“Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat
Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya yang terakhir yaitu Nabi
Muhammad SAW. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir dimaksudkan untuk menjadi
petunjuk bagi seluruh manusia (hudan
linnas) sampai akhir zaman. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an Q.s
Thaha: 50 ialah:
tA$s% $uZ/u üÏ%©!$# 4sÜôãr& ¨@ä. >äóÓx« ¼çms)ù=yz §NèO 3yyd ÇÎÉÈ
Artinya: "Tuhan Kami ialah (tuhan) yang telah
memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya
petunjuk.[1]
Di dalam Al-Qur’an terkandung nilai-nilai yang
luhur yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Allah
SWT maupun hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya dan hubungan manusia
dengan alam sekitarnya.[2] Al-Qur’an diakui oleh
orang-orang Islam sebagai firman Allah SWT, dan sebagai dasar hukum bagi
mereka. Secara umum ajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’an
terdiri dari dua prinsip yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan
(aqidah) dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari (syariah).[3] Al-Qur’an
merupakan himpunan wahyu Tuhan yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW dengan
perantara Malaikat Jibril.[4]
Diantara kemurahan Allah SWT terhadap manusia
adalah bahwa Allah tidak saja menganugerahkan fitrah yang suci yang dapat
membimbing manusia kepada kebaikan. Akan tetapi, Allah juga mengutus seorang
Rasul dari masa kemasa yang membawa kitab sebagai pedoman petunjuk hidup,
mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT, mengerjakan perintahnya, dan meninggalkan
segala larangannya. Sebagaimana firman
Allah dalam surah At-Tahrim ayat 6:
$pkr'¯»t
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#þqè%
ö/ä3|¡àÿRr&
ö/ä3Î=÷dr&ur
#Y$tR
$ydßqè%ur
â¨$¨Z9$#
äou$yfÏtø:$#ur
$pkön=tæ
îps3Í´¯»n=tB
ÔâxÏî
×#yÏ©
w
tbqÝÁ÷èt
©!$#
!$tB
öNèdttBr&
tbqè=yèøÿtur
$tB
tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Kehadiran Al-Qur’an yang demikian itu telah
memberi pengaruh yang luar biasa bagi lahirnya berbagai konsep yang diperlukan
manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Menurut Shalah Al-Khalidy, kisah-kisah
dalam Al-Qur’an membuktikan kepada manusia bahwa apa yang dibawa oleh Nabi
Muhammad SAW adalah benar wahyu dari Allah SWT bukan berdasarkan hawa nafsunya.
Selain itu juga memberikan pelajaran kepada manusia
untuk mengikuti segala kebaikan dan menjauhi segala keburukan yang terdapat
dalam kisah-kisah tersebut.[5]
Setiap kegiatan yang dilakukan tentu ada
tujuan yang ingin dicapai. Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai atau suatu
kegiatan dapat selesai sesuai yang diinginkan. Sebagaimana dikutip Abuddin
Nata, bahwa sebagian para ahli mengatakan bahwa “Tujuan pendidikan Islam adalah
membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah yakni
melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh
kesadaran dan ketulusan”.[6] Pendidikan dapat
mengembangkan seluruh aspek kepribadian. Mendidik tidak hanya dari segi
kognitif, tetapi harus pula dari segi afektif dan psikomotorik. terlebih untuk
afektif sangat diperlukan seperti integritas pada kepribadian murid.[7] Dalam
melaksanakan pendidikan Islam, peran pendidik sangat penting, karena ia
bertanggungjawab dalam menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya
Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang yang berilmu
pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik.
Dalam Islam ada istilah
pendidikan yang sudah sering kita dengar yaitu istilah tarbiyah, ta’lim, dan
ta’dib. Istilah tarbiyah merupakan
proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik baik
secara fisik, psikis, maupun spiritual. Istilah ta’lim mengarah kepada aspek
kognitif, seperti dalam penyampaian materi pendidikan. Adapun istilah ta’dib
yaitu sebagai upaya dalam pembentukan adab, tingkah laku, ataupun tata krama.
Dari istilah ta’dib maka betapa pentingnya pembentukan adab pada diri anak
(peserta didik) yaitu dengan mengembangkan integritas yang ada pada diri seorang
anak.
Seorang murid haruslah memiliki integritas sejak dini, supaya
seorang murid tidak hanya cerdas secara kognitif, namun memiliki integritas
pada kepribadiannya. Adapun
pengertian integritas adalah kesamaan antara hati, ucapan, dan tindakan, yaitu yang
bermakna kejujuran. Integritas erat kaitannya dengan moral dan etika. Anak pada usia 6-12
tahun disebut sebagai masa anak sekolah dasar. Pada usia ini, dunia sosial anak
meluas keluar dari dunia keluarga. Anak bergaul dengan teman sebaya. Guru, dan
orang dewasa lainnya. Pada usia 6-12 tahun keingintahuan menjadi sangat kuat
dan hal tersebut berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence).[8]
Allah SWT memberikan gambaran dalam bentuk kisah hidup. Salah satu kisah
yang menggambarkan akan hal tersebut adalah kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa
pada surah Al-Kahfi ayat 60-82. Saat
ini integritas kepribadian pada diri anak (murid) sudah sangat rendah. Mereka
sudah kurang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Contoh kecilnya adalah mencontek.
Perilaku mencontek termasuk tingkah laku tidak terpuji. Mencontek saat ini
sudah mengakar pada diri anak (murid). Ketika merasa tidak mampu untuk mengerjakan suatu tugas, mereka
dengan mudahnya mencontek
hasil kerja teman sekelasnya. Hal ini sangat memprihatinkan.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk
mengkaji lebih dalam mengenai pengembangan integritas kepribadian anak (Murid) yang
terdapat dalam surah Al-Kahfi ayat 60-82. Atas dasar permasalahan tersebut,
maka surah Al-Kahfi ayat 60-82 perlu digali dan diteliti lebih dalam dengan
mengutip beberapa penafsiran untuk mendapatkan pemahaman tentang peranan
pendidik dalam membimbing anak didiknya sehingga tujuan pendidikan dapat
tercapai. Dengan demikian penulis akan mengkaji lebih dalam lagi mengenai
skripsi ini dengan judul “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan
Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.
B.
Fokus
Masalah
Untuk memfokuskan penelitian ini, maka
perlu dibuat fokus masalah atau batasan masalah yang bertujuan agar penelitian
ini lebih terarah. Adapun yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini
adalah mengenai pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun yang
terdapat pada surah Al-Kahfi ayat 60-82.
C.
Batasan
Istilah
Untuk menghindari kesalah pahaman mengenai
penelitian ini, penulis memberikan penjelasan singkat dari istilah dalam
penelitian ini meliputi:
1. Pengembangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengembangan
adalah proses, atau perbuatan
mengembangkan.[9]
Pengembangan adalah kajian secara sistematik untuk
merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program-program, proses dan
hasil-hasil pembelajaran yang harus memenuhi kriteria-kriteria konsistensi dan
keefektifan secara internal.[10]
Pengembangan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengembangan integritas
kepribadian anak yang dilakukan oleh Nabi Khidir kepada muridnya Nabi Musa.
2. Integritas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian Integritas
adalah mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan
kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan
kewibawaan dan kejujuran.[11] Orang
yang memiliki integritas adalah orang yang pada dirinya terpadu dan bersatu
antara kata dan perbuatan, yaitu matang secara teori dan praktik.[12]
Integritas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keteguhan Nabi Musa dalam
mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir.
3. Kepribadian
Kepribadian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah
sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakannnya dari orang
lain.[13] Kepribadian
adalah gabungan dari sifat-sifat dan watak manusia untuk menanamkan tingkah
laku pada diri manusia, dan di aplikasikan sebagai akhlak baik dan buruk
manusia, untuk dapat berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.[14] Kepribadian yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah yaitu tentang kepribadian Nabi Musa.
4. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam, ditinjau dari
segi kebahasaan (etimologi) Al-Qur’an berasal dari Bahasa Arab berarti bacaan
atau sesuatu yang dibaca berulang ulang. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam
yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW dengan
menggunakan bahasa arab yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri
dengan surah An-Nas. Yang diyakini oleh
ummat Islam sebagai Kalamullah
(Firman Allah) dan sebagai pedoman hidup bagi umat Islam. Kisah-kisah dalam
Al-Qur’an membuktikan kepada manusia bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW adalah benar wahyu dari Allah SWT bukan berdasarkan hawa nafsunya. Selain
itu juga memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengikuti segala kebaikan dan
menjauhi segala larangan yang ada dalam kisah-kisah tersebut.
D.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apa
relevansi pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dengan surah
Al-Kahfi ayat 60-82?
2.
Bagaimana pengembangan
integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dalam kajian Al-Qur’an surh Al-Kahfi ayat 60-82?
E.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
diadakannya penelitian ini adalah:
1. Untuk
mengetahui relevansi pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun
dalam suarah Al-Kahfi ayat 60-82.
2. Untuk
mengetahui bagaimana pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun
yang terkandung dalam surah Al-Kahfi
ayat 60-82.
F.
Manfaat Penelitian
Adapun
manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat
secara praktis
Adapun
manfaat penelitian ini secara praktis ialah untuk menambah khazanah keilmuan
dan pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai sumber informasi serta
konstribusi peneliti bagi pembaca, dan khususnya guru untuk memberikan masukan
dan sebagai bahan untuk mempermudah guru dalam menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun
berdasarkan kajian Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 60-82.
2. Manfaat
secara teoritis
a. Sebagai
perbandingan dan acuan kepada mahasiswa yang nantinya berminat meneliti dengan
bahasan pokok masalah yang sama.
b. Sebagai
salah satu syarat bagi peneliti untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.
G.
Sistematika
Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan dalam
penelitian ini dibagi kepada 5 (lima) bab sebagai berikut:
Bab pertama pendahuluan terdiri dari
latar belakang masalah, dimana peneliti mengemukakan fenomena yang terjadi yang
menjadi masalah, fokus masalah, dan rumusan masalah yaitu hal-hal yang menjadi
permasalahan di dalam pengembangan integritas yang terkandung dalam surah
Al-Kahfi ayat 60-82, tujuan penelitian sebagai bahan masukan bagi guru-guru
Pendidikan Agama Islam lainnya, manfaat penelitian, batasan istilah dan
sistematika pembahasan.
Bab kedua membahas tinjauan pustaka yang
terdiri dari pengembangan integritas, kepribadian anak usia 6-12 tahun, surah
Al-Kahfi, tafsir surah Al-Kahfi, dan penelitian relevan.
Bab ketiga metodologi penelitian yang
terdiri dari lokasi dan waktu peneelitian merupakan sasaran menjadi peneliti,
jenis dan metode penelitian, subjek penelitian, sumber data dan tekhnik
peengumpulan data, pengecekan keabsahan data, dan teknik pengelolaan analisis
data.
Bab keempat hasil penelitian yang
terdiri dari temuan umum dan temuan khusus, analisis hasil penelitian, dan
keterbatasan penelitian pengembangan integritas kepribadian anak usia 6-12 tahun dalam
surah Al-Kahfi ayat 60-82.
Bab kelima penutup yang terdiri dari
kesimpulan dari seluruh pembahasan dan dijadikan dasar untuk memberikan saran
bagi objek penelitian.
$
[1] Al-Jumanatul
Ali, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali),
2004, hlm. 50
[2] Faisar Ananda Arfa,
dkk, Metode Studi Islam, (Jakarta:
PT. Raja Gravindo Persada, 2016), hlm. 63.
[3] Ahmad
Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012),
hlm. 40.
[4] Khoirun Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 153.
[5] Shalah Al-Khalidy, (Kisah-Kisah Al-Qur’an Pelajaran Dari
Orang-Orang Terdahulu, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm. 5.
[6] Abuddin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an…,
hlm. 166
[7] Abuddin
Nata, Pendidikan Dalam Perspektif
Al-Qur’an, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005), hlm. 3.
[8] Pupu Saeful Rahmat, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta:
Bumi Aksara 2018), hlm. 66
[9] Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Balai Pustaka: Jakarta, 2001), hlm. 223.
[10] Ahmad
Nizar Rangkuti, Metode Penelitian
Pendidikan Pendekatan Kuantitati, Kualitatif, PTK dan Penelitian Pengembangan
(Bandung: Citapustaka Media, 2016), hlm. 238.
[11] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi
Ketiga...,hlm 231.
[12] Habibi Mora Wildan,
“Integritas Intelektual Muslim Menurut Al-Qur’an Surah As-Saff Ayat 2-3” Skripsi (Padangsidimpuan: IAIN
Padangsidimpuan, 2018), hlm. 46.
[13] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Balai
Pustaka: Jakarta, 2002), hlm. 895.
[14] Ropiqo
zulaikho Ritonga, “Pengembangan Kepribadian Islam Santri di Pondok
Pesantren Darussalam Parmeraan Kecamatan
Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara” Skripsi
(Padangsidimpuan: IAIN Padangsidimpuan, 2018), hlm. 29.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar