Jumat, 01 Juli 2022

BAB I “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.

 “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir dimaksudkan untuk menjadi petunjuk bagi seluruh manusia (hudan linnas) sampai akhir zaman.  Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an Q.s Thaha: 50 ialah:

tA$s% $uZš/u üÏ%©!$# 4sÜôãr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)ù=yz §NèO 3yyd ÇÎÉÈ  

Artinya:  "Tuhan Kami ialah (tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.[1]

 

 Di dalam Al-Qur’an terkandung nilai-nilai yang luhur yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Allah SWT maupun hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.[2] Al-Qur’an diakui oleh orang-orang Islam sebagai firman Allah SWT, dan sebagai dasar hukum bagi mereka. Secara umum ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’an terdiri dari dua prinsip yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan (aqidah) dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (syariah).[3] Al-Qur’an merupakan himpunan wahyu Tuhan yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril.[4]

 Diantara kemurahan Allah SWT terhadap manusia adalah bahwa Allah tidak saja menganugerahkan fitrah yang suci yang dapat membimbing manusia kepada kebaikan. Akan tetapi, Allah juga mengutus seorang Rasul dari masa kemasa yang membawa kitab sebagai pedoman petunjuk hidup, mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT, mengerjakan perintahnya, dan meninggalkan segala larangannya. Sebagaimana firman Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6:

$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ  

Artinya:  Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

 

 Kehadiran Al-Qur’an yang demikian itu telah memberi pengaruh yang luar biasa bagi lahirnya berbagai konsep yang diperlukan manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Menurut Shalah Al-Khalidy, kisah-kisah dalam Al-Qur’an membuktikan kepada manusia bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah benar wahyu dari Allah SWT bukan berdasarkan hawa nafsunya. Selain itu juga memberikan pelajaran kepada manusia untuk mengikuti segala kebaikan dan menjauhi segala keburukan yang terdapat dalam kisah-kisah tersebut.[5]

Setiap kegiatan yang dilakukan tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai atau suatu kegiatan dapat selesai sesuai yang diinginkan. Sebagaimana dikutip Abuddin Nata, bahwa sebagian para ahli mengatakan bahwa “Tujuan pendidikan Islam adalah membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan ketulusan”.[6] Pendidikan dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian. Mendidik tidak hanya dari segi kognitif, tetapi harus pula dari segi afektif dan psikomotorik. terlebih untuk afektif sangat diperlukan seperti integritas pada kepribadian murid.[7] Dalam melaksanakan pendidikan Islam, peran pendidik sangat penting, karena ia bertanggungjawab dalam menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang yang berilmu pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik.

Dalam Islam ada istilah pendidikan yang sudah sering kita dengar yaitu istilah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Istilah  tarbiyah merupakan proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik baik secara fisik, psikis, maupun spiritual. Istilah ta’lim mengarah kepada aspek kognitif, seperti dalam penyampaian materi pendidikan. Adapun istilah ta’dib yaitu sebagai upaya dalam pembentukan adab, tingkah laku, ataupun tata krama. Dari istilah ta’dib maka betapa pentingnya pembentukan adab pada diri anak (peserta didik) yaitu dengan mengembangkan integritas yang ada pada diri seorang anak.

 Seorang murid haruslah memiliki integritas sejak dini, supaya seorang murid tidak hanya cerdas secara kognitif, namun memiliki integritas pada kepribadiannya. Adapun pengertian integritas adalah kesamaan antara hati, ucapan, dan tindakan, yaitu yang bermakna kejujuran. Integritas erat kaitannya dengan moral dan etika.  Anak pada usia 6-12 tahun disebut sebagai masa anak sekolah dasar. Pada usia ini, dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga. Anak bergaul dengan teman sebaya. Guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia 6-12 tahun keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal tersebut berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence).[8] Allah SWT memberikan gambaran dalam bentuk kisah hidup. Salah satu kisah yang menggambarkan akan hal tersebut adalah kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa pada surah Al-Kahfi ayat 60-82. Saat ini integritas kepribadian pada diri anak (murid) sudah sangat rendah. Mereka sudah kurang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Contoh kecilnya adalah mencontek. Perilaku mencontek termasuk tingkah laku tidak terpuji. Mencontek saat ini sudah mengakar pada diri anak (murid). Ketika merasa tidak mampu untuk mengerjakan suatu tugas, mereka dengan mudahnya mencontek hasil kerja teman sekelasnya. Hal ini sangat memprihatinkan.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai pengembangan integritas kepribadian anak (Murid) yang terdapat dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82. Atas dasar permasalahan tersebut, maka surah Al-Kahfi ayat 60-82 perlu digali dan diteliti lebih dalam dengan mengutip beberapa penafsiran untuk mendapatkan pemahaman tentang peranan pendidik dalam membimbing anak didiknya sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Dengan demikian penulis akan mengkaji lebih dalam lagi mengenai skripsi ini dengan judul “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.

B.     Fokus Masalah

Untuk memfokuskan penelitian ini, maka perlu dibuat fokus masalah atau batasan masalah yang bertujuan agar penelitian ini lebih terarah. Adapun yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah mengenai pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun yang terdapat pada surah Al-Kahfi ayat 60-82.

C.    Batasan Istilah

Untuk menghindari kesalah pahaman mengenai penelitian ini, penulis memberikan penjelasan singkat dari istilah dalam penelitian ini meliputi:

1.    Pengembangan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengembangan adalah proses, atau  perbuatan mengembangkan.[9] Pengembangan adalah kajian secara sistematik untuk merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program-program, proses dan hasil-hasil pembelajaran yang harus memenuhi kriteria-kriteria konsistensi dan keefektifan secara internal.[10] Pengembangan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengembangan integritas kepribadian anak yang dilakukan oleh Nabi Khidir kepada muridnya Nabi Musa.

 

2.      Integritas  

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian Integritas adalah mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kewibawaan dan kejujuran.[11] Orang yang memiliki integritas adalah orang yang pada dirinya terpadu dan bersatu antara kata dan perbuatan, yaitu matang secara teori dan praktik.[12] Integritas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keteguhan Nabi Musa dalam mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir.

3.      Kepribadian

Kepribadian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakannnya dari orang lain.[13] Kepribadian adalah gabungan dari sifat-sifat dan watak manusia untuk menanamkan tingkah laku pada diri manusia, dan di aplikasikan sebagai akhlak baik dan buruk manusia, untuk dapat berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.[14] Kepribadian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yaitu tentang kepribadian Nabi Musa.

4.      Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam, ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi) Al-Qur’an berasal dari Bahasa Arab berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang ulang. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW dengan menggunakan bahasa arab yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas. Yang diyakini oleh ummat Islam sebagai Kalamullah (Firman Allah) dan sebagai pedoman hidup bagi umat Islam. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an membuktikan kepada manusia bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah benar wahyu dari Allah SWT bukan berdasarkan hawa nafsunya. Selain itu juga memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengikuti segala kebaikan dan menjauhi segala larangan yang ada dalam kisah-kisah tersebut.

D.    Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Apa relevansi pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dengan surah Al-Kahfi ayat 60-82?

2.      Bagaimana pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dalam kajian Al-Qur’an surh Al-Kahfi ayat 60-82?

 

E.     Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah:

1.      Untuk mengetahui relevansi pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dalam suarah Al-Kahfi ayat 60-82.

2.      Untuk mengetahui bagaimana pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun yang terkandung  dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82.

F.        Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Manfaat secara praktis

Adapun manfaat penelitian ini secara praktis ialah untuk menambah khazanah keilmuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai sumber informasi serta konstribusi peneliti bagi pembaca, dan khususnya guru untuk memberikan masukan dan sebagai bahan untuk mempermudah guru dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun berdasarkan kajian Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 60-82.

 

 

 

2.      Manfaat secara teoritis

a.       Sebagai perbandingan dan acuan kepada mahasiswa yang nantinya berminat meneliti dengan bahasan pokok masalah yang sama.

b.      Sebagai salah satu syarat bagi peneliti untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

G.    Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini dibagi kepada 5 (lima) bab sebagai berikut:

Bab pertama pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, dimana peneliti mengemukakan fenomena yang terjadi yang menjadi masalah, fokus masalah, dan rumusan masalah yaitu hal-hal yang menjadi permasalahan di dalam pengembangan integritas yang terkandung dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82, tujuan penelitian sebagai bahan masukan bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam lainnya, manfaat penelitian, batasan istilah dan sistematika pembahasan.

Bab kedua membahas tinjauan pustaka yang terdiri dari pengembangan integritas, kepribadian anak usia 6-12 tahun, surah Al-Kahfi, tafsir surah Al-Kahfi, dan penelitian relevan.

Bab ketiga metodologi penelitian yang terdiri dari lokasi dan waktu peneelitian merupakan sasaran menjadi peneliti, jenis dan metode penelitian, subjek penelitian, sumber data dan tekhnik peengumpulan data, pengecekan keabsahan data, dan teknik pengelolaan analisis data.

Bab keempat hasil penelitian yang terdiri dari temuan umum dan temuan khusus, analisis hasil penelitian, dan keterbatasan penelitian pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82.

Bab kelima penutup yang terdiri dari kesimpulan dari seluruh pembahasan dan dijadikan dasar untuk memberikan saran bagi objek penelitian.


 

$

 

 



[1] Al-Jumanatul Ali, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali), 2004, hlm. 50

[2] Faisar Ananda Arfa, dkk, Metode Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Gravindo Persada, 2016), hlm. 63.

[3] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 40.

[4] Khoirun Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 153.

[5] Shalah Al-Khalidy, (Kisah-Kisah Al-Qur’an Pelajaran Dari Orang-Orang Terdahulu, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm. 5.

[6] Abuddin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an…, hlm. 166

[7] Abuddin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), hlm. 3.

 

[8] Pupu Saeful Rahmat, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara 2018), hlm. 66

[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,  Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Balai Pustaka: Jakarta, 2001),  hlm. 223.

[10] Ahmad Nizar Rangkuti, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitati, Kualitatif, PTK dan Penelitian Pengembangan (Bandung: Citapustaka Media, 2016),  hlm. 238.

[11] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,  Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga...,hlm 231.

[12] Habibi Mora Wildan, “Integritas Intelektual Muslim Menurut Al-Qur’an Surah As-Saff Ayat 2-3” Skripsi (Padangsidimpuan: IAIN Padangsidimpuan, 2018), hlm. 46.

[13] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Balai Pustaka: Jakarta, 2002), hlm. 895.

[14] Ropiqo zulaikho Ritonga, “Pengembangan Kepribadian Islam Santri di Pondok Pesantren  Darussalam Parmeraan Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara” Skripsi (Padangsidimpuan: IAIN Padangsidimpuan, 2018), hlm. 29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.

  “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”. BAB II KAJIAN TEORI A.     Pengemba...