Rabu, 22 Juni 2022

BAB IV PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA KELAS UNGGULAN DI PONDOK PESANTREN AL ANSOR DESA MANUNGGANG JULU KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN TENGGARA

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

A.    TEMUAN UMUM

1.      Profil Pondok Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara

a.       Nama                                 : Pondok Pesantren Al-Ansor

b.      Alamat Lengkap                : Jl. Mandailing Km.8 No.3 Manunggang Julu                                                  Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Kota                                             Padangsidimpuan Provinsi Sumatera Utara.

c.       Telepon                              : (6234) 24273

d.      Akreditasi                          : Tsanawiyah “A” dan Aliyah “A”

e.       Badan Hukum                   : No. 3 Tgl. 13 Mei 1994

                                            (Akte Notaris: Indra Syarif Halim, SH)

f.       Status                                : Milik Yayasan Al-Ansor

g.      Luas Tanah                        : ±10 Ha[1]

2.      Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara

Pondok pesantren didirikan oleh seorang tokoh masyarakat Sumatera Utara yang bernama Ustaz H. Sahdi Ahmad Lubis. Pondok pesantren al-Ansor pada mulanya didirikan di jalan Ade Irma Suryani Padangsidimpuan bertepatan pada tanggal 4 April 1994. Pondok pesantren al-Ansor merupakan lembaga pendidikan agama Islam (tafaqqohu fiddin), dalam upaya mendidik kader-kader ulama, da’i, mubalig, ustaz yang sangat dibutuhkan masyarakat Kota Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan.

Selama satu tahun mengontrak di Padangsidimpuan, kemudian pada tahun kedua berpindah ke Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara yang pada tahun pertama jumlah santrinya hanya 6 orang, yaitu 5 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Setelah pesantren berusia 22 tahun jumlah santri telah lebih 815 0rang.

Suatu hal yang menjadi ciri khas pondok pesantren al-Ansor adalah penyelenggaraan program kajian-kajian ilmu agama Islam, yang bersumber dari kitab-kitab berbahasa Arab yang disusun pada zaman pertengahan yang lebih dikenal dengan sebutan “kitab kuning”. Seiring dengan perkembangan zaman kitab kuning mulai berkurang sehingga banyak alumni pesantren yang tidak mampu mendalami ilmu agama dari sumber utamanya. Dalam memandang hal itu maka pimpinan pondok pesantren al-Ansor meningkatkan kembali kecintaan santri untuk terus mempelajari kitab-kitab kuning sebagai kajian utama di pondok pesantren al-Ansor.

Pondok pesantren al-Ansor secara geografis terletak di Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Kota Padangsidimpuan, disekitar pondok pesantren al-Ansor terletak perkebunan dan persawahan masyarakat. Mata pencaharian masyarakat sekitar diantaranya: pegawai negeri sipil, pegawai swasta, wiraswasta, wartawan, pedagang, petani, mayoritas ekonomi rata-rata menengah ke bawah.

Masyarakat sekitar pondok pesantren al-Ansor 100% menganut agama Islam, jumlah fasilitas mesjid 2 unit, musholla 1 unit dan 1 unit pos kesehatan desa.

Pondok pesantren al-Ansor dipimpin oleh seorang mudir (kiai) dan di bawahnya dibantu oleh kepala tata usaha, bendahara, staf TU, kasi kurikulum dan kasi kesiswaan, kepala madrasah tsanawiyah dan kepala madrasah aliyah.[2]

3.      Kegiatan Belajar dan Ciri Khas

Suatu hal yang menjadi ciri khas pondok pesantren al-Ansor adalah penyelenggaraan program kajian-kajian ilmu Agama Islam yang bersumber dari kitab-kitab aslinya yang disusun pada abad pertengahan yang lebih dikenal dengan nama kitab kuning.

Sesuai dengan status pendiriannya bahwa pesantren ini adalah pondok pesantren salafiah kombinasi dengan modern. Maka system pembelajaran selalu menekankan ciri khas salafiyah, yaitu suatu pembelajaran yang mengutamakan santrinya untuk memahami dengan baik kitab-kitab klasik (kitab kuning), siswa juga diharapkan mampu menguasai ilmu alat seperti nahwu, sharaf, mantiq, balagoh dan lain sebagainya.

Agar santri menguasai syari’at Islam maka santri juga diharapkan mampu menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. System pembelajaran yang dilaksanakan di pondok pesantren al-Ansor bahwa santri putra diwajibkan untuk pakai kain sarung dan santri putri diwajibkan untuk memakai baju kurung karena itu merupakan salah ciri dari pesantren al-Ansor.

Untuk pendidikan formal saat ini pondok pesanten al-Ansor menyelenggarakan madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah. Selain pembelajaran formal, pondok pesantren al-Ansor menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler diantaranya:

a.       pembinaan bahasa Arab dan bahasa Inggris secara kontiniu usai shalat subuh

b.      Kursus bahasa Inggris

c.       Kursus komputer dan informatika

d.      Latihan bela diri karate

e.       Kegiatan tahfiz al-Quran dalan lain-lain.[3]

Semua kegiatan belajar mengajar formal dan ekstrakulikuler merupakan satu kesatuan dalam membekali pengembangan skill dan jati diri bagi santri/santriwati, begitu juga bagi seluruh guru dan pegawai pondok pesantren al-Ansor.

Adapun visi dan misi serta tujuan pondok pesantren al-Ansor adalah:

Visi: menyiapkan kader-kader ulama yang beriman dan bertawa serta mampu mengabdikan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa khususnya bidang pendidikan agama dan kemasyarakatan.

Tujuan: meningkatkan mutu pendidikan dengan lulusan yang berkualitas.[4]

4.      Keadaan Guru Pondok Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan

Guru memiliki peran dan fungsi yang amat penting, bahkan guru menentukan tercapainya visi, misi dan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Oleh sebab itu, dalam peningkatan pendidikan selalu bertitik tolak pada peningkatan mutu guru sebagai  tenaga professional yang handal.

Adapun keadaan guru di pondok pesantren al-Ansor berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat  dari daftar tabel berikut:

Tabel 4.1

Daftar Nama Pendidik dan Tenaga Kependidikan pada Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Al-Ansor TP 2017-2018

No

Nama Lengkap

Pendidikan

Jabatan

1

Amma Zahrona pasaribu

S1

Kepala Madrasah

2

Didik Rezki Suryani, M.Pd.I

S2

Guru

3

Khoirunnisa, M.Pd.I

S2

Guru

4

Muhazwar, M.Pd.I

S2

Guru

5

Maisaroh

S2

Guru

6

Jono, M.Pd.I

S2

Guru

7

Ilham Ramadhan, M.Pd.I

S2

Guru

8

Mariatul Kiptiah, M.Pd.I

S2

Guru

9

Yuhilda Miswani, M.Pd

S2

Guru

10

H. Partahian, Lc., M.Pd

S2

Guru

11

Maimunah, M.Pd.I

S2

Guru

12

Sariyah Sinaga, S.Pd

S1

Guru

13

Masdalena, S.Pd

S1

Guru

14

Yayu Arianda, S.Pd

S1

Guru

15

Dis Emali, S.Pd

S1

Guru

16

Efrina Sari, S.Pd

S1

Guru

17

Hj. Khorul Bariyah, Lc

S1

Guru

18

Nursaima, S.Pd

S1

Guru

19

Rapiah Siregar, S.Pd

S1

Guru

20

Rahmat Nasution, S.Th.I

S1

Guru

21

Syawal Hasibuan, S.Pd

S2

Guru

22

H. Sar’an, Lc

S1

Guru

23

Ali Amru, S.Pd

S1

Guru

24

Tiur Hayati Pohan, S.Pd.I

S1

Guru

25

Rosita Siregar, S.Pd.I

S1

Guru

26

Rina Israwati, S.Pd

S1

Guru

27

Abadi Husein, Lc

S1

Guru

28

Lanni Hnifah, S.Pd

S1

Guru

29

Alfi Sahri Nasution, S.Pd

S1

Guru

30

Lismawati, S.Pd.I

S1

Guru

31

Irmadiah Lubis, S.Pd

S1

Guru

32

Nirma Sari Lubis, S.Pd

S1

Guru

33

Rini Asrito Ritonga, S.Pd

S1

Guru

34

Nurhamidah, S.Ag

S1

Guru

35

Intan Permadani, S.Pd

S1

Guru

36

Nur Aslam, S.Pd

S1

Guru

37

Sepsida Erianti, S.Pd

S1

Guru

38

Irna Derlita, S.Pd

S1

Guru

39

Junita Siagian, S.Pd

S1

Guru

40

Fauziyah Lubis, S.Pd

S1

Guru

41

Wira Lubis, S.Pd.I

S1

Guru

42

Mhus’ab, S.Pd.I

S1

Guru

43

Siti Habibah

 

Guru

44

Abdurrahman

 

Guru

45

Parmohonan

 

Guru

46

Agus Salim

 

Guru

(Sumber: Dokumen Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017)

 

5.      Keadaan Siswa Pondok Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan

Keadaan siswa yang ada di pondok pesantren al-Ansor secara keseluruhan dapat dilihat dari daftar tabel keadaan siswa pondok pesantren al-Ansor sebagai berikut:

 

 

Tabel 4. 2

Keadaan Santri Madrasah Tsanawiyah Di Pondok Pesantren Al-Ansor

Kelas

Jumlah santri

Ruangan Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

7

138

122

260

10

8

89

75

164

7

9

97

81

178

7

Jumlah

324

278

602

24

(Sumber:Dokumen Data Siswa Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017)

 

6.      Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Al-Ansor

Tabel 4. 3

Sarana dan prasarana pondok pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu

No

Jenis Bangunan

Jumlah Ruang Menurut Kondisi (Unit)

Baik

Rusak Ringan

Rusak berat

1

Ruang Kelas

24

 

 

2

Ruang Kepala Madrasah

1

 

 

3

Ruang Guru

1

 

 

4

Ruang Tata Usaha

2

 

 

5

Laboratorium Komputer

1

 

 

6

Laboratorium Bahasa

1

 

 

7

Ruang Usasa Kesehatan Sekolah (UKS)

1

 

 

8

Ruang Keterampilan

1

 

 

9

Ruang Kesenian

1

 

 

10

Ruang Bimbingan Konseling

1

 

 

11

Masjid/Musholla

2

 

 

12

Kamar Asrama Siswa

9

 

 

13

Kamar Asrama Siswi

8

 

 

14

Kursi Siswa

593

 

 

15

Meja Siswa

297

 

 

16

Meja Guru dalam Kelas

22

 

 

17

Papan Tulis

44

 

 

18

Laptop

3

 

 

19

Printer

3

 

 

20

Mesin photo copy

 

 

1

21

LCD Proyektor

3

 

 

22

Layar (Screen)

2

 

 

23

Meja Guru dan Tenaga Kependidikan

22

 

 

24

Kursi Guru dan Tenaga Kependidikan

22

 

 

25

Lemari arsip

3

 

 

(Sumber: Dokumen Data Siswa Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.     TEMUAN KHUSUS

1.      Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Kelas Unggulan Di Pondok Pesantren Al-Ansor

Proses pembelajaran dalam pendidikan agama Islam selalu memperhatikan individu peserta didik serta menghormati harkat, martabat dan kebebasan berpikir mengeluarkan pendapat dan menetapkan pendiriannya, sehingga bagi peserta didik belajar merupakan hal yang menyenangkan dan sekaligus mendorong kepribadiannya berkembang secara optimal. Sedangkan bagi guru, proses pembelajaran merupakan kewajiban yang bernilai ibadah, yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

Pelaksanaan merupakan bagian dari aplikasi dari perencanaan yang telah dibuat guru sebelumnya yang tercantum pada proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan yang terorganisasi. Lingkungan belajar yang diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Mengenai pelaksanaan pembelajaran ini, peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Madrasah Tsanawiyah al-Ansor, dan hasilnya adalah: Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam yang siswanya memiliki kemampuan di atas rata-rata muncul persaingan dan persaingan itu membuat suasana belajar pada kelas unggulan menjadi antusias dan aktif dan dari persaingan itu para siswa semakin termotivasi untuk terus belajar lebih giat lagi sehingga kemampuan serta bakat mereka semakin tumbuh dan berkembang.[5]

Berdasarkan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pada kelas unggulan  sering muncul persaingan antar peserta didik sehingga suasana kelas lebih hidup.

Pelaksanaan pembelajaran terdapat beberapa komponen yang ada dalam pembelajaran yaitu: komponen pendidik/guru, komponen peserta didik, materi, metode, media, strategi, sarana dan prasarana, dan evaluasi. Mengenai komponen pembelajaran tersebut peneliti melakukan wawancara serta observasi untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas unggulan di pondok pesantren al-Ansor dan dalam hal ini adalah kelas satu unggulan putra sebagai objek penelitian dalam penelitian ini dan hasilnya adalah sebagai berikut:

a.       Komponen pendidik/guru

Pendidik/guru adalah komponen terpenting dalam proses pembelajaran karena pembelajaran tak akan berlangsung tanpa adanya pendidik/guru. Maka dalam pembelajaran guru yang harus disiapkan adalah guru yang memiliki niat untuk memajukan pendidikan, menguasai materi dengan baik, bisa menjadi teladan bagi siswanya, menguasai metode serta siap mengikuti pembinaan-pembinaan guru, berpikir terbuka dan disiplin serta terus mengembangkan diri menuju kompetensial optimal.

Mengenai guru-guru yang mengajar pada kelas satu unggulan putra peneliti melakukan wawancara dengan kepala madrasah dan hasilnya adalah bahwa guru yang ditetapkan mengajar pada kelas satu unggulan putra itu adalah guru yang telah terpilih untuk mengajar pada kelas unggulan, dan secara umum penentuannya adalah dari latar belakang pendidikan apakah gurunya lulusan S1 atau S2 dan mereka adalah guru terampil dalam mengajar dan sudah berpengalaman sehingga ditempatkan  mengajar pada kelas unggulan.[6]

Adapun nama-nama dan latar belakang pendidikan guru endidikan agama Islam pada kelas 1 unggulan putra yang diteliti pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1)       Maysaroh, M.Pd, mengampu mata pelajaran Tarekh (SKI)

2)      Mhus’ab, S.Pd.I, mengampu mata pelajaran Al-Quran Tahfiz

3)      Jono, M.Pd, mengampu mata pelajaran Pikih dan Hadist

4)      Ali Amru, S.Pd.I mengampu mata pelajaran Akhlak

5)      Abadi Husein, Lc mengampu mata Pelajaran Tauhid.

Berdasarkan pengamatan peneliti yang dilakukan pada tanggal 13 februari 2018 saat guru  PAI melaksanakan proses pembelajaran ternyata guru PAI memang terlihat sangat terampil dalam mengajar, dikatakan terampil karena gurunya dapat mengusai kelas dengan baik sehingga siswa semangat dalam belajar, guru PAI terlihat sangat cocok perannya sebagai guru karena mampu menjadi tauladan bagi muridnya dan  sangat bersahabat dengan anak-anak di kelas satu unggulan putra tersebut.[7]

Jumadil Arham mengaku bahwa ia sangat menyukai pembelajaran PAI dan khususnya pembelajaran sejarah kebudayaan Islam karena menurutnya gurunya sangat pandai menjelaskan, dikatakan pandai menjelaskan karena bahasanya yang mudah dimengerti dan suaranya yang menarik saat menjelaskan serta ketegasan yang dimiliki gurunya membuat mereka focus dalam belajar, kalau terkadang mereka suka ngantuk saat belajar tapi untuk pelajaran sejarah kebudayaan Islam mereka bersemangat karena gurunya yang pandai sehingga mereka mudah paham dan gurunya juga tegas sehingga mereka takut ketiduran.[8]

Berdasarkan hasil wawancara di atas ternyata menunjukkan bahwa guru yang ada pada kelas satu unggulan putra adalah guru-guru pilihan yang memiliki keterampilan khusus dan dinyatakan mampu untuk mengajar pada kelas unggulan.

b.      Komponen peserta didik/siswa

Siswa juga merupakan salah satu komponen yang sama pentingnya dengan komponen pendidik/guru, sama halnya dengan guru maka pembelajaran juga tidak akan dapat dilaksanakan tanpa adanya peserta didik. Dalam hal ini adapun siswa yang masuk kedalam kelas unggulan ialah siswa-siswa yang masuk melalui seleksi sehingga siswa-siswa yang ada dalam kelas unggulan adalah orang-orang pilihan dengan prestasi tertentu serta minat dan bakat yang ada dalam diri siswa tersebut.

Adapun siswa yang berada di kelas  unggulan putra terdiri dari 4 kelas dan pada setiap kelas terdiri dari 20 orang siswa. Siswa yang berada pada kelas tersebut adalah siswa yang sudah berhasil melalui seleksi di awal masuk sekolah.

Pada awal tahun 2010 dilakukan pretest bagi setiap siswa baru, hal ini dilakukan guna meningkatkan kualitas siswa (in put) yang akan dibina di pondok pesantren Al-Ansor. Perekrutan tersebut bersifat diterima atau tidak diterima. Baru pada tahun berikutnya ada klasifikasi siswa yang diterima pada kelas unggulan dan kelas reguler.

Pre test dilakukan untuk memisahkan pendaftar yang diterima dan yang tidak diterima, kemudian yang diterima agar dapat ditempatkan di kelas yang sesuai dengan kemampuan akademiknya. Peserta didik yang memiliki tes hasil akademik menengah ke atas serta didukung oleh kemampuan ekonomi akan di tempatkan pada kelas unggulan. Sedangkan santri yang hasil tes akademiknya menengah kebawah akan ditempatkan di kelas regular.

Mengenai siswa yang ada pada kelas satu unggulan putra, peneliti melakukan wawancara dengan kepala madrasah tentang penentuan siswa yang masuk ke kelas unggulan dan hasilnya adalah bahwa siswa kelas unggulan itu dipilih melalui seleksi dan seleksi yang dilakukan adalah dengan melakukan pre test di awal masuk sekolah dan juga siswa-siswa tersebut diuji bacaan al-Qurannya selain itu juga orang tua siswa ditanyakan kesediaannya apakah mengizinkan anaknya belajar pada kelas unggulan karena dari segi materi kelas unggulan ini mengeluarkan materi yang lebih banyak dari kelas lainnya (kelas reguler), kemudian di akhir semester akan ada pertukaran kelas dimana siswa dengan prestasi tinggi di kelas regular akan dimasukkan ke kelas unggulan jika orang tuanya menyetujui dan siswa unggulan dengan prestasi rendah bisa dipindahkan ke kelas reguler.[9]

c.       Materi

Materi yang ada dalam kurikulum harus diperdalam, diperkaya dan diperluas. Sehubungan dengan hal tersebut maka konsekuensinya akan ada tambahan waktu belajar. Selain itu dengan bertambahnya alokasi waktu yang ada memberikan peluang kepada siswa kelas unggulan untuk mengembangkan bakat, minat,dan keterampilan seoptimal mungkin.

Materi pembelajaran yang diberikan kepada kelas unggulan dilebihkan baik dari segi kuantitas dan kualitasnya dari pada kelas reguler. Kuantitas yang dimaksudkan adalah jumlah jam pelajaran formal pada setiap harinya pada kelas unggulan sebanyak tiga kali yaitu pagi, sore dan malam.

Peneliti melakukan wawancara dengan Buya Jono yaitu salah seorang guru PAI dalam bidang piqih mengenai materi yang digunakan pada siswa kelas unggulan dan beliau menyampaikan bahwa materi yang diajarkannya pada kelas 1 unggulan putra yaitu sesuai dengan kurikulum yang disediakan sekolah, dan pada kelas 1 unggulan materi yang ia gunakan adalah tentang thaharah, sholat, puasa, dan lain-lain, dan itu disesuaikan dengan kurikulum yang ada. Begitu pula dengan guru pendidikan agama Islam dalam bidang lain yaitu tarekh, al-Quran tahfiz, hadist, tauhid, ahklak dan pikih mereka menggunakan materi yang ditentukan oleh kurikulum sekolah yang telah disediakan.[10]

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa materi yang digunakan pada kelas unggulan adalah disesuaikan dengan kurikulum sekolah dan tentunya memiliki target yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu serta dikembangkan lebih mendalam.

d.      Metode

Metode adalah cara yang ditempuh oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran pada siswa. Ada berbagai metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam. Penggunaan metode tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan pada materi pembelajaran yang akan disampaikan agar sesuai dengan metodenya.

Mengenai metode pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran pikih dan hadist yang diampu oleh satu orang guru yaitu buya Jono peneliti melakukan wawancara dengan beliau mengenai metode dan strategi yang digunakan dalam pembelajaran, dan hasilnya adalah: Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI saya lebih banyak menggunakan pada metode ceramah yaitu ketika menjelaskan pelajaran contohnya ketika pembahasannya adalah tentang hukum maka metodenya adalah metode ceramah, dan juga menggunakan metode demonstrasi ketika materi menuntut untuk di demonstrasikan contohnya ketika pada materi wudhu dan sholat maka menggunakan metode demostrasi, dan Tanya jawab. sedangkan strateginya saya menggunakan strategi ekspositori yaitu pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai pelajaran dengan optimal.[11]

Kemudian dalam bidang tarekh peneliti melakukan wawancara dengan guru tarekh yaitu Ummi Maisaroh mengenai metode yang di gunakan dan hasilnya adalah: dalam melaksanakan pembelajaran saya selalu menggunakan metode ceramah dan tentunya juga metode kisah dan ibrah agar anak-anak lebih faham. Kadang-kadang setelah selesai menjelaskan saya akan meminta salah satu siswa untuk menceritakan kembali sejarah yang telah dipelajari.[12]

Pada bidang akhlak peneliti juga melakukan wawancara dengan guru yang bersangkutan yaitu Buya Ali Amru dan peneliti memperolah jawaban bahwa metode yang digunakan pada pembelajaran akidah akhlak tetap menggunakan metode mendhobit, ceramah dan tentunya juga menggunakan metode tauladan karena guru merupakan contoh bagi muridnya maka guru akidah akhlak tentunya harus memberikan tauladan yang patut dicontoh oleh muridnya.[13]

Mengenai pembelajaran al-Quran tahfiz peneliti melakukan wawancara dengan guru yang bersangkutan yaitu Buya Mhus’ab dan hasilnya bahwa metode yang digunakan juga adalah metode hafalan dan muroja,ah karena dalam mempelajaran Al-ura’an tahfiz anak-anak akan disuru menghafal ayat-ayat al-Quran kemudian juga disuruh mengulah agar hafalannya tidak lupa.[14]

Adapun metode pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran Tauhid peneliti melakukan wawancara dengan Buya Abadi Husein selaku guru pada mata pelajaran tersebut dan hasilnya adalah bahwa metode yang digunakan pada awalnya adalah mendhobit, lalu menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan masudnya dan terkadang juga menggunakan metode kisah dengan menceritakan kisah-kisah tentang bagaimana Rasululloh menanamkan akidah kepada para sahabat dann ummatnya.[15]

Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah seorang murid Kelas unggulan di pondok pesantren al-Ansor yang bernama Gusnaldi Lubis, hasilnya adalah sebagaimana berikut: Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada sangat  menyenangkan sekali, karena guru PAI dalam memberi materi menggunakan metode-metode yang bervariasi, kadang kami juga ketika materinya tentang shalat kami langsung mempraktekkannya di musholla. Sedangkan untuk kendala yang saya hadapi ketika pembelajaran PAI hanya ketika teman-teman ramai sendiri sehingga konsentrasi bisa hilang.[16]

Jumadil Arham mengatakan ia menyukai pembelajaran PAI yang disampaikan gurunya karena menurutnya gurunya sangat menyenangkan dan pandai menjelaskan.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut metode yang digunakan dalam pembelajaran PAI pada kelas satu unggulan putra lebih menekankan pada metode ceramah, metode kisah, metode tauladan, metode ibrah, metode hafalan, metode muroja’ah dan metode demonstrasi dan itu semua disesuaikan dengan materi yang sedang dipelajari. Karena program unggulan memiliki target lebih banyak dari  program biasanya, maka Guru PAI disini menggunakan alokasi waktu yang lebih banyak serta memanfaatkan sebaik mungkin sarana dan prasarana yang ada.. Pendekatan pembelajaran khusus bagi anak-anak berkecerdasan tinggi yaitu menggunakan pendekatan seluruh ranah (sikap, emosi, kognisi dan psikomotor) sehingga muncul pemikiran kreatif. Hal ini sesuai dengan tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) bahwa proses Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dilalui dan dialami oleh siswa di sekolah dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya.Tahapan afeksi ini terkait dengan kognisi, dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama islam. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak untuk mengamalkan dan menaati ajaran islam (tahapan psikomotorik ) yang telah diinternalisasi dalam dirinya.

e.       Media

Media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar  yang terjadi dapat dilakukan melalui berbagai perantara dengan memakai alat bantu secara langsung.

Semua alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai pendidikan dan pengajaran agama kepada siswa adalah media, segala sesuatu benda dapat dipakai sebagai media pengajaran agama seperti papan tulis, buku pelajaran, bulletin board dan display, film atau gambar hidup, radio pendidikan, televise  pendidikan, computer, karya wisata

Mengenai media pembelajran peneliti melakukan wawancara dengan Ummi Maisaroh yaitu guru PAI dalam pada mata pelajaran tarekh dan hasilnya adalah bahwa media yang digunakan saat menyampaikan pelajaran adalah media audio visual dengan menampilkan film animasi tentang sejaarah yang akan dipelajari. Jadi film animasi tersebut sangat membantu siswa untuk memahami materi sejarah yang dipelajari.

Mengenai media pembelajaran, berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 9 Februari 2018 saat guru pendidikan agama Islam menyampaikan materi pelajaran itu dengan menggukan media yang biasa digunakan oleh guru-guru lain seperti papan tulis, buku pelajaran, kadang juga menggunakan komputer. Penyampaian materi berlangsung dengan metode ceramah, metode hafalah, metode kisah, metode tauladan dan terkadang metode demonstrasi karena pondok pesantren Al-Ansor adalah pesantren yang masih salafi dan masih menggunakan kitab-kitab kuning yang berbahasa Arab jadi dalam proses pembelajaran guru terlebih dahulu mengartikan materi yang ingin disampaikan dan siswa menulis artinya di bukunya atau sering diistilahkan dengan mendhobit. Kemudian setelah mengartikan barulah dijelaskan oleh guru dan siswa mendengarkan lalu jika materi memungkinkan untuk dipraktekkan maka mereka mengadakan praktek.[17]

Berdasarkan hasil observasi peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam masih menggunakan media pembelajaran yang sederhana seperti biasanya dikarenakan kebiasaan belajar dipesantren adalah dengan mendhobit kitab-kitab kuning lalu dijelaskan.

f.       Strategi

Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu strategi yang menjelaskan tentang komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran pendidikan agama dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama-sama dengan bahan-bahan tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

Mengenai strategi pembelajaran yang digunakan peneliti melakukan wawancara dengan buya jono mengenai strategi yang digunakan dalam pembelajaran, dan hasilnya adalah: Dalam pelaksanaan Pembelajaran PAI saya menggunakan strategi ekspositori yaitu pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai pelajaran dengan optimal.[18]

 

g.      Sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran adalah komponen yang harus ada pada kelas unggulan untuk mendukung pembelajaran  adapun sarana dan prasarana tersebut adalah  sepert tersedianya ruangan perpustakaan, laboratorium sesuai kebutuhan, ruangan kelas yang memadai serata sarana dan prasarana lain yang dibutuhkan untuk kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan bahwa sarana dan prasarana yang ada di kelas satu unggulan putra sudah cukup mamadai.[19]  Untuk lebih jelasnya sarana dan prasarana pondok pesantren Al-Ansor dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4. 4

Sarana dan prasarana pondok pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu

No

Jenis Bangunan

Jumlah Ruang Menurut Kondisi (Unit)

Baik

Rusak Ringan

Rusak berat

1

Ruang Kelas

28

 

 

2

Ruang Kepala Madrasah

1

 

 

3

Ruang Guru

1

 

 

4

Ruang Tata Usaha

1

 

 

5

Laboratorium Komputer

1

 

 

6

Laboratorium Bahasa

1

 

 

7

Ruang Usasa Kesehatan Sekolah (UKS)

1

 

 

8

Ruang Keterampilan

1

 

 

9

Ruang Kesenian

1

 

 

10

Ruang Bimbingan Konseling

1

 

 

11

Masjid/Musholla

2

 

 

12

Kamar Asrama Siswa

9

 

 

13

Kamar Asrama Siswi

8

 

 

14

Kursi Siswa

593

 

 

15

Meja Siswa

297

 

 

16

Meja Guru dalam Kelas

22

 

 

17

Papan Tulis

44

 

 

18

Laptop

3

 

 

19

Printer

3

 

 

20

Mesin photo copy

 

 

1

21

LCD Proyektor

3

 

 

22

Layar (Screen)

2

 

 

23

Meja Guru dan Tenaga Kependidikan

22

 

 

24

Kursi Guru dan Tenaga Kependidikan

22

 

 

25

Lemari arsip

3

 

 

(Sumber: Dokumen Data Siswa Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017)

h.      Evaluasi

Tekhnik evaluasi pendidikan adalah suatu proses yang digunakan dalam rangka penilaian dalam belajar, maupun untuk kepentingan perbaikan situasi, proses, serta kegiatan belajar dan mengajar.

Mengenai evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran peneliti melakukan wawancara dengan Imam Rizki seorang siswa kelas 1 unggulan putra, ia mengatakan bahwa evalusi yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam adalah essay test dan pengevaluasian ini dilakukan setiap menyelasaikan satu bab pembelajaran dan evaluasi yang lainnya adalah saat ujian semester dan itu juga menggunakan essay test dengan soal berbahasa Arab dan jawabannya juga berbahasa Arab sesuai dengan buku pegangan mereka. Jumlah essaynya juga bervariasi terkadang lima soal dan terkadang sepuluh soal.[20]

Peneliti juga melakukan wawancara dengan Buya Jono mengenai evaluasi yang dilakukan dalam pembelajaran dan beliau menjelaskan bahwa evaluasi yang digunakan ada beberapa macam evaluasi yang ia lakukan dalam pembelajaran yaitu: yang pertama evaluasi harian, evaluasi ini ia lakukan setiap hari yaitu dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa mengenai pembahasan pada pertemuan tersebut dan evaluainya adalah secara lisan, yang kedua evaluasi ujian tengah semester yaitu dengan memberi beberapa soal ujian dalam bentuk essay test untuk beberapa butir pertanyaan, dan ini dilakukan disetiap pertengahan semester. Dan yang ketiga adalah ujian semester, ujian ini juga dilakukan dalam bentuk essay test dan diadakan disetiap akhir semester.[21]

Berdasarkan hasil wawancara di atas ternyata menunjukkan bahwa ternyata di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada  kelas satu unggulan putra di pondok pesantren al-Ansor berjalan seperti apa yang telah direncanakan oleh kepala madrasah dan guru PAI kelas unggulan, tempat pembelajaran biasanya dilakukan di dalam kelas sedangkan untuk materi seperti materi wudhu langsung praktek di lapangan ataupun di luar kelas. Guru juga memanfaatkan alokasi waktu yang tersedia cukup luang untuk mempelajari pembelajaran lebih dalam agar tujuan pembelajaran dapat dicapai semaksimal mungkin. Hal ini tentunya sangat mendukung dalam pembelajaran PAI pada kelas unggulan.

2.      Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran PendidikanAgama Islam Pada Program kelas Unggulan Di Pondok Pesantren Al-Ansor

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang biasanya dilalui oleh siswa tingkat SMP selama tiga tahun dengan waktu setengah hari, sedangkan untuk program unggulan dilalui dalam seharian penuh. Dari hal ini tentu ada faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam program kelas unggulan.

a.       Faktor Pendukung

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di lapangan, terdapat beberapa faktor  pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas satu unggulan putra di pondok pesantren al-Ansor.

Ada beberapa faktor pendukung dari pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas unggulan sebagai berikut:

1)      Guru, guru pada kelas satu unggulan putra adalah guru yang berkualifikasi berdasarkan latar belakang pendidikan tinggi.

Sehubungan dengan hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Madrasah. Adapun hasil dari wawancara tersebut adalah sebagai berikut: Ada tiga (3) faktor pendukung di dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama islam kelas  unggulan di pondok pesantren al-Ansor ini. Pertama, Gurunya lebih banyak yang sudah menempuh pendidikan hingga S2 sehingga sangat mendukung saat melaksanakan pembelajaran. Kedua, Siswanya lebih antusias dan bersemangat. Ketiga, Sarana dan Prasarana yang memadai, seperti ruangan kelas yg bagus dan nyaman.[22]

Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa guru dengan latar belakang pendidikan tinggi juga menjadi faktor yang mendukung pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas unggulan, guru yang terampil membuat anak-anak mudah memahami pelajaran dan mampu mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan dengan bimbingan guru yang baik.

 

 

2)      Siswa, siswanya lebih antusias dan bersemangat karena rata-rata siswanya adalah siswa-siswa berprestasi.

Berdasarkan wawancara sebelumnya juga bahwa anak-anak yang ditempatkan pada kelas satu unggulan putra adalah anak-anak yang memiliki prestasi di kelasnya sehingga ketika anak-anak yang sama cerdas bergabung dalam satu kelas akan menimbulkan keantusiasan dalam belajar karena anak-anak cerdas tersebut sudah memiliki bekal ilmu lebih di dalam dirinya.

Sesuai dengan pengakuan Gusnaldi Lubis bahwa saat berlangsungnya proses pembelajaran dia merasa sangat semangat karena tidak mau kalah dari kawan-kawannya yang lain, jadi karena tidak ingin tertinggal dari kawan-kawan yang lain iapun belajar dengan semangat dan sungguh-sungguh.[23]

3)      Sarana dan Prasarana yang mendukung.

Peneliti melakukan wawancara dengan Buya Jono selaku guru pendidikan agama Islam program kelas unggulan, dan hasilnya adalah sebagai berikut: Faktor pendukungnya adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, alokasi waktu yang cukup banyak sehingga guru memiliki waktu yg cukup untuk menjelaskan pembelajaran serta anak-anak yang sudah diseleksi masuk kelas unggulan dengan tingkat prestasi yang lebih tinggi daripada siswa nonunggulan.[24]

4)      Suasana yang kondusif yang mendukung pembelajarn PAI karena pada kelas unggulan siswanya dibatasi hanya sampai 20-30 orang per kelas dengan kondisi meja serta kursi perorangan.

Peneliti juga melakukan pengamatan saat peroses pembelajaran berlangsung dan dari pengamatan peneliti bahwa peroses pembelajaran PAI pada kelas satu unggulan putra berlangsung sangat aktif karena siswa-siswa pada kelas unggulan memiliki tingkat percaya diri yang lebih tinggi karena mereka berani menjawab pertanyaan guru saat ditanya dan juga terkadang mereka aktif bertanya. Kepercaya dirian yang ada dalam diri siswa itu muncul karena mereka sudah memiliki bekal ilmu untuk mengungkapkan pengetahuan mereka. Jadi dalam kelas unggulan itu rata-rata adalah siswa-siswa pilihan yang memiliki kecerdasan lebih tinggi dibanding siswa non unggulan. Dan itu menjadi salah satu faktor pendukung dalam pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas unggulan.[25] Sesuai dengan pengakuan Gusnaldi Lubis bahwa saat berlangsungnya proses pembelajaran dia merasa sangat semangat karena tidak mau kalah dari kawan-kawannya yang lain, jadi karena tidak ingin tertinggal dari kawan-kawan yang lain iapun belajar dengan semangat dan sungguh-sungguh.[26]

 

b.      Faktor Penghambat 

Selain faktor pendukung ada juga faktor penghambat, dan dari observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor penghambat di dalamPembelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelas unggulan di pondok pesantren Al-Ansor.

Adapun paftor-faktor yang menjadi penghambat pembelajaran pendidikan Agama Islam pada kelas unggulan di pondok pesantren al-Ansor adalah sebagai berikut:

1)      Masalah yang paling pokok adalah kepadatan waktu sehingga siswa sering mengeluh lelah dan bosan.

Peneliti melakukan wawancara dengan Imam Rizki seorang siswa kelas satu unggulan putra dan mengaku bahwa terkadang ia merasa malas belajar karena kondisinya kurang fit dan itu karena terlalu lelah dengan waktu yang padat diisi dengan belajar di kelas dan ia juga kadang malas makan dengan alasan malas ke kantin karena jauh dari asrama kalau nanti disempatkan makan ke kantin ia takut akan terlambat masuk ke kelas jadi kadang ia semangat dan kadang tidak semangat karena memang anak-anak mengalami naik turunnya kondisi fisik terkadang bugar dan terkadang lemas dan jadi malas belajar.[27]

Gusnaldi Lubis menambahkan belajar PAI pada kelas unggulan kadang susah karena faktor waktu yang padat mulai dari pagi sampai siang hingga sore dan dilanjtkan lagi dimalam harinya membuat ia merasa lelah, bosan dan konsentrasinya menurun. [28]

2)      Faktor dari siswa: rasa bosan, lelah dan malas sehingga proses pembelajaran terkadang kurang semangat.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan buya jono selaku guru Pendidikan Agama Islam program kelas unggulan, hasilnya adalah: Hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam program kelas unggulan itu ada 3, Pertama siswa yang nakal karena merasa pintar, kedua, waktu yang adat membuat siswa jenuh dan malas belajar.[29]

Sejalan dengan observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 30 Februari 2018 bahwa disaat jam siang pelajaran anak-anak mulai terlihat lesu dan capek saat pembelajaran, itu terlihat dari raut muka anak-anak yang sangat jelas terlihat mengantuk bahkan ada yang sampai tertidur dan sebagian dari mereka ada yang izin keluar kelas untuk cuci muka dan berwudhu.

3)      Faktor dari Guru: ada sebagian kecil guru tidak siap ditempatkan pada kelas unggulan. Latar belakang pendidikan guru, seharusnya guru yang mengajar program kelas unggulan minimal lulusan S2 namun masih ada beberapa guru pada program kelas unggulan yang masih S1.

Mengenai hal ini peneliti melakukan wawancara dengan Maisaroh guru Pendidikan Agama Islam pada kelas unggulan, dan hasilnya adalah sebagai berikut: Secara umum, hambatan pada pelaksanaan pembelajaran program unggulan ada tiga, yaitu: Pertama, faktor dari kejenuhan siswa (Putus asa) karena terkadang siswa merasa bosan dan lelah dengan kepadatan jadwal belajar yang dibebankan kepada mereka, dan tidak jarang ditemukan bahwa siswa mengalami masalah psikologis disebabkan masalah-masalah yang ia hadapi diasrama seperti mendapat hukuman dan lain-lain sehingga menyebabkan siswa tersebut malas belajar. kedua,. Faktor dari guru, terkadang guru tidak siap untuk mengajar di kelas unggulan  karena kurang mampu menguasai materi atau tidak mampu menjelaskan pelajaran secara terang kepada siswa. Ketiga, fasilitas yang kurang memadai, seharusnya pada program kelas unggulan sudah tersedia internet untuk belajar tapi kenyataannya belum tersedia.[30]

C.    Pembahasan

Pembelajaran pendididikan agama Islam pada kelas unggulan di pondok pesantren al-Ansor Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara ini, peneliti melihat beberapa hal yang penting dan yang bisa dijadikan bahan pelajaran. Pembelajaran pendidikan agama Islam sangat penting bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pembelajaran pendidikan agama Islam juga merupakan kegiatan yang dilakukan seorang guru untuk mencapai keberhasilan dalam memperkuat iman dan ketaqwaan siswa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan mata rantai alur kehidupan Muslim yang diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari. Pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai suatu harta ilmuan diberikan kepada peserta didik yang membutuhkan dan dijadikan pula aset meraih kehidupan yang terorganisir dan terarah demi kepentingan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas  unggulan adalah salah satu model pembelajaran  pendidikan agama yang dilaksanakan pada kelas khusus. Tujuannya agar peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa tidak hanya menguasai dalam bidang-bidang umum saja, melainkan agar peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa mampu menjadi siswa yang berkualitas; memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang berimbang. Sehingga dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan bentuk sikap berbudi pekerti luhur dan bermartabat serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga halnya program kelas unggulan yang ada di pondok pesantren al-Ansor, siswa yang masuk kelas unggulan memiliki kecerdasan khusus dan mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan umum, tapi yang paling menarik untuk di jadikan bahan kajian adalah di dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yang mana siswa unggulan yang cenderung eksklusif mempelajari Pendidikan Agama Islam yang bermuatan nilai-nilai islam, agar siswa unggulan mampu berbudi pekerti luhur.

Sebagaimana data yang diperoleh dari lapangan, pembelajaran pendidikan agama Islam pada kelas unggulan mengacu pada kurikulum yang sama dengan program reguler, perbedaannya hanya dalam penentuan pengalokasian waktu yang lebih banyak. Dari data yang diperoleh dilapangan, di dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama islam pada program kelas unggulan, tidak ada perbedaan secara khusus dengan program reguler. Perbedaannya hanya terletak pada penyusunan perencanaan pembelajaran yang harus disesuaikan dengan ketentuan alokasi waktu yang telah dipersiapkan oleh kepala madrasah, yang waktunya sangat banyak dan guru harus menggunakannya sebaik mungkin. Data yang diperoleh dari lapangan, bahwa kurikulum program kelas unggulan menggunakan kurikulum 2013 yang secara standar isi sama, akan tetapi berbeda dalam alokasi waktunya. Pengalokasian waktu dibuat secara khusus oleh kepala madrasah bekerjasama dengan kurikulum  sekolah. Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran. Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan.

Adapun pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam pada program kelas unggulan di pondok pesantren al-Ansor  ini berjalan seperti yang telah direncanakan yakni berjalan lebih cepat dari program reguler sesuai dengan pengalokasian waktu yang telah dibuat.

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan ternyata siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam, ada beberapa hambatan yang dialami siswa, namun hambatan itu masih bisa diatasi sedemikian rupa artinya hambatan tersebut tidak terlalu besar dalam mempengaruhi proses pembelajaran, meskipun ada beberapa hambatan, siswa juga merasa senang dengan metode yang diterapkan oleh Guru Pendidikan Agama Islam.

Pada proses penyampaian materi pendidikan agama Islam, guru lebih banyak menerapkan pada metode ceramah, tauladan, ibrah, dan Tanya jawab. Selain itu guru melakukan pembelajaran dengan demonstrasi agar siswa bisa langsung mempraktekkan apa yang dipelajari, dengan demikian diharapkan siswa kelas unggulan mampu mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana telah ditentukan. Salah seorang Informan mengatakan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam  pada program kelas unggulan kadang siswa langsung saya ajak ke lapangan. Untuk memperagakan apa yang dipelajari seperti pada materi thaharah, dan manfaat yang bisa diambil sangat banyak.

 



                [1] Dokumen Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017.

                [2] Dokumen Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017.

                [3]Amma Zahrona, Kepala Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, 20 Februari 2018.

                [4]Dokumen Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tahun 2017.

                [5]Amma Zahrona, Kepala Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [6]Amma Zahrona, Kepala Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [7] Observasi Di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, 13 Februari 2018.

                [8]Jumadil arham, Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  26 Januari 2018.

                [9]Amma Zahrona, Kepala Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [10] Jono, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [11]Jono, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [12]Maisaroh, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [13]Ali Amru, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  26 Januari 2018.

                [14]Mhus’ab, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  26 Januari 2018.

                [15]Abadi Husein, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [16]Gusnaldi Lubis, Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [17] Observasi Di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  9 Februari 2018.

                [18]Jono, M.Pd, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [19] Observasi Di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 13 Februari 2018.

                [20]Imam Rizki, Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  28 Januari 2018.

                [21] Jono, M.Pd, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [22]Amma Zahrona, Kepala Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [23]Gusnaldi Lubis , Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [24]Jono, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [25]Observasi Di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  13 Februari 2018.

                [26]Gusnaldi Lubis , Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [27]Imam Rizki, Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [28]Gusnaldi Lubis, Siswa Kelas Satu Tsanawiyah Unggulan Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah, 25 Januari 2018.

                [29]Jono, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

                [30]Maisaroh, M.Pd, Guru PAI Tsanawiyah Pesantren Al-Ansor Desa Manunggang Julu Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Di Sekolah,  25 Januari 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.

  “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”. BAB II KAJIAN TEORI A.     Pengemba...