَنْ أَذْكُرَهُ (untuk
mengingatnya) lafal ayat ini menjadi Badal Isytimal, artinya setan telah
melupakan aku untuk mengingatnya وَاتَّخَذَ (dan
ia mengambil) yakni ikan itu سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا (akan jalannya di laut dengan cara yang aneh sekali.)”
Lafal ‘Ajaban menjadi Maf’ul Tsani, artinya, Nabi Musa dan muridnya merasa
heran terhadap perihal ikan itu sebagaimana yang telah disebutkan di atas tadi.
tA$s% y7Ï9ºs $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£s?ö$$sù #n?tã $yJÏdÍ$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ
قَالَ أَرَأَيْتَ (Muridnya
menjawab, “Tahukah kamu) ingatkah kamu إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ (tatkala kita mencari tempat berlindung di
batu tadi) yakni di tempat tersebut فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا
الشَّيْطَانُ (maka
sesungguhnya aku lupa ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku kecuali
setan) kemudian Dhamir Ha pada ayat ini dijelaskan oleh ayat berikutnya, yaitu
أَنْ أَذْكُرَهُ (untuk
mengingatnya) lafal ayat ini menjadi Badal Isytimal, artinya setan telah
melupakan aku untuk mengingatnya وَاتَّخَذَ (dan
ia mengambil) yakni ikan itu سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا (akan jalannya di laut dengan cara yang aneh sekali.)”
Lafal ‘Ajaban menjadi Maf’ul Tsani, artinya, Nabi Musa dan muridnya merasa
heran terhadap perihal ikan itu sebagaimana yang telah disebutkan di atas tadi.
d.
Surah Al-Kahfi ayat 61
#yy`uqsù #Yö6tã ô`ÏiB !$tRÏ$t6Ïã çm»oY÷s?#uä ZpyJômu ô`ÏiB $tRÏZÏã çm»oY÷K¯=tæur `ÏB $¯Rà$©! $VJù=Ïã ÇÏÎÈ
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا (Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara
hamba-hamba Kami) yaitu Khidhir آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا (yang telah
Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami) yakni kenabian, menurut suatu
pendapat, dan menurut pendapat yang lain kewalian, pendapat yang kedua inilah
yang banyak dianut oleh para ulama
وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنّا (dan yang
telah Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami) dari Kami secara langsung عِلْمًا (ilmu). Lafal ‘عِلْمًا menjadi Maf’ul
Tsani, yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah-masalah kegaiban. Imam
Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis, bahwa pada suatu ketika Nabi Musa
berdiri berkhutbah di hadapan kaum Bani Israel. Lalu ada pertanyaan,
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ
Dalam ayat ini, diceritakan bahwa Nabi Musa
meminta kesediaan Khidir untuk
mengajarkan sebagian ilmu yang dianugerahkan Allah padanya, ilmu yang
bermanfaat dan amal sholih. Dalam ayat ini Allah menggambarkan secara jelas
sikap Nabi Musa kepada Khidir yang sangat menjaga kesopanan dan memohon agar
diperkenankan untuk mengikutinya, supaya Khidir memberikan sebagian ilmunya.
e.
Surah Al-Kahfi ayat 70.
tA$s%
ÈbÎ*sù
ÓÍ_tF÷èt7¨?$#
xsù
ÓÍ_ù=t«ó¡s?
`tã
>äóÓx«
#Ó¨Lym
y^Ï÷né&
y7s9
çm÷ZÏB
#[ø.Ï
ÇÐÉÈ
i.
Munasabah dan Asbabun Nuzul Surah Al-Kahfi
Ayat 60-82
Secara etimologi, munasabah
berarti al musyakalah dan al-mugharabah yang berarti saling menyerupai dan
mendekati. Selain itu berarti pula pesesuaian, hubungan, dan relevansi. Yaitu
hubungan persesuaian antara ayat sebelumnya atau sesudahnya.[28]atau
suratKisah Nabi Musa dan Nabi Khidir merupakan kisah yang terdapat dalam surah
Al-Kahfi ayat 60-82. Adapun munasabah dari surah Al-Kahfi ayat 60-82 ialah:
Ayat 61-62, dalam ayat ini, Allah
menceritakan tentang keteguhan dan kekerasan hati Musa untuk mencari hamb Allah
yang sholeh.keinginan Nabi Musa itu disebabkan oleh teguran Allah kepadanya
karena merasa dirinya paling pandai dan mulia. Akhirnya Allah menegurnya dengan
memberitahukan bahwa ada yang lebih pandai dan mulia dari Musa. Yaitu seorang
hamba yang bisa ditemui dipertemuan dua laut. Hal itu akhirnya yang memunculkan
keinganan keras Nabi Musa untuk mencari hamba yang sholih tersebut, sekaligus
juga akan menimba ilmu darinya. Maka setelah mendapat petunjuk dari Allah
tentang keberadaan hamba Allah yang sholih itu, berangkatlah musa bersama
muridnya Yusa’ bin nun.
Ayat 62-64, ayat ini menjelaskan
bahwa Nabi Musa meminta pembantunya untuk mengeluarkan bekal makan siang. Tapi
sang pembantu menjelaskaan bahwa bekal mereka tertinggal disaat mereka
merebahkan badan diatas batu besar. Itu semua karena setan yang melupakannya.
Lalu Musa menyadari itulah sebenarnya tempat yang mereka tuju.
Ayat 66-70, dalam ayat ini
menjelaskan bahwa Nabi Musa meminta izin kepada hamba yang shaleh untuk
mengikuti perjalanan hamba tersebut agar diajarkan kepadanya ilmu yang lurus.
Ayat 71-73, ayat ini menjelaskan
tentang kejadian pembicaraan sebagaimana dituliskan pada ayat-ayat sebelumnya,
dan masing-masing telah menyampaikan serta menyepakati kondisi dan syarat yang
dikehendaki. Maka berangkatlah keduanya yakni Musa dan hamba Allah yang shaleh
itu, hingga tatkala mereka menaiki perahu. Yakni hamba yang shaleh itu
melubanginya. Nabi Musa tidak sabar karena akan menenggelamkan perahu tersebut.
Hamba yng sholeh mengingatkan perjanjiannya dan Nabi Musa sadar akan
kesalahannya.
Ayat 74-75, ayat ini menjelaskan
tentang kelanjutan kisah Nabi Musa dan hamba sholeh tersebut dimana hamba yang
sholeh telah memeri maaf kepada Nabi Musa. Hingga tatkala mereka berjalan
keduanya berjumpa dengan seorang anak remaja yang belum dewasa maka hamba Allah
yang Sholeh itu membunuhnya. Nabi Musa kembali tidak sabar melihat perbuatan
hamba yang sholeh itu.
Ayat 76-77, ayat ini menjelaskan
bahwa Nabi Musa sadar bahwa dia telah melanggar perjanjiannya yang kedua
kalinya. Permintaan Musa kali ini masih di maafkan oleh hamba yang sholeh. Maka
setelah peristiwa pembunuhan keduanya kembali berjalan hingga keduanya sampai
pada penduduk suatu negeri. Mereka berdua meminta dijamu oleh penduduk negeri
tersebut akan tetapi pendduk negeri tersebut tidak mau menjamu mereka. Lalu
mereka pergi dan hamba yang sholeh itu mendaptakan dinding rumah yang roboh dan
ia menegakkannya. Lalu Musa berkata “jikala
engkau mau maka engkau bisa mengambil upah dari dinding rumah yang kau tegakkan
itu”. Hamba yang sholeh itu menilai sebagai pelanggaran Nabi Musa.
Ayat 78-79, menjelaskan bahwa Nabi
Musa telah melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali. Sudah cukup menjadi alasan
bagi hamba Allah untuk menyatakan perpisahan dengan Nabi Musa, namun demikian,
sebelum berpisah hamba yang sholeh itu memberitahukan kepada Musa tentang makna
dan tujuan dibalik peristiwa-peristiwa yang Nabi Musa tidak dapat sabar
terhadapnya.
Ayat 80-82, menjelaskan
alasan-alasan hamba Allah yang Sholeh mengenai perbuatan-perbuatannya yang Nabi
Musa tidak sabar terhadapnya. Dan itu semua dilakukan oleh hamba yang sholeh
bukan karena kemauannya sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan
yang Nabi Musa tidak sabar terhadapnya.
Adapun
asbabun nuzul dari surah Al-Kahfi ayat 60-82 ialah Asbab al-nuzul merupakan bentuk idhafah
dari rangkaian dua kata yaitu “asbab” dan “nuzul”. Secara
etimologi, asbab al-Nuzul adalah sebab-sebab yang melatar belakangi
terjadinya sesuatu. Meskipun segala sesuatu yang melatar belakangi terjadinya
sesuatu dapat disebut asbab al-nuzul, akan tetapi dalam pemakaiannya
ungkapan asbab al-nuzul khusus dapat dipergunakan untuk menyatakan
sebab-sebab yang melatar belakangi Al-Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud
yang khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadits.[29]
Secara istilah asbab al-nuzul artinya “sesuatu yang dengan sebabnya
turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, akan memberi
jawaban terhadap sebab itu, akan menerangkan hukumnya pada masa terjadinya
sebab tersebut”. Jadi asbab al-nuzul adalah sebab-sebab turunnya
sesuatu, dalam kategori ini diprioritaskan dalam ayat atau surah dari Allah
SWT, kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril AS , yang kemudian
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pedoman hidup.
Berdasarkan literatur yang ada,
tidak dijelaskan tentang adanya asbab al-nuzul dari surah Al-Kahfi ayat
60-82 ini, akan tetapi terdapat riwayat shahih yang menceritakan tentang kisah
Nabi Musa AS dan Khidir, dimana pada riwayat ini kita akan mengetahui hal yang
melatar belakangi keinginan Nabi Musa AS untuk belajar kepada Khidir. Dalam
sebuah Hadits Riwayat Bukhari, yang artinya: “Bahwasanya Musa AS (pada suatu
hari) berkhutbah dihadapan Bani Israil, kemudian ada orang bertanya kepada
beliau “siapakah manusia yang paling alim”. Beliau menjawab “Aku”. Maka Allah
Swt menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah Ta’ala.
Kemudian Allah SWT mewahyukan kepadanya, “Aku mempunyai seorang hamba ditempat
pertemuan dua laut yang lebih alim darimu, (H.R Bukhari(.
Terdapat juga di dalam Shahih
Muslim yang menjelaskan Asbabun nuzul surah Al-Kahfi ayat 60-82, yaitu:
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرْنَآبْنُ وَهْبٍ
اَخْبَرَنِي يونس عن ابن شهاب عن عبيدالله بن عبد في الله بن عتبة بن مسعودعن
عبدالله بن عباس انه تمارى هووالحربن قيس بن حصن في الفزاري في صاحب موسى عليه
السلام فقال بن عباسه هوفمرالخضربن ابي كعب يذكرالانصاري فدعاه ابن عباس فقال
ياأبآلطفيل هلم الينافاني قدتماريت اناوصاحبي هذامن بني صاحبي موسى الذي سأل
السبيل الي لقيه فهل سمعت رسول الله صلى الله عليه والسلام موسى بل شأنه فقال ابي
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بينماموسى في ملإإسرائيل اذاجاءه رجل فقال
له هل تعلم احدا منك قال موسى لافأوحى الله الى عبدن الخضرموسى السبيل إلى الله
لقيه فجعل الله له الحوت آية آية وقيل له إذافتقدت الحوت فارجع فانك ستلقاه
فسارموسى ماشء ان يسير ثم قال لفتاه غداءناآتنافقال فتى موسى حين ساله الغداء
أرايت إذ أوين الصخرة فإني الحوت نسيت وما انساينه في إلآلشيطان أن أذكره. فقال
موسى لفتاه ذالك ما كن نبغي فارتدا على آثارهماقصص فوجدا خضرا فكان من شانهماماقص
في كتابه الله إلا أن يونس قال فكان يتبع أثرالحوت في البحر
Artinya: “Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya; Telah mengabarkan
kepada kami Ibnu Wahab, Telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari
'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud dari 'Abdullah bin Abbas bahwa
dia dan Al Hurr bin Qais bin Hisn Al Fazari berdebat tentang sahabat Musa AS
yang bertanya tentang jalan untuk bertemu dengannya, Ibnu Abbas mengatakan
bahwa kawan yang dimaksud itu ialah Khidhir, sedangkan Hurr mengatakan bukan.
Kemudian lewatlah Ubay bin Ka'ab al-Anshari di depan mereka. Ibnu Abbas lalu
memanggilnya kemudian berkata, “Hai Abu Thufail kemarilah, sesungguhnya aku
berselisih pendapat dengan sahabatku ini siapa kawan Musa yang olehnya
ditanyakan mengenai jalan untuk menuju tempatnya itu, agar dapat bertemu
dengannya. Apakah kamu pernah mendengar hal-ihwalnya yang kamu dengar sendiri
dari Nabi SAW?” Ubay bin Ka'ab menjawab, “Ya, saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda: ketika Musa duduk bersama
beberapa orang Bani Israel, tiba-tiba seorang laki-laki datang dan bertanya
kepadanya (Musa), “Adakah seseorang yang lebih pandai daripada kamu?” Musa menjawab,
“Tidak”. Maka, Allah menurunkan wahyu kepada Musa, “Ada, yaitu hamba Kami
Khidhir. Musa bertanya kepada (Allah) bagaimana jalan ke sana. Maka, Allah
menjadikan ikan sebagai sebuah tanda baginya dan dikatakan kepadanya, Apabila
ikan itu hilang darimu, maka kembalilah (ke tempat di mana ikan itu hilang)
karena engkau akan bertemu dengannya (Khidhir).
Maka, Musa pun mengikuti jejak ikan laut dengan kehendak Allah. Lalu
Musa berkata kepada muridnya. Ayolah kita makan siang dulu, mana makanannya.
Murid Musa berkata kepadanya ketika dia menanyakan makan siang. Adakah kamu
melihat ikan itu ketika kita beristirahat di batu besar. Sesungguhnya aku lupa
kepada ikan itu dan tiada yang membuat aku lupa tentang hal itu, melainkan
setan. Musa berkata. Kalau demikian, memang itulah tempat yang kita cari. Lalu
keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Kemudian mereka bertemu dengan
Khidhir. Maka, apa yang terjadi pada mereka selanjutnya telah diceritakan Allah
Azza wa Jalla di dalam Kitab-Nya." Hanya saja Yunus berkata dengan lafazh,
“lalu Musa mengikuti jejak ikan Hiu di laut”.
Berdasarkan kisah di atas, dapat
diketaui bahwa hal yang melatar belakangi tekad kuat Nabi Musa AS untuk belajar
kepada Khidir adalah perintah Allah SWT, yang merupakan teguran atas kesalahan
yang menjadikan pelajaran sekaligus petunjuk bagi Nabi Musa AS.
5.
Tafsir Surah
Al-Kahfi Ayat 60-82
a. Tafsir
Ayat 60
Pada ayat ini menjelaskan tentang
Nabi Musa AS. Melaksanakan perintah Allah SWT yaitu untuk mencari guru. Nabi
Musa AS berjalan meninggalkan kampung di iringi oleh seorang anak muda.[30]
Yang selalu menjadi pengawal atau pengiringnya kemana dia pergi. Maka setelah
lama berjalan belum sampai juga pada yang dituju, tempat pertemuan dua lautan
berkatalah Musa pada anak muda itu bahwa perjalanan ini akan beliau teruskan,
terus berjalan dan baru dia akan berhenti apabila ia telah sampai di atas
pertemuan dua laut itu. “atau aku akan berjalan bertahun-tahun” (ujung ayat
60).
Artinya, beliau akan terus
berjalan, dan berjalan terus sampai bertemu tempat yang dituju. Jika belum
bertemu, beliau masih bersedia melanjutkan perjalanan, mencari guru itu. Kalau
sebelum ini Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW. untuk mengingat dan
mengingatkan kisah Adam AS. dan Iblis, maka disini Allah berfirman bahwa: “dan
ingatlah serta ingatkan pula peristiwa ketika Nabi Musa putra Imran berkata
kepada pembantu dan muridnya, “aku tidak akan berhenti berjalan hingga sampai
kepertemuan dua laut, atau aku akan berjalan sampai bertahun- tahun tanpa
henti”.
Dalam ayat ini, Allah SWT
menceritakan betapa gigihnya tekad Nabi Musa AS untuk sampai ke tempat
bertemunya dua laut. Beberapa tahun dan sampai kapanpun perjalanan itu harus
ditempuh, tidak menjadi soal baginya, asal tempat itu ditemukan dan yang dicari
didapatkan. Penyebab Nabi Musa AS begitu gigih untuk mencari tempat itu adalah
beliau mendapat teguran dan perintah dari Allah SWT.
Dengan kisah ini menjadi jelas
bahwa sekalipun Musa adalah seorang Nabi benar-benar yang diutus oleh Allah SWT
kepada Bani Israil sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, bahkan dia
adalah seorang yang mendapat gelar Kalimullah. Namun dia diperintahkan supaya
pergi kepada khidir untuk belajar hal-hal yang tidak diketahui. Hal ini
merupakan bahwa sikap tawadhu’ adalah lebih baik daripada takabbur.[31]
b.
Tafsir Ayat 61
Disebutkan dalam beberapa tafsir
bahwa sesampainya didekat pertemuan dua laut itu mereka menghentikan
perjalanan, dan Musa pun tertidur karena sangat lelah. Yusa’ merasa penat dan
berlepas lelah pula. Ikan yang ada dalam jinjingan itu, salah satu tafsir, ada
yang menyebutnya ikan asin, ikan panggang dalam tafsir lain. Ikan yang ada
dalam j injingan yang dibawa oleh Yusya’ tiba-tiba dengan tidak disangka
melompat dari dalam jinjingan. Dia hidup kembali. “maka ikan itupun mengambil
jalannya menembus ke laut” (ujung ayat 61).[32]
Alangkah serasinya penetapan waktu
dan tempat pertemuan kedua tokoh itu dengan pertemuan dua laut yakni laut air
dan laut ilmu, dan dengan berbekal ikan yang dinamai oleh Al-Quran Nun serta
digunakan-Nya untuk bersumpah bersama dengan pena dan apa yang ditulisnya.
(Q.S. Nun/Al-Qalam 68: 1). Pendapat ulama berbeda-beda mengenai makna nasiyâ
hûtahumâ yang artinya niscaya mereka berdua lupa akan ikan mereka, ada yang
berpendapat bahwa pembantu Nabi Musa AS lupa membawa ikan tersebut setelah
mereka beristirahat disuatu tempat, dan Nabi Musa AS sendiri lupa mengingatkan
pembantunya. Ada juga yang berpendapat bahwa pembantunya lupa menceritakan
ihwal ikan yang dilihatnya mencebur kelaut.[33]
Dalam ayat ini, Allah SWT menceritakan bahwa setelah Nabi Musa AS dan Yusa’
sampai kepermukaan dua laut, mereka berhenti, tetapi tidak tahu bahwa tempat
itulah yang harus dituju. Sebab Allah SWT tidak memberi tahu dengan pasti
tempat itu. Hanya saja Allah SWT memberi petunjuk ketika ditanya oleh Nabi Musa
AS sebelum berangkat.
c.
Tafsir Ayat 63
Alangkah indah susunan bahasa Arab
ini begitu pula artinya. Bawalah kepada kita, bukan bawalah kepadaku. Mari kita
akan makan berdua. “sesungguhnya kita telah bertemu perjalanan ini penuh kepenatan”
(ujung ayat 62). Penat, lelah dan lapar pula, mari makan dahulu.[34]
Perjalanan Nabi Musa AS dengan pembantunya itu agaknya sudah cukup jauh walau
belum sampai sehari semalam, terbukti dari ayat ini bahwa mereka baru merasa
lapar sehingga Nabi Musa AS minta untuk disiapkan bekal makanan mereka. Hal
tersebut dapat ditarik dari kesan kata ini yang menunjuk ke perjalanan mereka.
Ayat
tersebut melanjutkan kisahnya dengan menyatakan bahwa mereka berdua
meninggalkan tempat kediaman mereka, melakukan perjalanan dan mencari tokoh
yang didambakan oleh Nabi Musa AS itu. Maka tatkala mereka berdua telah menjauh
dari tempat yang seharusnya mereka tuju, berkatalah Musa AS kepada
pembantunnya, “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasakan
keletihan akibat perjalanan kita” pada kali ini atau hari ini.[35]
Dalam
ayat ini Allah Swt mengungkapkan betapa luhurnya budi pekerti Nabi Musa AS
dalam bersikap pada muridnya. Apa yang dibawa oleh muridnya sebagai bekal
merupakan milik bersama, bukan hanya milik sendiri. Betapa halus perasaannya
ketika menyadari bahwa letih dan lapar tidak hanya dirasakan oleh dirinya
sendiri tetapi juga dirasakan orang lain.
d.
Tafsir Ayat 64
Yusya‟ bin Nun menjawab permintaan
Musa: “tidaklah engkau perhatikan tak kala kita berhenti di batu besar tadi”
(pangkal ayat 63). Ketika itu kita berhenti berlepas lelah. “Maka aku lupa ikan
itu”. Lupa aku mengatakan kepada tuan apa yang terjadi. “Dan tidak ada yang
melupakan daku mengingatnya melainkan syaitan jua” aku telah khilaf, aku telah
lupa, syaitan telah menyebabkan daku lupa. Kata-kata seperti ini menurut
susunan bahasa berarti mau bertanggung jawab. “Lalu dia mengambil jalannya ke
laut dengan cara yang aneh” (ujung ayat 63). Ikan asin yang telah mati, atau
ikan panggang meluncur dari dalam jinjingan, merayap ke atas tanah lalu dengan
cepat dia meluncur ke dalam laut dengan sangat menakjubkan.[36]
Dia yakni pembantunya, berkata
dengan menggambarkan keheranannya, “Tahukah engkau wahai guru yang mulia bahwa
tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesugguhnya aku lupa
ikan itu dan tidak ada yang menjadikan aku melupakan kecuali syaitan”. Pembantu
Nabi Musa AS melanjutkan penjelasannya bahwa: “yang kumaksud adalah lupa untuk
mengingat hal ihwalnya, dan ia yakni ikan itu mengambil jalannya ke laut.
Sungguh ajaib sekali, bagaimana aku lupa, atau sungguh ajaib sekali bagaimana
dia bisa mencebur kelaut!”. Musa berkata, “itulah tempat atau tanda yang kita
cari”. Lalu keduannya kembali, mengikuti jejak mereka semula.[37]
e. Tafsir
Ayat 65
Musa berkata: “Itulah dia yang
kita kehendaki”. (pangkal ayat 64). Musa berkata dengan gembira, artinya di
tempat meluncurnya ikan tersebut rupanya kita mesti berhenti. Di sanalah
pertemuan dua laut tersebut. “Maka keduanya kembali mengikuti jejak mereka
semula” (ujung ayat 64) artinya mereka kembali ke tempat tadi, dengan melalui
jejak-jejak mereka sendiri yang telah terkesan di pasir, sehingga mudah sampai
sesaat.[38]
Nabi Musa AS dalam hal ini kembali ke tempat semula mengikuti rute
perjalanannya langkah demi langkah, mereka berjalan di wilayah pasir
menyelusuri pantai, tanpa tanda-tanda, sehingga menelusuri bekas-bekas kaki
mereka yang masih berbekas dan dapat terlihat dipasir.
Mendengar jawaban seperti di atas,
Nabi Musa AS menyebutnya dengan gembira seraya berkata, “itulah tempat yang
kita cari. Ditempat itu, kita akan bertemu dengan orang yang kita cari, yaitu
Khidir.” Merekapun kembali mengikuti jejak semula, untuk mendapatkan batu yang
mereka jadikan tempat berlindung. Menurut Biqa’i, firman Allah SWT. dalam ayat
ini menunjukkan bahwa mereka itu berjalan di padang pasir, sehingga tidak ada
tanda-tanda, akan tetapi ada jejak mereka. Maka ada kemungkinan bahwa yang
dimaksud firman Allah SWT tentang pertemuan dua laut itu ialah pertemuan air
tawar (sungai nil) dengan air asin (laut tengah) yaitu kota Dimyat atau Rasyid
di Negeri Mesir.
f.
Tafsir Ayat 66
Setelah Nabi Musa AS dan
pengiringnya, Yusya’ bin Nun sampai kembali ditempat ikan itu meluncur masuk ke
laut tadi, “maka mereka dapatilah seorang hamba diantara hamba kami yang telah
kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami”. (pangkal ayat 65). Bertemu
seseorang diantara banyak hamba-hamba Allah yang dianugrahi rahmat dan rahmat
paling tinggi yang diberikan Allah kepada hamba-Nya ialah rahmat ma’rifat,
yaitu kenal akan Allah dekat dengan Tuhan, sehingga hidup mereka berbeda dengan
orang lain. Sedangkan iman dan taqwa kepada Allah saja sudah menjadi rahmat
abadi bagi seorang hamba Allah, kononlah kalau diberi pula dia ilmu yang
langsung diterima dari Allah, yang dijelaskan di sini: “dan telah kami ajarkan
kepadanya ilmu yang langsung dari kami” (ujung ayat 65) Ilmu ladunni.[39]
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa
beliau dianugerahi rahmat dan ilmu. Dengan demikian yang dimaksud dengan rahmat
pada ayat di atas adalah “apa yang tampak dari kerahmatan hamba Allah SWT yang
shaleh itu”. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu adalah “ilmu batin yang
tersembunyi, yang pasti hal tersebut adalah milik dan berada di sisi Allah
semata- mata”.[40]
Banyak ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah salah seorang Nabi
yang bernama Al-Khidir. Kata Al-Khidir bermakna hijau.
Nabi SAW bersabda bahwa penamaan
itu disebabkan karena suatu ketika ia duduk di bulu yang berwarna putih,
tiba-tiba warnanya berubah hijau (H.R Bukhari melalui Abu Hurairah). Sepertinya
penamaan serta warna sebagai simbol keberkatan yang menyertai hamba Allah yang
istimewa itu. Dalam ayat ini, dikisahkan bahwa setelah Nabi Musa AS dan Yusya’
menulusuri kembali jalan yang dilalui tadi, mereka sampai pada batu yang pernah
dijadikan tempat beristirahat. Di tempat ini mereka bertemu dengan seorang yang
berselimut kain putih bersih. Orang itu disebut Khidir, sedangkan nama aslinya
adalah Balya bin Mulkan.
g. Tafsir
Ayat 67
Suatu pernyataan yang disusun
sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa Musa telah siap menjadi murid dan
mengakui dihadapan guru (Khidhir) bahwa banyak hal yang dia belum mengerti.
Kelebihan ilmu guru itu haraplah diterangkan kepadanya, sampai dia mengerti
sebagai murid yang setia.[41]
Beliau tidak menuntut untuk diajar tetapi permintaannya diajukan dalam bentuk
pernyataan, “bolehkah aku mengikutimu?” selanjutnya beliau menamai
pengajaran yang diharapkkannya itu sebagai ikutan yakni dia menjadikan diri
beliau sebagai pengikut dan pelajar.
Beliau juga menggaris bawahi
kegunaan pengajaran itu untuk dirinya secara pribadi yakni untuk petunjuk
baginya. Disisi lain, beliau mengisyaratkan keluasan ilmu hamba yang shaleh itu
sehingga Nabi Musa AS hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagaian dari
apa yang telah diajarkan kepadanya. Dalam konteks itu, Nabi Musa AS tidak
menyatakan ”apa yang engkau ketahui” wahai hamba Allah, karena beliau
sepenuhnya sadar bahwa ilmu pastilah bersumber dari satu sumber yakni Allah
yang maha mengetahui.[42]
h.
Tafsir
Ayat 67
Dia menjawab: “sesungguhnya engkau
tidak akan sanggup” jika engkau hendak menyerahkan diri menjadi muridku dan
berjalan “bersamaku” dan mengikuti aku kemana aku pergi, tidaklah engkau “akan
bersabar” (ayat 67). Dengan perkataan seperti ini sang guru pun nampaknya dalam
mula pertemuan telah mengenal akan jiwa muridnya itu..[43]
Thahir Ibn Asyur memahami jawaban
hamba Allah yang saleh itu bukan dalam arti memberi tahu Nabi Musa AS tentang
ketidaksanggupannya, tetapi menuntunnya untuk berhati-hati karena seandainya
jawaban itu merupakan pemberitaan ketidaksanggupan kepada Nabi Musa AS tentu
saja hamba Allah itu tidak akan menerima diskusi, dan Nabi Musa AS pun tidak
menjawab bahwa Insya’ Allah dia akan bersabar. Ucapan hamba Allah ini memberi
isyarat bahwa seorang pendidik hendaknya menuntun peserta didiknya dan memberi
tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapai dalam menuntut ilmu, bahkan
mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika pendidik mengetahui bahwa
potensi peserta didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan
dipelajarinya.[44]
i.
Tafsir Ayat 68
Khidir menjelaskan lagi, sebagai
sindiran halus atau sikap jiwa murid yang dikenalnya itu, dengan katanya: “dan
apakah engkau akan dapat sabar atas perkara yang belum cukup pengetahuanmu
tentang itu?” (ayat 68). Dengan secara halus tabiat pengeras Musa selama ini
telah mendapat teguran yang pertama. Namun Nur Nubuwwat yang telah memancar
dari dalam rohani Musa pun tidaklah hendak mundur karena teguran yang demikian.
Bahkan beliau berjanji bahwa beliau akan sabar. Beliau akan dapat menahan diri
menerima bimbingan dari guru.[45]
j.
Tafsir Ayat 69
Pada ayat ini menunjukkan bahwa
Nabi Musa AS telah mengaku akan patuh. Tetapi bagaimana seorang manusia yang
juga menyadari kelemahan dirinya dan kebesaran Tuhannya, diucapkannya kata
dengan Insya Allah! dan sudah berjanji akan bersabar ditambahinya lagi. Janji
seorang murid di hadapan guru yang mursyid. “dan aku tidak akan durhaka
kepada engkau dalam hal apapun”. (ujung ayat 69).
Nabi Musa AS mengatakan bahwa ia
akan patuh terhadap segala yang diajarkan dan akan ku simak dengan baik-baik,
bahkan segala yang guru perintahkan selama aku belajar tidaklah akan aku bantah
atau aku durhakai. Kata-kata ini adalah teladan yang baik bagi seorang murid
didalam mengkhitmati gurunya. Ahli-ahli tasawuf pun mengambil sikap Nabi Musa
AS terhadap guru ini untuk menjadi teladan khidmat murid kepada guru.[46]
k.
Tafsir Ayat 70
Setelah menerima janji yang
demikian dari Nabi Musa AS tenanglah hati sang guru menerima muridnya. Dan
syarat yang dikemukakan gurunya ini pun rupanya disanggupi oleh Musa. Dengan
demikian terdapatlah persetujuan kedua belah pihak guru dan murid dan sejak itu
Musa telah menjadi murid Khidir dan mereka telah berjalan bersama. Dengan
demikian, larangan untuk tidak bertanya apapun tentang sesuatu sebelum Khidir
menerangkannya itu bukan datang dari hamba yang shaleh itu melainkan itu adalah
bentuk konsekuensi dari keikutsertaan bersamanya. Perhatikanlah ucapannya:
“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang
sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu”. Dengan ucapan ini, hamba
yang shaleh telah mengisyaratkan adanya hal-hal yang aneh atau bertentangan
dengan pengetahuan Nabi Musa AS yang akan terjadi dalam perjalanannya itu, yang
akan memberatkan Nabi Musa AS.[47]
L. Tafsir
Ayat 71
Maka berjalanlah keduanya”.
(pangkal ayat 71). Nampaklah dalam jalan cerita ini bahwa Musa bersama dengan
gurunya telah melanjutkan perjalanan. “Sehingga apabila keduanya telah naik
kesebuah perahu, dilobanginya (perahu) itu”. Mulailah Musa menyaksikan lautan
dan akan pergi keseberang sana, lalu menumpang pada perahu itu sehingga air
bisa saja menggerogoh masuk, yang niscaya akan membawa perahu karam. Lupalah
Musa akan janjinya tidak akan bertanya kalau melihat suatu yang ganjil. Bawaan
darinya yang asli keluar lagi dengan tidak di sadarinya. Lalu dia bertanya
”apakah sebab engkau lobangi dia yang akan menyebabkan tenggelam
penumpang-penumpangnya?” artinya bukankah dengan pelobangan itu berarti engkau
hendak menyebabkan penumpangnya tenggelam semua? termasuk engkau dan aku?
Menembus sebuah perahu sedang berlayar, bagaimanapun salah satu perbuatan yang
tidak dapat dimengerti. Meskipun dia telah berjanji tidak akan bertanya,
terdorong juga dia bertanya dan langsung ditanyakan apa yang terasa dihatinya,
dengan tidak ada kesabaran. “sesungguhnya engkau telah berbuat suatu perbuatan
yang salah” (ujung ayat 71).[48]
Ayat ini mengisyaratkan bahwa
begitu mereka naik ke perahu, hamba Allah itu segera melubangi perahu. Ini
dipahami dari kata idza/ tatkala pada redaksi ayat di atas. Hal ini
mengandung penekanan yang mengesankan bahwa begitu naik ke perahu terjadi juga
pelubangannnya. Ini mengisyaratkan bahwa sejak dini, bahkan sebelum menaiki
perahu hamba yang shaleh itu telah mengetahui apa yang akan terjadi jika ia
tidak melubanginya, dan bahwa pelubangan itu adalah tekadnya sejak semula.[49]
m. Tafsir
Ayat 72
Baru pertama kali engkau melihat
yang ganjil dari pemandanganmu engkau sudah tidak sabar bukankah telah aku
katakan semula bahwa engkau tidak akan sabar menurut denganku. Sekarang hal
tersebut telah terbukti. Khidir berkata mengingatkan Nabi Musa AS akan syarat
yang telah mereka sepakati, “bukankah aku telah berkata, sesungguhnya engkau
hai Musa sekali-kali tidak akan mampu sabar ikut dalam perjalanan bersamaku?”
Nabi Musa AS sadar akan kesalahannya, maka dia berkata. Janganlah engkau
menghukum aku, yakni maafkanlah aku atas keterlanjuran yang disebabkan oleh
kelupaanku terhadap janji yang telah kuberikan kepadamu, dan janganlah engkau
bebani aku dalam urusanku, yakni dalam keinginan dan tekadku mengikutimu dengan
kesulitan yang tidak dapat kupikul.[50]
n. Tafsir
Ayat 73
“Maka insaflah Musa akan dirinya,
meskipun hati kecilnya belum merasa puas. Dia berkata: “Janganlah engkau
salahkan daku karena kelupaanku itu”. (pangkal ayat 73). Di sini Musa mengakui
terus-terang bahwa dia lupa. Dia lupa akan janjinya. Karena baru sekali ini dia
melihat hal sedahsyat itu. Disangkanya tidak akan sampai demikian. Oleh karena
itu satu kelupaan dia pun memohon maaf. Dan berkata: “dan janganlah engkau
bebani aku karena kesalahanku ini dengan suatu kesukaran.” (ujung ayat 73).
Artinya bahwa aku (Nabi Musa as)
mengakui akan kesalahanku ini. Sebabnya hanya karena lupa semata-mata. Aku
minta maaf, jangan engkau segera murka kepadaku, sehingga aku tidak boleh lagi
mengikuti engkau dalam perjalananmu. Karena kalau demikian halnya, beratlah
rasanya bebanku.[51]
o. Tafsir
Ayat 74
“Maka keduanya pun meneruskan
perjalanannya” (pangkal ayat 74). Maka disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas
bahwa perjalanan itu mereka teruskan, sehingga berjumpa dengan anak-anak muda
bermain-main. Diantara anak muda yang sedang banyak bermain bersuka ria itu,
kelihatan oleh guru itu seorang di antara mereka. “Sehingga apabila bertemu
seorang anak muda, dibunuhnya (anak muda) itu”. Rupanya setelah kelihatan
olehnya anak itu, kemudian dengan tidak banyak tanya, anak tersebut dibunuhnya
hingga meninggal.
Tentu Nabi Musa tercengang dan
tidak dapat menahan diri melihat perbuatan yang di luar garis. “diapun
bertanya: Adakah patut engkau bunuh satu jiwa yang masih bersih, satu jiwa anak
kecil yang masih suci dan belum berdosa”. Karena hukuman bunuh hanya dapat
dilakukan kepada seseorang yang membunuh orang lain, sebagai hutang nyawa bayar
nyawa. Dan dengan terus terang Musa menyatakan tantangan atas perbuatan itu dan
katanya: “sungguh engkau telah berbuat suatu perbuatan yang munkar”. Suatu
perbuatan bengis yang tidak akan diterima oleh siapapun yang ada rasa keadilan
dan kebenaran. (ujung ayat 74).[52]
Pada ayat ini Nabi Musa AS agaknya
tidak lupa lagi, tetapi benar-benar sadar, karena besarnya peristiwa yang
dilakukan hamba Allah itu. Kali ini Nabi Musa AS tidak sekedar menilainya
melakukan imran/ kesalahan besar sebagaimana ketika terjadi pembocoran
perahu yang dinilai dapat menenggelamkan kapal dan mematikan penumpang (ayat
71), tetapi kali ini beliau menamai) نكر ) nukran
yakni satu kemungkaran yang besar. Ini karena di sana baru dikhawatirkan
hilangnya nyawa, sedang disini pembunuhan benar-benar terjadi. Disisi lain,
teguran hamba Allah yang saleh itu juga berada. Kali ini ditambah dengan kata laka/
kepadamu sedang pada kesalahan Musa AS yang pertama tidak disertai dengan kata
tersebut.
Penambahan itu mengesankan
penekanan tersendiri, dan ini sungguh pada tempatnya karena untuk kedua kalinya
Nabi Musa AS tidak memenuhi perjanjian.[53]
Kata “ghulam” bisa dipahami dalam arti remaja, walaupun tidak selalu
demikian ia bisa juga bisa sekedar menunjuk kepada seorang pria. Atas dasar itu
apabila kita memahami sebagai “remaja yang belum dewasa” maka kata zakiyyah berarti
suci karena dia belum dewasa dan belum dibebani satu tanggung jawab keagamaan,
sehingga kesalahannya tidak dinilai dosa. Tetapi jika kata ghulam dipahami
dalam arti seorang pria yang telah baligh, maka kata zakiyah berarti
tidak berdosa akibat dia tidak melakukan suatu tindakan yang mengakibatkan dia
dibunuh, misalnya dia telah membunuh manusia tanpa haq. Akan tetapi memahaminya
dalam arti pertama lebih sesuai dengan spontanitas Nabi Musa as itu.
p. Tafsir
Ayat 75
Pada ayat ini seorang hamba Allah
yang saleh berkata, “Dia menjawab: bukankah sudah aku katakan padamu” (pangkal
ayat 75). Sejak semula engkau menyatakan ingin bergabung denganku telah aku
katakan: “Bahwa sesungguhnya engkau bersamaku tidaklah akan sabar”.[54]
q. Tafsir
Ayat 76
Maka teringatlah Musa kembali akan
janjinya sejak semula, lalu dia berkata, “jika aku bertanya lagi kepada engkau
tentang sesuatu sesudah ini, maka janganlah engkau berteman dengan daku lagi”.
(pangkal ayat 76). Artinya tahu sendirilah Nabi Musa bahwa kalau dia berbuat
kesalahan memungkiri janjinya sekali lagi, sudahlah sepatutnya jika dia tidak
dibawa serta lagi. Uzur yang diberikan guru itu kepadanya sampai tiga kali
sudahlah sampai pada cukup.
Nabi Musa as sadar ia telah
melakukan dua kali kesalahan, tetapi tekadnya yang kuat untuk meraih ma’rifat
mendorongnya untuk memohon agar diberi kesempatan terakhir. Untuk itu dia
berkata, “jika aku bertanya kepadamu wahai saudara dan temanku tentang sesuatu
sesudah kali ini, maka janganlah engkau menjadikan aku temanmu dalam perjalanan
ini lagi, yakni aku rela tidak kecil hati dan dapat mengerti jika engkau tidak
menemaniku lagi. Sesungguhnya engkau telah mancapai batas yang sangat wajar
dalam memberikan uzur kepadaku karena telah dua kali akau melanggar dan engkau
telah dua kali memaafkan aku.[55]
r.
Tafsir Ayat 77
“Maka keduanya pun meneruskan
perjalanan, sehingga sampailah keduanya kepada penduduk suatu kampung”.
(pangkal ayat 77). Mungkin sekali perjalanan tersebut sudahlah sangat jauh,
sedang persediaan makanan tidak ada lagi. Sebab itu keduanya sudah sangat
lapar. “mereka keduanya meminta diberi jamuan makan kepada penduduk negeri
itu”. Berbuat baiklah kepada kami, hai isi kampung. Karena kami adalah musafir
tengah dalam perjalanan jauh, bermurah hatilah memberi kami makanan, semoga
Allah SWT menggantinya yang berlipat ganda bagi tuan di sini. “Tetapi mereka
tidak mau menjamu keduanya”. Kasar sekali budi penduduk negeri itu, bakhil dan
kedekut. Sampai hati membiarkan musafir kelaparan. “Lalu keduanya mendapati di
kampung itu sebuah dinding yang hendak roboh”. Dinding dari pada bekas sebuah
rumah: ”Lalu ditegakkannya”.[56]
Artinya dinding rumah yang hendak
roboh di kampung yang penduduknya bakhil itu dengan segera ditampilkan oleh
guru tersebut, sehingga tegak kembali. Heran lagi Musa melihat perbuatan
gurunya itu, kita sudah lapar, orang tidak ada yang sudi menjamu. Berkata dia:
“jika engkau mau bolehlah engkau mengambil upah dari perbuatan itu” (ujung ayat
77). Jika engkau minta upahnya, sekurangnya dengan makanan untuk kita berdua,
hilanglah kelaparan kita. Musa telah lupa lagi dengan janjinya.[57]
Permintaan Nabi Musa as kali ini
masih dikabulkan juga oleh hamba yang shaleh itu. Maka setelah peristiwa
pembunuhan itu keduanya berjalan lagi untuk kedua kalinya, hingga tatkala
keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, maka mereka berdua meminta agar
diberi makan oleh penduduknya yakni penduduk negeri itu tetapi mereka enggan
menjadikan mereka berdua tamu, maka segera keduanya meninggalkan mereka dan
tidak lama setelah meninggalkannya keduanya mendapatkan disana yakni dalam
negeri itu dinding sebuah rumah yang akan hampir roboh, maka dia hamba Allah
yang shaleh itu menopang dan menegakkannya. Dia yakni Nabi Musa as berkata,
“jikalau engkau mau, niscaya engkau mengambil atasnya upah yakni atas perbaikan
dinding sehingga dengan upah itu kita dapat membeli makanan”.[58]
Ayat ini mengisyaratkan betapa
buruknya pelakuan penduduk negeri itu. Isyarat tersebut dirasakan melalui
penyebutan secara tegas kata-kata penduduk negeri, padahal dalam banyak ayat,
Al-Qur’an hanya menggunakan kata negeri untuk menunjuk penduduknya. Selanjutnya
permintaan yang mereka tolak bukanlah suatu yang mahal atau kebutuhan sekunder
tetapi makanan untuk dimakan. Selanjutnya ayat tersebut menegaskan sekali lagi
bahwa mereka menolak untuk menjadikan mereka berdua tamu, padahal menjamu tamu
bahkan memberi tempat istirahat dan tidur adalah sesuatu yang lumrah apalagi
bagi pendatang. Sebenarnya kali ini Nabi Musa as tidak secara tegas bertanya,
tetapi memberi saran. Kendati demikian, karena dalam saran tersebut terdapat
semacam unsur pertanyaan apakah diterima atau tidak, maka ini pun telah dinilai
sebagai pelanggaran oleh hamba Allah itu. Saran Nabi Musa as itu lahir setelah
beliau melihat dua kenyataan yang bertolak belakang. Penduduk negeri yang
enggan menjamu, kendati demikian hamba Allah itu memperbaiki salah satu dinding
di negeri itu.[59]
s. Tafsir
Ayat 78
Dia berkata: “inilah perpisahan
diantara aku dan engkau” (pangkal ayat 78). Selesailah sampai di sini. Kita
sudah mesti berpisah. Engkau diikat oleh janjimu sendiri, jika bertanya sekali
lagi, aku tidak akan membawamu serta lagi dalam perjalanan ini. Tetapi
sungguhpun demikian tidaklah akan aku biarkan saja pertanyaanmu itu tidak
dijawab. “Aku akan beritakan kepada engkau arti perbuatan yang engkau
terhadapnya tidak dapat sabar”. (ujung ayat 78).[60]Telah
tiga kali Nabi Musa as melakukan pelanggaran. Kini cukup sudah alasan bagi
hamba Allah itu untuk menyatakan perpisahan. Karena itu dia berkata, “inilah
masa atau pelanggaran yang menjadikan perpisahan antara aku dengan mu wahai
Musa, apalagi engkau sendiri telah menyatakan kesediaanmu untuk kutinggal jika
engkau melanggar sekali lagi. Namun demikian sebelum berpisah aku akan
memberitahukan kepadamu informasi yang pasti tentang makna dan tujuan dibalik
apa, yakni peristiwa-peristiwa yang engkau tidak dapat sabar terhadapnya”.[61]
t.
Tafsir Ayat 79
Mulailah dengan tenang guru itu
menafsirkan rahasia dari ketiga perbuatannya itu, “adapun perahu itu adalah
kepunyaan orang-orang miskin yang berusaha di laut”. (pangkal ayat 79).
Artinya, bahwa perahu yang aku rusakkan atau aku beri cacat itu adalah kepunyaan
nelayan atau penangkap-penangkap ikan. Mereka sebagaimana kebanyakan nelayan
adalah orang-orang miskin. Mencari ikan sekedar dapat akan dimakan. “maka aku
hendak memberi cacat padanya”, aku bocorkan perahu itu. “karena di belakang
mereka ada seorang raja yang mengambil tiap-tiap perahu dengan jalan
sewenang-wenang”. (ujung ayat 79). Raja tersebut sangat zalim. Kalau kelihatan
olehnya ada perahu orang yang bagus, diambil dan dikuasainya saja dengan tidak
membayar harganya, dan tidak ada orang yang berani membuka mulut apabila raja
itu telah bertindak. Tetapi kalau dilihatnya ada sebuah perahu yang rusak, atau
buruk tidak berkena dihatinya ditinggalkannya saja. Maka kalau perahu itu aku
rusakkan, raja tidak akan merampoknya lagi dan nelayan-nelayan yang miskin
dapatlah memperbaiki perahu mereka kembali.[62]
Hamba Allah yang shaleh itu
seakan-akan melanjutkan dan berkata, dengan demikian apa yang kubocorkan itu
bukan bertujuan menenggelamkan penumpangnya, tetapi justru menjadi sebab
terpeliharanya hak-hak orang miskin”. Memang, melakukan kemudharatan yang kecil
dapat dibenarkan guna menghindari kemudharatan yang lebih besar. Firman-Nya: masâkîn
ya’ malûna fi al-bahri orang-orang miskin yang bekerja di laut, dijadikan
dasar hukum oleh Imam Syafi‟i bahwa seorang miskin keadaannya lebih baik dari
seorang fakir, karena yang miskin masih memiliki modal untuk mencari rezeki,
berbeda dengan orang yang fakir.[63]
u.
Tafsir Ayat 80
“Adapun anak kecil itu, adalah
kedua orang tuanya dua orang yang beriman” (pangkal ayat 80). Maka tersebutlah
di dalam suatu Riwayat dari Ibnu Abbas yang diterimanya pula dari Ubay bin
Ka’ab bahwa Nabi Muhammad Saw pernah mengatakan bahwa sudah nampak tanda-tanda
bahwa anak itu mulai melangkah dalam langkah kekafiran, padahal kedua
orangtuannya adalah orang yang shalih “maka khawatirlah kita bahwa dia akan
menyusahkan keduannya dengan kedurhakaan dan kekufuran”. (ujung ayat 80).
Khidir bertindak membunuh anak itu
sebelum kedurhakaan dan kekufurannya berlarut-larut menyusahkan orang tuanya
dengan kedurhakaan dan kekufuran.[64]
Kata thugyânan diambil dari kata “thagâ “ yang pada mulanya
berarti melampaui batas. Dalam hal ayat di atas adalah kedurhakaan yang luar biasa.
Banyak ulama memahami pelaku kedurhakaan dan kekufuran yang dikhawatirkan
disini adalah kedua orang tua anak itu.
Ada juga yang memahami pelakunya adalah anak durhaka itu.[65]
v.
Tafsir Ayat 81
“Maka inginlah kita supaya diganti
untuk keduanya oleh Tuhan dengan (anak) yang lebih baik dari dia” (pangkal ayat
81). Sangatlah kita mengharapkan semoga Allah akan segera menggantikan anak
yang telah mati itu dengan anak yang shalih yang akan menenangkan hati kedua
orang tuanya yang beriman dan shalih itu. Yang lebih baik dari dia. “tentang
kebaktian dan lebih dekat tentang hubungan keluarga”. (ujung ayat 81).
Ditunjukkan dalam ayat ini harapan Khidir tentang anak pengganti yang akan
lahir itu mempunyai keistimewaan. Menurut tafsiran Ibnu Juraij, seketika anak itu
dibunuh Khidir, ibunya sedang mengandung. Dan setelah anak itu lahir, ternyata
menjadi seorang anak muslim yang shalih. Maka dengan membunuhnya, Kami yakni
aku dengan niat di dalam dada dan Allah SWT dengan kuasanya menghendaki,
kiranya Tuhan mereka berdua yakni Allah SWT disembah oleh ibu bapak anak itu
mengganti bagi mereka berdua dengan anak lain yang lebih baik darinya, yakni
anak yang aku bunuh itu. Lebih baik dalam hal kesucian yakni sikap
keberagamaannya dan lebih dekat yakni lebih mantap dalam hal kasih sayang dan
bakti kepada kedua orang tuanya.[66]
w. Tafsir
Ayat 82
“Dan adapun dinding itu adalah dia
kepunyaan dua orang anak yatim di kampung itu”. (pangkal ayat 82). Keterangan
pertama ini memberikan isyarat pada kita bahwa dinding itu adalah bangunan pusaka
dari seorang ayah yang telah meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak
yatim. Dan sebagai kita ketahui, anak-anak disebut yatim ialah sebelum mereka
dewasa. Maka ketika Musa dan gurunya itu melewati kampung tersebut mereka masih
kecil-kecil. “Dan di bawahnya ada harta terpendam kepunyaan keduanya”. Kanzun
kita artikan sebagai harta yang terpendam. Yaitu harta kekayaan yang
terdiri dari emas dan perak yang biasa dikuburkan oleh orang yang telah
meninggal di dalam tanah, kalau digali oleh orang yang datang kemudian akan
bertemu dan menjadi kekayaan mereka. “dan kedua orang tua mereka adalah orang
yang shalih”. Merekalah yang menguburkan harta terpendam itu. Maka kasihanlah
kepada kedua anak yatim itu jika harta terpendam pusaka orang tua mereka tidak
sampai ketangan mereka, kerena jauh tertimbun dalam tanah, karena tanah tempat
dia terpendam dihimpit lagi oleh dinding. “Maka menghendakilah Tuhan supaya
engkau sampailah kiranya kedewasaan mereka, dan mereka usahakan mengeluarkan
harta, terpendam kepunyaan mereka”. Artinya karena dinding itu telah aku
tegakkan kembali, sehingga tidak sampai runtuh menimbun tanah tempat
menguburkan harta itu, menurut kehendak Tuhan ialah supaya anak itu dapat
menunggunya dengan baik sampai mereka dewasa.
Kalau mereka telah dewasa biar
mereka ambil sendiri. Dan semua ini adalah, “sebagai suatu rahmat dari Tuhan
engkau”. Maka aku menegakkan dinding yang hampir roboh itu dari Tuhan untuk
kedua anak yatim yang kedua orang tuanya shalih itu. “dan tidaklah aku
melakukan itu atas kehandakku sendiri”, baik ketika aku membocorkan perahu,
atau seketika aku membunuh anak muda itu, ataupun aku menegakkan kembali
dinding yang hampir roboh. Semua itu adalah aku kerjakan atas perintah Tuhan
yang disampaikan langsung kepadaku. “itulah dia arti dari hal-hal yang engkau
tidak sanggup bersabar atasnya itu”. (ujung ayat 82) Sudah tentu Musa tidak
sanggup bersabar, karena semua hal itu ganjil baginya, meskipun dia telah
mengikat janji akan sabar. Dan cerita di dalam Al-Qur’an tidak bersambung lagi,
karena yang akan diambil hanya isinya, yaitu bahwa ada manusia yang diberi
pengetahuan langsung dengan kelebihan sendiri. Ada kelebihan pada Khidir itu
tidak ada pada Musa, dan ada pula kelebihan pada Musa yang tak ada pada Khidir.
Begitu juga Nabi yang lain.[67]
6. Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat
60-82
Surah
Al-Kahfi merupakan wahyu Al-Qur’an ke-68 yang turun setelah surah Al-Ghasyiyah
dan sebelum surah Asy-Syura. surah Al-Kahfi merupakan surah ke-18 dan juz
ke-15. Surah Al-Kahfi terdiri dari 110 ayat, yang menurut mayoritas ulama
semuanya turun sekaligus sebelum
Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Surah ini termasuk golongan surah
Makiyyah. Surah ini dinamai Al-Kahfi artinya “Gua” dan Ashabul Kahfi
yang artinya “penghuni-penguni gua”.
Kedua
nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9-26 nama
tersebut diambil dari kisah sekelompok pemuda yang menyingkir dari penguasa
pada zamannya, lalu tertidur di dalam gua selama tiga ratus tahun lebih.
Pokok-pokok isi surah Al-Kahfi diantaranya yaitu: keimanan, hukum-hukum,
kisah-kisah dan lain-lain. Kisah adalah unsur terpokok pada surah ini. Pada
awal surah Al-Kahfi terdapat kisah Ashabul Kahfi, kemudian kisah dua pemilik
kebun, selanjutnya terdapat isyarat tentang kisah Adam As dan Iblis. Pada
pertengahan surah diuraikan kisah Nabi Musa As dengan hamba Allah yang shaleh,
dan pada akhirnya adalah kisah Dzulkarnain.
Adapun
dalam penelitian ini, surah kajian yang penulis pilih adalah surah Al-Kahfi
ayat 60-82 dengan merujuk pada tafsir karya tokoh-tokoh Indonesia, seperti
Tafsir Al-Azhar Juz’ 15 karya Hamka, Tafsir al-Misbah Jilid 5 karya M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Maraghi juz’ 16 karya Mustafa Al-Maraghi serta Al-Qur’an dan
terjemahannya karya Kementerian Agama R.I.
7.
Penelitian Relevan
Penelitian yang relevan dapat
membantu peneliti untuk mengetahui apakah persoalan yang diteliti ini telah
diteliti orang lain, selain itu juga dapat membantu peneliti untuk mengkaji
persoalan yang hampir bersamaan dengan yang peneliti kaji, berdasarkan studi
pendahuluan terdapat penelitian yang hampir sama dengan penelitian ini.
1.
Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Yasir
yang berjudul “Nilai-Nilai Motivasi Belajar yang Terkandung Dalam Kisah Nabi
Musa dan Khidir” (Kajian Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 60-82). Metode
yang digunakan adalah hasil penelitian nilai-nilai motivasi belajar yang
terkandung dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir Surah Al-Kahfi ayat 60-82
meliputi:
a.
Adanya motivasi belajar Nabi Musa kepada Nabi
Khidir.
b.
Terdapat peran kompetensi professional guru
terhadap motivasi belajar siswa.
c.
Metode pemberian hukuman sebagai alat
meningkatkan motivasi belajar.
d.
Adanya fungsi evaluasi belajar terhadap
peningkatan motivasi belajar siswa.
2.
Penelitian yang di lakukan oleh Ahmad Syaikhu
yang berjudul “Proses Pembelajaran dalam Al-Qur’an” (Telaah Kisah Nabi Musa dan
Khidir dalam Q.S Al-Kahfi Ayat 60-82. Menunjukkan bahwa dalam kisah Nabi Musa
dan Khidir terkandung proses pembelajaran yaitu sumber ilmu dan motivasi
mencari ilmu mencari guru yang berkualitas, strategi pembelajaran Nabi Musa dan
Khidir, proses pembelajaran Nabi Musa dan Khidir, serta evaluasi pembelajaran
Khidir kepada Musa. Dari beberapa kajian relevan di atas, penulis memiliki perbedaan
dalam penulisan skripsi ini, yaitu sebagai berikut:
a.
Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Yasir
yang berjudul “Nilai-Nilai Motivasi Belajar yang Terkandung Dalam Kisah Nabi
Musa dan Nabi Khidir (Kajian Tafsir Al-Quran Surah Al-Kahfi Ayat 60-82)”. Perbedaan
penulis dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Yasir adalah penulis lebih
mengkaji mengenai pengembangan integritas keperibadian pada diri anak usia 6-12
tahun. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Yasir adalah lebih
mengkaji Nilai-Nilai Motivasi belajar. Adapun persamaan dari penelitian ini
ialah sama-sama mengkaji Surah Al-Kahfi ayat 60-82.
b.
Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Syaikhu
yang berjudul “Proses pembelajaran dalam Al-Qur’an (Telaah Kisah Nabi Musa dan
Khidir Dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82)” Perbedaan penulis dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Syaikhu adalah penulis mengkaji mengenai pengembangan
integritas melalui metode pendidikan yang terdapat dalam kisah Nabi Khidir dan
Nabi Musa dalam mengembangkan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun.
Dari beberapa penelitin diatas,
maka jelaslah bahwa tulisan skripsi yang membahas tentang pengembangan
integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun berdasarkan kajian Al-Qur’an surah
Al-Kahfi ayat 60-82 belumlah ada yang membahasnya. Dari hal inilah penulis
mencoba memaparkan dan menganalisis tentang pengembangan integritas kepribadian
anak usia 6-12 tahun berdasarkan kajian Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 60-82.
[1] Popi Sopiatin, Sohari Sahrani, Psikologi Belajar Dalam Perspektif Islam, (Bogor: Ghalia Indonesia,
2011), hlm. 87.
[2]
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 24.
[3]
Ropiqo Zulaikho Ritonga, “Pengembangan Kepribadian Islam Santri di Pondok
Pesantren Darussalam Parmeraan Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara”, Skripsi (Padangsidimpuan: IAIN
Padangsidimpuan, 2018), hlm. 13.
[4] Cut
Ismalia Benazir, “Integritas Seoang Pemimpin” Makalah, (-[[‘ , di akses 24
Februari 2019 pukul 12.50 WIB).
[5] Burhanuddin Abdullah, Budaya Kerja Perbankan (Jakarta: LP3ES, 2006), hlm. 5-6.
[6]
Achmad Maulana, dkk. Kamus Ilmiah dengan
EYD dan Pembentukan Istilah Serta Akronim Bahasa Indonesia (Yogyakarta:
Absolut, 2009),hlm. 173.
[7]
Sujana WS, The Power Of Heart Kiat-Kiat
Mengoptimalkan Hati Agar Menjadi Pribadi Luar Biasa, (Jakarta: Zikrul
Hakim, 2014), hlm. 169.
[8] Simorangkir, Etika,
Bisnis, Jabatan, Dan Perbankan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2013), hlm. 3.
[9]
Nasaruddin Salam, Integritas dan Motivasi,
(Dalam Pelatihan Dasar Calon Non-PNS Tetap Unhas Tahun 2019).
[10] Habibi Mora Wildan, Integritas Intelektual Muslim, Skripsi,
(Padangsidimpuan: IAIN Padangsidimpuan, 2018), Hlm. 49.
[11] Habibi Mora Wildan, Integritas Intelektual Muslim..., Hlm. 48.
[12]
Habibi Mora Wildan, “Integritas Intelektual Muslim Menurut Al-Qur’an Surah
As-Saff Ayat 2-3”, Skripsi,
(Padangsidimpuan: IAIN Padangsidimpuan, 2018), hlm. 48-57.
[13] Nur Khayati, “Pengaruh Etika, Perilaku, Dan
Kepribadian Terhadap Integritas Guru,” Jurnal
Pendidikan Dan Kebudayaan, Volume. 1, Nomor 3, Desember 2016.
[14] Abu
Ahmadi, Munawar Sholeh, Psikologi
Perkembangan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 155-159.
[15]
Dede Rahmat Hidayat, Psikologi
Kepribadian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2015), hlm. 6.
[16]
Baharuddin, Psikologi Pendidikan,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 209-210.
[17]
Muin Ghazali dan Nurseha Ghazal, Deteksi
Kepribadian, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2016), hlm. 20.
[18] Sudarwan Danim, Perkembangan
Peserta Didik (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 54.
[19] Popi sopiatin, sohari sahrani, Psikologi Belajar Dalam Perspektif Islam…hlm. 88-90.
[20] Abu Ahmadi, Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan…, hlm. 169.
[21]
Imam Subqi, “Pola Komunikasi Keagamaan Dalam Membentuk Kepribadian Anak” Inject, Interdisciplinary Journal of
Comunication, Vol. 1, No. 2, Desember 2016:165-180
[22] Cristiani
Hari Soetjiningsih, Perkembangan Anak,
(Jakarta: Prenada Media Group, 2012), hlm. 248-249.
[23]
Cristiani Hari Soetijingsih, Perkembangan
Anak…, hlm. 264
[24]M.
Salim Muhyasin, Sejarah Al-Qur’an (Jakarta, Akademika Pressindo,
2005), hlm. 1.
[25]Abdurrahman
Dahlan, Ushul Fiqh (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 4.
[26]Rosidah
Anwar, Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 33.
[27]Abuddin
Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru dan Murid: Study Pemikiran
Tasawuf Al-Ghazali ( Jakarta: Raja Grafindo, 2001), hlm. 61.
[28]
Lusi Suryani, “Adab Interaksi Pendidik
Dan Pesera Dididk Perspektif Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 60-82”,
Skripsi, (Lampung: IAIN Raden Intan Lampung, 2017), hlm. 79.
[29]Rosidah
Anwar, Ulumul Qur’an…, hlm. 60.
[30]Hamka,
Tafsir Al-Azhar Juzu’ 15 ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1992), hlm. 227.
[31]Ahmad
Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi (Semarang: Penerbit Tohaputra
Semarang, 1988), Cet. Ke-1, hlm. 330.
[32]Hamka.
Tafsir al-Azhar (akarta: Pustaka Panjimas, 1992), hlm. 228.
[33]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 336
[34]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 229.
[35]M.Quraish
Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 337.
[36]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 229.
[37]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 338-340.
[38]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm.229.
[39]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm, 231.
[41]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 232
[42]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 344.
[43]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 233.
[44]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 344-345
[45]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 233.
[46]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 233.
[47]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 347.
[48]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 234.
[49]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 348-349.
[50]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 348.
[51]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 235.
[52]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 236.
[53]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 350.
[54]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 237.
[55]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 351.
[56]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 237.
[57]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 237.
[58]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 352.
[59]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 352.
[60]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 237.
[61]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 353.
[62]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 239.
[63]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah…, hlm. 353.
[64]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 239.
[65]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al- Misbah…, hlm. 355.
[66]M.
Quraish Shihab, Tafsir Al- Misbah…, hlm. 355.
[67]Hamka,
Tafsir Al-Azhar…, hlm. 240-241.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar