PERANAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SMA NEGERI 1BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
1.
Peranan Kepala Sekolah
a.
Pengertian Kepala Sekolah
Kepala sekolah merupakan kata
majemuk yang berbentuk dari golongan kata kepala yang berarti pemimpin yaitu
orang yang memimpin satu sekolah atau yang memimpin lembaga pendidikan.[1]Kepala
sekolah merupakan faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi
atau usaha, kualitas kepala sekolah menentukan keberhasilan lembaga atau organisasinya.[2]Sebab
kepala sekolah perubahan yang tiba-tiba dan sanggup membawa organisasi kepada
sasaran dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan.
Kepala sekolah juga merupakan pengerak
waktu terlaksananya suatu kegiatan dalam mencapai tujuan yang di inginkan untuk
memungkinkan tercapainnya yang dimaksud dan tujuan tersebut seorang kepala
sekolah harus melakukan berbagai fungsi kepala sekolah, tanpa fungsi-fungsi ini
seseorang yang menduduki posisi ini kepala sekolah tak ada artinya bagi
kelompok.
Penegasan guru sebagai kepala
sekolah adalah sebagai berikut:
a) Membimbing
1) Bahwa
guru dapat diberikan tugas sebagai kepala sekolah untuk memimpin dan mengelola
sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidian.
2) Bahwa
peraturan mentri pendidikan nasional NO 28 Tahun 2010 tentang penugasan guru
sebagai kepala sekolah/ madrasah sudah tidak sesuai dengan dinamika
perkembangan pengelolaan pendidikan nasional, sehingga perlu diganti.
3) Bahwa
berdasarkan pertimbangan sebagaimana di maksud dalam No 1 dan 2, perlu menetapkan
perturan mentri pendidikan dan kebudayaan tentang penugasan guru sebagai kepala
sekolah.
b) Menetapkan
1) Kepala
sekolah adalah guru guru yang diberi yugas untuk memimpin dan mengelola satuan
pendidikan yang meliputi taman kanak-kanak (TK), taman kanak-kanak luar biasa
(TKLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah kejurun (SMK), sekolah
menengah atas luar biasa (SMALB), atau sekolah Indonesia di Luar Negeri.
2) Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, serta menili dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.
3) Kompetensi
adalah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang melekat pada dimensi kompetensi
kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.
4) Pensisikan
dan pelatihan calon kepala sekolah adalah penyiapan kompetensi calon kepla
sekolah untuk memantapkan wawasa, pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampila
dalam memimpin sekolah.
5) Pengembangan
keprofesian berkelanjutan adalah program dan kegiatan penngkatan pengetahuan,
keterapilan, dansikap profesional kepala sekolah yang dilaksanakan berjenjang,
bertahap dan berkesinambungan terutama utuk penngkatan manajemen, pengembangan
kewirausahaan dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan.
6) Dinas
provinsi adalah dinas yang bertanggungjawab di bidang pendidikan di daerah
kabupaten/kota.
7) Dinas
kabupaten/kota adalah dinas ang bertanggungjawab di bidang pendidikan di daerah
kabupaten/kota.
8) Sekolah
indonesia di luar negeri yang selanjutnya disebut SILN adalah satuan pendidikan
pada jalur formal yang diselenggarakan di luar negeri.
9) Lembaga
pengembangan dan pemberdayaan kepala sekolah yang selanjutnya disebut LPPKS
adalah pelaksanaan unit di lingkungan direktorat jenderal yang mengenai
pendidik dan tenaga kependidikan.
10) Kementerian
adalah kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang pendidikan
anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
11) Direktur
jendral adalah direktur jendral yang bertanggungjawab dalam pembinan guru dan
tenaga kependidikan di lingkungan kementerian.[3]
Defenisi kepala sekolah mempunyai
bermacam-macam pengertian dapat disebutkan di bawah ini sebagai berikut:
a.
Kepala sekolah seorang pribadi yang
memiliki kecakapan dan kelebihan sehingga dia mampu mempengaruhi guru-guru lain
untuk bersama-sama melaksanakan aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau
beberapa tujuan.
b.
Henry Part Hill menyatakan bahwa kepala
sekolah dalam pengertian yang luas
adalah seseorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai atau
mengontrolusahadan upaya orang lain, melalui prestise, kekuasaan atau posisi
dalam sebuah lembaga.
c.
Pengertian yang terbatas, kepala sekolah
adalah orang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas dengan
persuasifnya dan akseftensi penerimaan suka rela oleh para pengikutnya.
d.
Jhon Gagne Alle menyatakan: leader
aquide, aconductor, acon maneler (Kepala sekolah itu ialah pemandu, penunjuk,
dan komandan).[4]
Dari
berbagai defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang kepala sekolah
adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus dalam memimpin sebuah lembaga,
dan kepala sekolah bertangggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro,
yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah
sebagaimana di kemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 Tahun 1990 bahwa: Kepala
sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan,
administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan
serta pemeliharaan sarana dan prasarana.
b.
Fungsi Kepala Sekolah
Kepala
sekolah merupakan penggerak waktu terlaksananya suatu kegiatan dalam mencapai
tujuan yang diinginkan, untuk memungkinkan tercapainya yang dimaksud, dan
tujuan tersebut seorang kepala sekolah harus melakukan berbagai fungsi kepala
sekolah, tanpa fungsi-fungsi ini seseorang yang menduduki posisi kepala sekolah
tak ada artinya bagi kelompok.
Gross mengemukakan bahwa fungsi kepala
sekolah yaitu:
a. Menentukan
tujuan
b. Menjelaskan
c. Melaksanakan
d. Memilih cara
yang tepat
e. Memberikan dan
mengkordinasikan tugas
f. Memotivasi
g. Menciptakan
kesetiaan
h. Mewakili
kelompok
i. Merangsang para
anggota untuk bekerja.[5]
Menurut
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi juga mengemukakan bahwa fungsi kepala sekolah
diantaranya adalah:
a.
Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat,
baik secara perorangan maupun kelompok tau orgainisasi lembaga dalam menetapkan
keputusan (decion makna) yang mampu memenuhi aspirasi dalam kelompok atau
organisasi. Dengan demikian kepusan dipandang sebagi sesuatun yang patut atau
tepat untuk dilaksanakan oleh setiap anggota dalam rangka mencapai tujuan
tertentu.
b.
Mengembangkan suasana kerja sama yang efektif dan memberikan penghargaan dan
pengakuan terhadap kemampuan dirinya sendiri dan kesetiaan menghargai orang
lain sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga mampu memainkan peranan
yang tepat dan ikut serta memberikan sumbangan terhadap usaha pencapaian
tujuan, baik secara perorangan maupun melalui proses kerja sama.
c.
Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat atau buah pikiran
dengan sikap harga-menghargai sehingga timbul perasaan ikut terlibat dalam
kegiatan organisasi dan perasaan bertanggung jawab atas terwujudnya pekerjaan
masing-masing sebagai bagian dari usaha pencapaian tujuan.
d.
Membantu menyelesaikan masalah-masalah baik yang dihadapi secara perorangan
maupun kelompok dengan membentuk petunjuk dalam mengatasinya sehingga
berkembang kesemuaan untuk memecahkan dengan kemampuan sendiri. Termasuk juga
dalam hal ini adalah mendorong kemampuan anggota untuk mengatasi masalah
peningkatan kesejahteraan dalam menciptakan model kerja yang tinggi.[6]
Sesuai dengan cirri-ciri sekolah sebagai
organisasi yang komplek dan unik tugas dan fungsi kelompok sekolah seharusnya
dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu kepala sekolah dapat
dipandang sebagai pejabat formal, sedangkan dari sisi lain seorang kepala
sekolah dapat di pandang sebagi menejer, sebagai pemimpin, sebagai pendidik
yang tidak kalah pentingnya kepala sekolah juga berperan sebagai staf. Di kutip
dalam buku Ngalim Purwanto menyebutkan bahwa fungsi kepala sekolah adalah:[7]
1)
Menyusun rencana dan policy bersama.
2) Mengikutsertakan anggota-anggota
kelompok (guru-guru, pegawai) dalam berbagai kegiatan.
3) Memberikan bantuan kepada
anggota kelompok dalam mengadapi dan memecahkan berbagai macam persoalan.
4) Membangkitkan dan memupuk semangat
kelompok, atau memupuk moral yang tinggi kepada anggot kelompok.
5) Mengikutsertakan semua anggota dalam
menetapkan keputusan-keputusan.
6) Membagi-bagi dan mendelegasikan
wewenang dan tanggung jawab kepada anggota kelompok, sesuai dengan
fungsi-fungsi dan kecakapan masing-masing.
7) Mempertinggi daya kreatif pada
anggota kelompok.
8) Menghilangkan rasa malu danrasa
rendah dirin pada anggota kelompok sehingga mereka berani mengemukakan pendapat
demi kepentingan bersama.[8]
Sedangkan fungsi utama kepala
sekolah sebagai pemimpin pendidikan ialah menciptakan situasi belajar mengajar
sehingga guru-guru dapat mengajar dan murid-murid dapat belajar dengan baik.
Dalam melaksanakan fungsi tersebut, kepala sekolah memiliki tanggung jawab
ganda yaitu melaksanakan administrasi sekolah sehingga tercipta situasi belajar
mengajar yang baik, dan melaksanakan supervise sehingga guru-guru bertambah
dalam menjalankan tugas-tugas pengajaran dan dalam membimbing pertumbuhan
murid-murid.
Sebagai pemimpin lembaga,
kepala sekolah memikul tanggung jawab yang berat, untuk itu kepala sekolah
harus memliki persiapan yang memadai. banyaknya tanggung jawab, kepala sekolah
memerlukan pembantu, ia hendaknya belajar bagaimana mendelegir wewenang dan
bertanggung jawab sehingga ia dapat memusatkan perhatiannya pada usaha-usaha
pembinaan program pengajaran.
Orang yang memegang jabatan kepala
sekolah adalah pemimpin pendidikan.
Kali ini mungkin benar tetapi kepemimpinan itu sendiri
bukanlah fungsi jabatan title kepala sekolah belum menjamin bahwa kepala
sekolah adalah pemimpin pendidikan. Kepala sekolah bekerja bukan hanya
mengembangkan dan menyerahkan suatu program pengajaran kepada guru-guru untuk dilaksanakan
kepala sekolah sebagai pemimpin resmi harus mampu menggunakan proses-proses
demokrasi atas dasar mutu sumbangannya, kepala sekolah bertindak sebagai
konsultan bagi guru-guru yang dapat membantu mereka memecahkan permasalahan
mereka, kepala sekolah hendaknya berusaha meningkatkan kemampuan staf untuk
bekerjadan berpikir bersama.[9]Sebagai
seorang pemimpin tentu saja diharapkan memiliki kelebihan-kelebihan daripada
orang yang dipimpinnya oleh karena itu, pemimpin pendidikan nantinya selalu
berhadapan dengan orang lain dalam konteks social, maka kepala sekolah harus
memiliki beberapa persyaratan pada aspek kepribadian tertentu yakni sebagai
berikut:
a. Memiliki
kesehatan jasmani dan rohani yang baik
b. Berpegang
teguh pada tujuan yang dicapai
c. Bersemangat
d. Cakap
dalam member bimbingan
e. Cepat
serta bijaksana dalam mengambil keputusan
f. Jujur
g. Cerdas
h. Cakap
didalam hal menaruh kepercayaan yang baik dan berusaha untuk mencapainnya.[10]
Seorang
pemimpin atau kepala sekolah yang baik harus banyak dan pandai bergaul untuk
dapat mengerti bawahanya dengan baik, maka hendaknya ia atau kepala sekolah terlebih
dahulu mengadakan hubungan yang baik dengan dirinya sendiri.Sehingga seorang
pemimpin dapat menempatkan diri pada apa yang dipimpinnya dan dapat mengerti
kekurangan-kekurangan serta kelemahan dan berusaha untuk mencari daya upaya
untuk menolongnya agar pelaksanaan rencana pendidikan disekolah dapat
dipertanggung jawabkan dan sebaiknya pemimpin sekolah dapat menyeleksi dalam
menempatkan guru-guru untuk menerapkan prinsip yang baik supaya tercapainya
suatu kerjasama yang lebih baik pula.
Pemimpin pendidikan harus
memiliki karakter dan kesanggupan untuk mempengaruhi orang lain, mengembangkan
usaha kerjasama, mendayagunakan segenap kecakapan guru, pendeknya kepala sekolah
adalah seseorang yang dapat membimbing guru-guru secara efesien, yang dapat
menanamkan kepercayaan, menstimulir dan membimbing penelitian professional,
usaha koperatif yang dapat menunjukkan kemampuannya membantu guru untuk
memecahkan masalah atau problem.[11]
c. Tugas Kepala Sekolah
Berikut ini adalah tugas kepala sekolah,
yaitu :
1. Membantu
orang-orang di dalam masyarakat sekolah, merumuskan tujuan-tujuan pendidikan.
2. Memperlancar
proses belajar mengajar dengan mengembangkan pengajaran yang lebih efektif.
3. Membentuk
atau membangun suatu unit organisasi yang produktif.
4. Menciptakan
iklim dimana kepemimpinan pendidikan dapat bertumbuh dan berkembang.
5. Memberikan
sumber-sumber yang memadai untuk pengajaran yang efektif.
Disamping tugas-tugas di atas, kepala
sekolah juga bertugas sebagai administrator, adapun tugas dan tanggung jawab
kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1. Menguasai
garis-garis besar program pengajaran (GBPP).
2. Bersama-sama
guru menyusun program sekolah untuk satu tanhun kegiatan.
3. Menyusun
jadwal pelajaran.
4. Mengkoordinir
kegiatan penyusunan model satuan pelajaran.
5. Mengatur
pelaksanaan evaluasi belajar dengan memperhatikan syarat-syarat dan norma-norma
penilaian.
6. Mencatat
dan melaporkan hasil-hasil kemajuan instansi atasan.
7. Melaksanakan
penerimaan murid baru berdasarkan ketentuan dari instansi atasan.
8. Mengatur
program bimbingan penyuluhan (BP).
9. Meneliti
dan mencatat kehadiran murid.
10. Mengatur
program-program ko-krikuler seperti UKS, kepramukaan dan sebagainya.
11. Merancanakan
pembagian tugas guru.
12. Mengusulkan
formasi pengangkatan, kenaikan tingkat dan mutasi guru.
13. Memelihara
pencatatan buku sekolah.
14. Merencanakan,
mengembangkan dan memelihara alat pelajaran peraga.
15. Mengatur
pemeliharaan gedung dan halaman sekolah.
16. Memelihara
perlengkapan sekolah.
17. Mengatur
dan bertanggung jawab dalam pengelolahan keuangan sekolah.
18. Memelihara
dan mengembangkan hubungan sekolah dengan masyarakat.
19. Memelihara
dan mengatur penyimpanan arsip kegiatan sekolah.[12]
d. Peranan Kepala Sekolah
Kepala
sekolah memegang peranan penting dalam perkembangan sekolah, oleh karena itu,
ia harus memiliki jiwa kepemimpinan untuk mengatur bawahan/pegawainya. Tercapai
atau tidaknya tujuan sekolah berngantung pada kebijakan kepala sekolah dalam
mengayomi para bawahannya.
Dalam kamus ilmiah peranan diartikan
sebagai fungsi, kedudukan, dan bagian dari kedudukan.[13]
“Peran adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang di sustu peristiwa atau
sesuatu yang menjadi bagian yang memegang pemimpin terutama dalam terjadinya
suatu hal atau peristiwa”.[14]Kepemimpinan adalah sebagai suatu kepribadian
seseorang yang mendatangkan keinginan pada orang-orang untuk mencontohkannya
ataupun untuk mengikutinya, atau kepribadian seseorang yang memancarkan suatu
pengaruh tertentu sehingga membuat sekelompok orang-orang mau melakukan apa
yang dikehendakinya. [15]Kepemimpinan
juga dapat diartikan proses mempengaruhi individu atau sekelompok orang dalam
melakukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai
tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya, pengorganisasian
dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, menjalin hubungan kerja sama
dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari oranhg-orang diluar
kelompok atau organisasi.[16]
Efektivitas pelaksanaan kepemimpinan
mencakup membuat secara meyakinkan bahwa seseorang memiliki pendidikan yang
benar, kemampuan, pengalaman, motivasi, dan kepribadian untuk menangani
srtategi perubahan. Karena itu,
sifat dasar dari kepemimpinan adalah motivasi, keputusan, komunikasi, dan
proses pengendalian dalam mengembangkan suatu iklim dan bufaya kondusif untuk
membuat kebijakan. Secara rinci ditemukan bahwa perilaku pemimpin mengacu
kepada dua dimensi utama.Perilaku yang menyatakan peduli terhadap pencapaian
tugas dalam organisasi dan peduli terhadap hubungan sesama manusia dalam
organisasi.Teori ini secara umum diterima bahwa kedua jenis perilaku ini
menjadi syarat keberhasilan kepemimpinan.[17]
Dalam Islam kepemimpinan identic
dengan istilah khalifah yang berarti wakil.Pemakaian kata khalifah setelah
Rasulullah Saw wafat menyentuh juga maksud yang terkandung dalam perkataan amir atau penguasa. Kedua istilah dalam bahasa Indonesia disebut pemimpin
formal. Namun jika petunjuk kepada firman Allah Swt dalam Q.S Al-Baqarah ayat
30 yang berbunyi:
øÎ)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkÏù `tB ßÅ¡øÿã $pkÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para
Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."
Selain
kata khalifah disebutkan kata ulil amri
yang suatu akar dengan kata amir. Kata ulil amri berarti pemimpin tertinggi
dalam masyarakat Islam sebagai mana firman Allah dalam Q.S An-Nisa ayat 59:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqß§9$# Í<'ré&ur ÍöDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrãsù n<Î) «!$# ÉAqß§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ÌÅzFy$# 4 y7Ï9ºs ×öyz ß`|¡ômr&ur ¸xÍrù's? ÇÎÒÈ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Sehubungan dengan
penjelasan ayat diatas kepala sekolah adalah orang yang diberi tanggung jawab
mengelola sekolah, menghimpun, memanfaatkan, dan menggerakkan seluruh potensi
sekolah secara optimal untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan kepala sekolah
banyak yang harus diperhatikan dalam mengelola sekolah tersebut, sebagaimana
yang disebut sebelumnya kepala sekolah merupakan titik pusat irama sekolah.
Betapa penting peranan kepala sekolsh dalam meningkatkan mutu pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dengan demikian peranan kepala sekolah adalah sebagai
berikut:
1)
Kepala
Sekolah Sebagai Pemimpin
Kepala sekolah merupakan
guru yang diberi tugas tambahansebagai kepala sekolah yang mempunyai tanggung
jawab besar terhadap jabatannya, oleh karena itu ia berperan sebagai pemimpin
di sekolah.
Kepala sekolah sebagai
pemimmpin harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan
dan kemampuan guru dan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan
mendellegasikan tugas.Mereka harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian,
keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan professional, serta pengetahuan
administrasi dan pengawasan.[18]Sebagai
poemimpin, kepala harus memiliki sifat yang jujur, percaya diri, bertanggung jawab, berani mengambil risiko dan keputusanm
berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan. Pada sisi lain, sebagai pemimpin
kepala sekolah harus mampu:
1) Memperkuat
tim sebagai kekuatan pembangunan
2) Menggabungkan
aspek-aspek positif individualitas
3) Berfokus
pada detail pekerjaan
4) Menerima
tanggunngjawab
5) Membangun
hubungan antar pribadi
6) Menjaga
keterbukaan
7) Memelihara
sifat progresif
8) Bangga
dan menghargai prestasi kerja tim
9) Menantang
perubahan
10) Tanpa
berkompromi terhadap kualitas
2) Kepala Sekolah Sebagai Motivator
Kepala Sekolah Sebagai
Motivator, tugas kepala sekolah sebagai motivator yang terpenting adalah dapat
memotivasi para bawahannya dengan sebaik mungkin. Setiap guru memiliki karakter
berbeda dengan yang lain, sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan dari
pimpinannya agar memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kemampuannya, misalnya
dengan memotivasi mengajar guru, kepala sekolah perlu memperhatikan motivasi
para guru dan factor lain yang mempengaruhinya.
Sebagai motivator,
kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikanmotivasi kepada
guru untuk melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Hal ini dapat di tumbuhkan
melalui pengaturan lingkingan, suasanna kerja,
disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai
sumber belajar melalui pegembangan sentar belajar. Salah satu upaya motivasi
adalah dengan memberikan penghargaan kepada guru, dengan penghargaan itu, guru
di rangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya secara positif dan
produktif.Pelaksanan penghargaan dapat dikaitkan dengan prestasi guru.Hal ini
dilakukan secara terbuka, sehingga guru memiliki peluang untuk meraihnya.Oleh
karena itu, harus berusaha memberikan penghargaan secara tepat, efektif dan
efesien untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkannya.[19]
Penguasaan
tugas-tugas kepala sekolah yang baik dan benar maka kepala sekolah akan dapat
memaninkan peranannya sebagai pengayom terhadap bawahannya sehingga
kepemimpinannya di nyatakan berhasil. Menjadi pemimpin yang baik tidak mudah.
Seorang kepala sekolah bisa saja berhasil mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan tetapi belum tentu ia berhasil menjadi
pemimpin yang baik bagi bawahannya, sebab untuk menjadi pemimpin yang baik ada
beberapa ciri yang dimilikinya. Adapun ciri-ciri kepemimpinan menurut M. Moh
Rifai adalah:
1. Ber-ketuhanan
2. Rendah hati dan sederhana
3. Suka menolong
4. Sabar dan stabil emosi
5. Percaya pada diri sendiri
6. Jujur, adil dan dapat dipercaya
7. Mempunyai keahlian dalam jabatan.[20]
3) Kepala
Sekolah Sebagai Supervisor
Sebagai supervisor, kepala sekolah
mensupervisi tugas tugas pokok dan fungsi yang dilakukan oleh guru dan staf.
Dalam kerangka ini, kepala sekolah harus mampu melakukan berbagai pengawasan
dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja guru dan tenaga kependidikan. Pengawasan
dan pengendalian ini dimaksudkan agar kegiatan pendidikan disekolah terarah
pada tujuan yang ditetapkan. Kegiatan ini juga merupakan tindakan preventif
untuk mencegah agar guru dan tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan
dan lebih cermat melakukan pekerjaannya. Pengawasan dan pengendalian yang
dilakukan kepala sekolah terhadap kependidikan khususnya guru, disebut
supervisi klinis, yang bertujuan utuk meningkatkan kemampuanprofessional guru
dan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran efektif.[21]
Maka dengan begitu tugas kepala
sekolah sebagai supervisor adalah sebagai berikut:
1. Harus pandai melihat
2. Mengamati
3. Mengamati
4. Meneliti
5. Mencari dan menentukan syarat-syarat mana yang
perlulan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan pendidikan di sekolah itu
tercapai dengan maksimal.[22]
4)
Kepala
Sekolah Sebagai Administrator
Kepala Sekolah
Sebagai Administrator bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan
kependidikan dan pengajaran di sekolahnya.Oleh karena itu, untuk dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik kepala sekolah hendaknya memehami, menguasai
dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan fungsinya
sebagai administrator. Adapun fungsi-fungsi kepala sekolah sebagai
administrator menurut Ngalim Purwanto adalah sebagai berikut:
a)
Fungsi
perencanaan
b)
Fungsi
pengorganisasian
c)
Fungsip
pengordinasian
d)
Fungsi
pengawasan
e)
Fungsi
kepegawaian[23]
5)
Kepala
Sekolah Sebagai Manajer
Pekerjaan kepala sekolah yang
paling rumit dan berat adalah manajemen. Manajemen akan terjadi manakala ada
kekacauan itu biasanya datang dari dalam sekolah sendiri dan dapat juga dari
luar sekolah. Kekacauan dari dalam antara lain adalah akibat terjadinya
kepentingan antar kelompok Informal. Sedangkan kekacauan dari luar bias disebabkan karena
tidak puasnya sejumlah orangtua siswa akan hasil ujian nasional, dengan memberi
cap kepada sekolah sebagai sekolah yang tidak berbobot.
Menghadapi gejolak-gejolak tersebut,
kepala sekolah dalam menyelesaikan tugas ini menduduki posisi manajer, yang mengatur
manajemen. Dalam meyelesaikan masalah-masalah rumit seperti diatas, manajer
mempunyai empat fungsi serta dilengkapi dengan tiga keterampilan manager.
Keempat fungsi manajer atau manajemen itu adalah:[24]
1) Perencanaan,
yaitu merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.
2) Pengorganisasian,
yaitu mengorganisasi orang dan perlengkapan lainnya agar hasil perencanaan
diatas dapat berjalan.
3) Penggerakan,
ialah menggerakkan dan memotivasi para personalis agar bekerja dengan giat dan
antusias.
4) Pengendalian,
ialah mengendalikan proses kerja dan hasil kerja agar tidak menyimpang dari
rencana semula dan kalau menyimpang segera dapat diperbaiki.
Sementara itu yang di maksud degan tiga
keterampilan manajer adalah:
1) Keterampilan
konsep, yaitu menciptakan konsep-konsep baru dalam mengatasi masalah.
Keterampilan ini sebagian besar terjadi dalam perencanaan.
2) Keterampilan
hubungan manusia, yaiyu mampu melakukan komunikasi dengan baik, bergaul akrab,
bisa bekerja sama, menciptakan iklim kerja yang kondusif dan sebagainya.
3)
Keterampila teknik, yaitu keterampilan
dalam melaksanakan tugas-tugasa langsung dilapangan dalam memecahkan masalah.
keterampilan ini di pakai terutama dalam mengendalikan para petugas dilapangan.[25]
2.
Mutu Pembelajaran Pendidikam Agama Islam
a.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah kegiatan yang
dilakukan oleh guru secara terprogram dalam disain instruksional yang
menciptakan prosesinteraksi antara sesama peserta didik, guru dengan peserta
didik dan dengan
sumber belajar. Pembelajaran
bertujuan untuk menciptakan perubahan secara terus-menerus dalam perilaku dan
pemikiran siswa pada
suatu lingkungan belajar. Sebuah proses pembelajaran tidak terlepas dari kegiatan
belajar mengajar. Belajar menurut Nana Sudjana, pembelajaran adalah suatu proses yang ditandai
dengan adanya perubahan pada
diri seseorang.[26]
Belajar
menurut Morgan adalah perubahan perilaku yang bersifat
permanen sebagai hasil dari pengalaman. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu
adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya.Perubahan tingkah laku
tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif),
keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap
(afektif).Belajar tidak hanya meliputi mata pelajaran, tetapi juga penguasaan,
kebiasaan, persepsi, kesenangan, kompetensi, penyesuaian sosial, bermacam-macam
keterampilan, dan cita-cita.
Mengajar
menurut Nana Sudjana merupakan suatu proses, yaitu proses mengatur,
mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan
dan mendorong siswa melakukan proses belajar.[27]
Pembelajaran pada hakekatnya merupakan
proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan
perilaku ke arah lebih baik. Selama proses pembelajaran, tugas guru yang paling
utama adalah mengkondisikan lingkungan belajar agar menunjang terjadinya
perubahan perilaku bagi siswa.[28]
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh
pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik
atau siswa. Berdasarkan teori belajar ada lima pengertian pembelajaran
diantaranya sebagai berikut:
a. Pembelajaran
adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada siswa di sekolah.
b. Pembelajaran
adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga sekolah.
c. Pembelajaran
adalah upaya mengorganisasikan lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar
bagi siswa.
d. Pembelajaran
adalah upaya untuk mempersiapkan siswa untuk menjadi warga masyarakat yang
baik.
Pembelajaran
adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.[29]
Menurut
berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu
perubahan dari peristiwa atau situasi yang dirancang sedemikian rupa dengan
tujuan memberikan bantuan atau kemudahan dalam proses belajar mengajar sehingga
bisa mencapai tujuan belajar.
Sedangkan
pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha dasar yang dilakukan
pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan
mengamalkan ajaran Islam melaui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan
yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[30]
Zakiyah Drajat berpendapat bahwa pendidikan Agama
Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa
dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang pada
akhrnya dapat mengamalkna serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
Pendidikan Agama Islam sebagai
upaya mendidikkan Agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi
way of life (pandangan dan sikap hidup) peserta didik. Pendidikan Agama
Islam juga merupakan upaya sadar untu mentaati ketentuan Allah sebagai pedoman
dan dasar para peserta didik agar berpengetahuan keagamaan dan handal dalam
menjalankan ketentuan-ketentuan Allah secara keseuruhan
Jadi pembelajaran Pendidikan Agama
Islam adalah suatu upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar,
terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari
Agama Islam, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang
benar maupun mempelajari
Islam sebagai pengetahuan yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif
tetap dalam tingkah laku seseorang yang baik dalam kognitif, efektif, dan
psikomotorik.
b. Komponen-komponen Pembelajaran
Berlangsungnya
proses pembelajaran tidak terlepas dari komponen-komponen yang ada didalamnya,
menurut Moedjiono dan Dimyati komponen-komponen proses belajar megajar tersebut
adalah peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, materi atau isi, metode, media
dan evalusi.
a. Peserta didik
Menurut Nazarudin peserta didik adalah
manusia dengan segala fitrahnya.Mereka mempunyai perasaaan dan pikiran
serta keinginan atau aspirasi. Mereka mempunyai kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi yaitu sandang, pangan, papan, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan
untuk mendapatkan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi dirinya sesuai
dengan potensinya.
Menurut undang undang No.20 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia
pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik adalah subjek
yang bersifat unik yang mencapai kedewasaan secara bertahap.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa peserta didik adalah seseorang dengan
segala potensi yang ada pada dirinya untuk senantiasa dikembangkan baik melalui
proses pembelajaran maupun ketika ia berinteraksi dengan segala sesuatu.
b. Guru
Pengertian guru menurut
Muhammad Ali sebagaimana di kemukakan oleh Nazarudin merupakan pemegang peranan
sentral proses belajar mengajar. Guru yang setiap hari berhadapan langsung
dengan siswa termasuk karakterisrik dan problem mengajar yang mereka hadapi berkaitan
dengan proses belajar mengajar.
Dari pendapat di atas
dapat dikemukakan bahwa guru adalah seseorang dengan fitrahnya sebagai manusia
berkepribadian yang memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar dan
berpartisipasi penuh dalam menyelenggarakan pendidikan. Berkaitan dengan
penelitian ini guru dalam pembelajaran mata diklat membuat pola adalah guru
yang ahli di bidangnya dan berkompeten, tentunya guru yang bisa membimbing
siswa dalam pembuatan pola.
c. Tujuan Pembelajaran
Dalam Permendiknas RI
No. 52 Tahun 2008 sebagaimana dikemukakan Akhmad Sudrajat tentang Standar
Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih
isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk
dalam memilih alat-alat bantu atau pengajaran dan prosedur pengajaran, serta
menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Upaya merumuskan tujuan
pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa.
Nana Syaodah Sukmadinata mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan
pembelajaran, yaitu :
1) Memudahkan dalam
mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa
dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri.
2) Memudahkan guru
memilih dan menyusun bahan ajar.
3) Membantu memudahkan
guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran.
4) Memudahkan guru
mengadakan penilaian.
Berdasarkan pendapat di
atas dapat dikemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu rancangan yang
menitik beratkan terhadap pencapaian yang akan di dapat oleh peserta didik
setelah melalui proses pembelajaran itu sendiri. Berkaitan dengan penelitian
ini tujuan pembelajaran untuk kompetensi dasar membuat pola yaitu: (a) siswa
dapat menguraikan macam-macam teknik pembuatan pola, dan (b) siswa dapat
membuat pola.
d. Materi
Secara garis besar
dapat dikemukakan bahwa materi pembelajaran (instructional materials) adalah
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam
rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.Materi pembelajaran
menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus
dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran.Sasaran
tersebut harus sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus
dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan
pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar
kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator. Dalam penelitian
ini materi pelajaran yang diajarkan adalah membuat pola bagian-bagian busana
yakni membuat pola macam-macam lengan.
e. Metode
Metode pembelajaran
menurut Oemar Hamalik merupakan salah
satu cara yang digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada
saat berlangsungnya pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.[31]
Menurut Soetopo metode pembelajaran yang
digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut :[32]
1)
Metode ceramah
Sebuah bentuk interaksi belajar mengajar
yang dilakukan melaui penjelasan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap
sekelompok peserta diklat.
2) Metode tanya jawab
Suatu metode dimana guru menggunakan
atau memberi pertanyaan kepada murid dan murid menjawab atau sebaliknya murid
bertanya kepada guru dan guru menjawab pertanyaan murid tersebut.
3) Metode diskusi
Merupakan suatu metode pembelajaran yang
mana guru memberi suatu persoalan (masalah) kepada murid dan para murid diberi
kesempatan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu dengan
teman-temannya.
4) Metode pemberian tugas (resitasi)
Merupakan bentuk interaksi belajar mengajar
yang ditandai dengan adanya satu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru
dimana penyelesaian tugas tersebut dapat dilakukan secara perorangan atau
keompok sesuai dengan perintah guru.
5) Metode demonstrasi dan eksperimen
Metode demonstrasi adalah metode dimana
seorang guru memperlihatkan sesuatu proses kepada seluruh anak didiknya.
Sedangkan metode eksperimen adalah guru atau siswa mengerjakan sesuatu serta
mengemati proses hasil percobaan itu.
6) Metode simulasi
Metode simulasi adalah cara penyajian
pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang
konsep, prinsip, atau ketrampilan sesuatu.
Menurut Sudarwan Danim (2008:36) metode
pembelajaran yang umum dipakai dalam proses belajar mengajar dikelas sebagai
berikut :
1)
Metode Ceramah
Ceramah diartikan sebagai proses
penyampaian informasi dengan jalan mengeksplanasi atau menuturkan sekelompok
materi secara lisan dan pada saat yang sama materi tersebut diterima oleh
sekelompok subyek.
2) Metode Diskusi
Diskusi diartikan sebagai suatu proses
penyampaian materi, dimana guru bersama subjek didik mengadakan dialog bersama
untuk mencari jalan pemecahan dan menyerap serta menganalisis satu atau
sekelompok materi tertentu.
3) Metode Tugas
Tugas diartikan sebagai materi tambahan
yang harus dipenuhi oleh subjek didik, baik didalam maupun diluar kelas.
4) Metode Latihan Inkuiri
Latihan inkuiri diartikan sebagai proses
mempersiapkan kondisi agar subjek didik siap menjawab teka teki.
5) Metode Karyawisata
Metode karya wisata diartikan sebagai
suatu strategi belajar mengajar, dimana guru dan muridnya mengunjungi suatu
tempat tertentu yang relevan untuk memperoleh sejumlah pengalaman empiris.
6) Metode Seminar
Dengan seminar, biasanya wawasan terbuka
luas, peran serta subjek dominan, namun perlu persiapan yang memadai, seperti:
penentuan topik, mempersiapkan kertas kerja, organisasi kelas, pengelompokan
siswa menurut variasi/perbedaan kemampuan individual mereka.
7) Metode Metode Mengajar yang Lain,
Metode mengajar yang lainnya seperti studi
kasus, bermain peranan, simulasi sosial, kerja dalam kelompok dan seterusnya.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa metode pembelajaran adalah strategi
atau cara yang dilakukan oleh guru dalam melakukan hubungan atau interaksi
dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berkaitan
dengan penelitian ini metode dalam pembelajaran membuat pola rok menggunakan
metode diskusi, demonstrasi, dan latihan yang diterapkan pada model
pembelajaran kooperatif.
f. Media
1) Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari
bahasa latinmedius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau
pengantar. Denganm demikian media merupakan wahana penyalur informasi belajar
dan penyalur pesan.
Media pembelajaran
diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan,
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat
mendorong proses belajar.[33]
Berdasarkan pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan seperangkat alat
bantu yang dapat digunakan sebagai sumber belajar oleh guru dalam menyampaikan
materi kepada siswa atau peserta didik. Dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar mengajar.
2) Jenis Jenis Media
Pembelajaran
(a) Pilihan Media Tradisonal:
(1) Visual diam yang di
proyeksikan, meliputi: proyeksi apaque (tak tembus pandang), proyeksi overhead,
slides, dan filmstrip.
(2) Visual yang tak di
proyeksikan, meliputi: gambar, poster, foto, charts, grafik, diagram,
pameran, papan info, dan papan bulu.
(3) Audio, meliputi:
rekaman piringan, pita kaset, reel, dan cartridge.
(4) Penyajian
multimedia, meliputi: slide plus suara (tape) dan multi image.
(5) Visual dinamis yang
di proyeksikan, meliputi: film, televise, dan video.
(6) Cetak, meliputi:
buku teks, modul, teks terprogram, jobsheet, workbook, majalah
ilmiah berkala, dan lembaran lepas (hand-out).
(7) Permainan,
meliputi: teka teki, simulasi, dan permainanpapan.
(8) Realia, meliputi:
model, spacimen (contoh), danmanipulative (peta, boneka).
(b) Pilihan Media
Teknologi Mutakhir:
(1) Media berbasis
telekomunikasi, meliputi : telekonferen, kuliah jarak jauh.
(2) Media berbasis
mikroprocesor, meliputi: computerassisted instruction, permainan
komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia, compact
(video) disk.
3)
Manfaat Media Pembelajaran
Penggunaan media
pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran tidak mutlak harus diadakan. Namun
akan lebih baik jika digunakan media pembelajaran karena media pembelajaran
tentu mempunyai kelebihan-kelebihan yang dapat dimamfaatkan untuk membantu
keberhasilan pembelajaran. Mamfaat dari media pembelajaran antara lain:[34]
a. Menjelaskan
materi pembelajaran dari yang abstrak (tidak nyata) menjadi konkrit
(nyata).
b. Memberikan
pengalaman nyata dan langsung karena siswa dapat berkomunikasi dan berinteraksi
dengan lingkungan tempat belajarnya.
c. Mempelajari materi pembelajaran secara
berulang-ulang.
d. Memungkinkjan
adanya persamaan pendapat dan persepsi yang benar terhadap suatu materi
pembelajaran.
e. Menarik
perhatian siswa, sehingga dapat membangkitkan minat, motivasi, aktivitas dan
kreativitas belajar siswa.
f. Membantu siswa balajar secara individual,
kelompok, atau klasikal.
g. Materi
pembelajaran lebih lama diingat dan mudah untuk diungkapkan kembali dengan
cepat dan tepat.
h. Mempermudah dan
mempercepat guru menyajikan materi pembelajaran, sehingga memudahkan siswa
untuk mengerti dan memahaminya.
i. Membatasi
keterbatasan ruang dan waktu.
3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran
merupakan terjemahan dari kata instruction yang dalam bahasa ilmiahnya
disebut instructus atau instructe yang berarti penyampaian pikiran,
dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang
telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran.[35]
Kegiatan belajar dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan
proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik
dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian
kompetensi dasar.
Pembelajaran
adalah kegiatan dimana guru melaksanakan peranan-peranan tertentu agar siswa
dapat belajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Strategi
pengajaran merupakan keseluruhan metode dan prosedur yang menitikberatkan pada
kegiatan peserta didik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan
tertentu.[36]
Pembelajaran adalah konteks pendidikan merupakan aktivitas pendidikan berupa
pemberian bimbingan dan bantuan rohani bagi yang masih memerlukan.
Sedangkan
pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha dasar yang dilakukan
pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan
mengamalkan ajaran Islam melaui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan
yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[37]
Zakiyah Drajat berpendapat
bahwa pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh
peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.
Lalu menghayati tujuan yang pada akhrnya dapat mengamalkna serta menjadikan
Islam sebagai pandangan hidup.[38]
Pendidikan Agama
Islam sebagai upaya mendidikkan Agama Islam atau ajaran Islam dan
nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup)
peserta didik. Pendidikan Agama Islam juga merupakan upaya sadar untu mentaati
ketentuan Allah sebagai pedoman dan dasar para peserta didik agar
berpengetahuan keagamaan dan handal dalam menjalankan ketentuan-ketentuan Allah
secara keseuruhan
Jadi pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu
upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar,
mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari Agama Islam, baik
untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun
mempelaari Islam sebagai pengetahuan yang mengakibatkan beberapa perubahan yang
relatif tetap dalam tingkah laku seseorang yang baik dalam kognitif, efektf,
dan psikomotorik.
B.
Kajian Terdahulu
Berdasarkan
studi pendahuluan terdapat beberapa penelitian tentang peranan kepala sekolah
diantaranya adalah:
1)
Penelitian dari Robina Sari Hasibuan,
yang berjudul : Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Guru
Pendidikan Agama Islam Di SMP NEGERI 9 Padanngsidimpuan dengan menggunakan
perannya dengan cara yaitu: meningkatkan kedisiplinan, memberikan motivasi,
memberikan penghargaan, bersifat terbuka, kekeluargaan dan musyawarah,
mengawasi guru ketika mengajar.[39]
2)
Penilitian dari Ummi Sakinah yang berjudul: “Peran Keoala Sekolah Dalam Meningkatkan
Kinerja Guru Profesional Di SD Negeri Sibanggor Jae”. Kepala sekolah disarankan
agar lebih meningkat pengawasan kepada seluruh guru sehingga ia rajin, giat dan
tekun dalam melaksanakan tugas dan aktifitas mengajarkan sehari hari,
tetap semangat dan sabar agar
peraturan-peraturan dan terlaksanakan dengan semaksimal mungkin dan sebagai
ujung tombak dalam suatu lembaga pendidikan sekaligus suri tauladan bagi tenaga
pendidik dan siswanya, hendaknya lebih menampakkan sikap yang mengunggah hatu
guru untuk melakukan suatu keputusan yang disepakati demi miningkatkan kinerja
guru profesional.[40]
3)
Penelitian dari Trio Wahyu Saputro yang
berjudul “Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam
Di SMP Darul Ulum Kedung Kandang Malang, kepala sekolah hanya berperan sebagai
pemantau dan fasilitator bagi personel sekolah, dan beliau bertugas memberikan
bimbingan kepada guru dan karyawan serta murid, bantuan pengawasan dan
penilaian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan teknik penyelenggaraan
dan pengembangan pendidikan pengajaran yang berupa perbaikan program dan
kegiatan pendidikan untuk dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih
baik. Jadi tugas ini menyangkut bidang perbaikan dan pengebangan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi kurikulum atau perbaikan pengajaran. Serta mengajak
masyarakat untuk ikut dalam kegiatan keagamaan di sekolah. [41]
[1]Tim
Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 2001), hlm. 205
[2]Tim
Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, hlm. 206
[3]
Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2008, Tentang
Sistem Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm, 1-3.
[5]Ibrahim
Bafadal, Supervisi Pengajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 42.
[6]Ahmad
Rohani dan Abu Ahmadi, Administrasi Pendidikan
sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 89-90.
[7]Ngalim
Purwanto. Administrasi pendidikan dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: PT
Mutiara Sumber Widya, 1996), hlm. 74-75
[9]Hendiyat
Soetopo dan Wasti Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan (Malang: Bina Aksara, 1982), hlm.
25-26.
[10]Hendiyat
Soetopo dan Wasti Soemanto, Kepemimpinan dan supervisi Pendidikan…, hlm.
13.
[11]Ngalim
Purwanto. Administrasi Pendidikan…,
hlm. 71.
[12]Surya
subroto, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah (Jakarta:
Bina Aksara, 1988), hlm. 141-142
[13]
Ahmad Maulana, Kamus Ilmiah Populer
Lengkap dengan EYD dan Pembentukan Istilah serta Akrtonim Bahasa Indonesia,
(Yogyakarta: Absolut, 2009), hlm. 329.
[14][14] Tim
Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia Eddisi ke III, ( Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 545.
[15]
Ngalim Purwanto, Administrasi dan
Supervisi Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998), hlm. 26.
[16]
Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah
dalam Mengembangkan Budaya Mutu, ( Malang: PT. UIN Maliki Press, 2010),
hlm. 1.
[17]
Syafaruddin, Efektivitas Kebijakan
Pendidikan, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 129-1430.
[18]
Sudarwan Danim, khairi, Profesi
Kependidikan, ( Bandung : Alfabeta, 2011), hlm. 82
[19]
Sudarwan Danim, Khairil, Profesi
Kependidikan..., hlm. 83.
[20] M.
Moh Rifai, Administrasi dan Supervisi
Pendidikan, (Bandung: Jemmars, 1986), hlm 38
[21] Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia,
( Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hlm 3.
[22]
Sudarwan Danim, Khairi, Profesi Kependidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm
82.
[23]
Ngalim Purwanto, Administrasi dan
Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998), hlm. 26.
[24]Made Pidaeta, Manajemen Pendidikan Indonesia), hlm. 1.
[26]Nana
Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung : Sinar
Algensindo, 2001), hlm. 28.
[28]E.
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 78
[29]Oemar
Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hlm.
132
[30]Muhaimin dkk, Strategi Belajar
Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm. 157.
[31]
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2003)
[32]
Soetopo, Komponen Dalam Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm.
148
[33]Sumiati,
Metode Pembelajaran
(Bandung: CV Wacana Prima, 2009), hlm. 160
[34]Sumiati,
Metode Pembelajaran…,
hlm. 163.
[35]Bambang Warsita, Tehnologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm. 265.
[36]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014,
hlm. 201.
[37]Muhaimin dkk, Strategi Belajar
Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm. 157.
[39]Robina Sari, “Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Kerja Guru
di SMP Negeri 9 Padangsidimpuan” Skripsi, (IAIN PSP, 2018), hlm. 91.
[40]Ummi Sakinah, “Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja
Guru Profesional di SD Negeri Sibanggor Jae”, Skripsi, (IAIN PSP, 2017),
hlm. 85.
[41]Tri Wahyu Saputro, “Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Agama Islam di SMP Darul Ulum Agung Kedung Kandang Malang”, Skripsi, (UIN Malang, 2015), hlm. 64.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar