Jumat, 17 Juni 2022

BAB IV MUTU MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MIN 2 PASAMAN (Studi Kasus: Perencanaan, Pengorganisasian, Pengawasan, dan Evaluasi)

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.    Temuan Umum

1.      Sejarah Berdirinya MIN 2 Pasaman

 

Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Pasaman terletak di Muara Bangun, Kecamatan Padang Gelugur Kabupaten Pasaman Sumatera Barat. Madrasah ini berdiri pada tahun 1972, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman merupakan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS), kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Muara Bangun, dan menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman. Namun sebelum tahun 1972 di Kabupaten Pasaman hanya ada dua Madrasah Ibthida’iyah, Madrasah Ibtidaiyah Bonjol dan Madrasah Ibtidaiyah Air Bangis.

Berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Muara Bangun atas Partisipasi dan Swadaya Masyarakat Muara Bangun. Keadaan MIN Muara Bangun awalnya berlantai tanah dan atap rumbia, dengan Kepala Madrasah Bapak Mansyur Siregar, berkat semangat juang beliau untuk menghidupkan pendidikan dan didorong oleh masyarakat Muara Bangun yang 100% beragama Islam Menginginkan agar di bangun sekolah yang bernaung di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan kepala sekolah pertama Bapak Mansyur Siregar, sesuai dengan hasil musyawarah antara masyarakat setempat, maka didirikanlah sebuah sekolah agama Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) pada tahun 1972 dan disepakati juga lokasinya bertepatan di Muara Bangun, dengan jumlah murid pertama sekolah ini sebanyak 60 orang terdiri dari kelas I, II, III dengan Gedung belajar dua lokal, karena kelas I dan kelas II masuk dengan bergantian.

Pada masa kepemimpinan H. Kules, Madrasah ini semakin berkembang dari Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), MIS Muara Bangun mengusulkan kepada Pemerintah untuk penegerian sekolah, tepatnya tanggal 25 Oktober 1993 keluarlah surat keputusan Menteri Agama No. 224 tahun 1993 di Jakarta yang ditanda tangani oleh Menteri Agama Republik Indonesia Bapak Dr. H. Tarmizi Taher, Maka Madrasah Ibtidaiyah Swasta berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Muara Bangun.[1]

Uniknya, masyarakat di Muara Bangun ini tidak menginginkan didirikannya sekolah dasar lain yang bersifat umum meskipun penduduknya sudah ramai. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab di Muara Bangun hanya terdapat Madrasah Ibtidaiyah.Madrasah ini sudah mampu bersaing dengan sekolah umum yang terdapat di Kecamatan Padang Gelugur.Meskipun pendidikan yang terdapat di sekolah umum lebih maju baik dari segi sarana dan prasarananya dibangdingkan dengan MIN 2 Pasaman.Orang tua justru menyekolahkan anaknya ke MIN dengan alasan untuk lebih menimba ilmu agama. Hal ini sesuai dengan Visi Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Pasaman yakni “Mewujudkan madrasah berstandar nasional yang handal dan religius, berakhlak mulia, berprestasi, sehat jasmani dan rohani  bertanggung jawab serta peduli terhadap lingkungan”.

Sejak berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) hingga sekarang, madrasah ini sudah berusia 46 tahun dan periode kepemimpinannya sudah sebanyak 8 kali periode. Tiga periode sebelum Madrasah Ibtidaiyah di negerikan dan sebanyak 5 (lima) periode setelah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) berganti menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Muara Bangun. Dan pada periode ke-8 ini berganti menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman.

Tahun pertama setelah penegerian di pimpin oleh H. Kules selama 9 tahun.  Setelah menjabat selama dua periode, kepala madrasah digantikan kembali oleh  Mansyur Siregar yang merupakan tokoh yang mempelopori berdirinya madrasah. Empat tahun masa jabatan Bapak Mansyur Siregar, beliau digantikan oleh Adrinofia (2006-2011) yang berasal dari Lubuk Sikaping yang menjabat selama lima tahun, kemudian digantikan oleh Bapak Muhammad Yanto (2011-2015) yang pada masa kepemimpinannya  perkembangan madrasah semakin meningkat baik dari segi kedisiplinan siswa, guru ataupun sarana dan prasarana. Periode yang terakhir adalah masa kepemimpinan Indria Fitri (2015-2018) yang merupakan kepala madrasah pertama yang dipimpin oleh seorang wanita. Pada periode ini Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Muara Bangun mengalami peningkatan dari akridistas B menjadi akriditas A. Dan pada masa jabatan beliau Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN)Muara Bangun berganti menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman.

Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman masih tetap ada dan satu-satunya sekolah yang setingkatan dengan sekolah dasar yang berada di Muara bangun, sekolah ini merupakan salah satu sekolah MIN yang terdapat di Kabupaten Pasaman dari tiga sekolah MIN yang ada, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah Bonjol dan Madrasah Ibtidaiyah Air Bangis, masyarakat setempat juga tidak memberikan izin kepada pemerintah untuk mendirikan Sekolah Dasar yang bersifat umum. Masyarakat merasa takut apabila didirikan Sekolah Dasar sehingga minat orang tua siswa akan semakin berkurang untuk menyekolahkan anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman. Tahun ke tahun jumlah peserta didik terus bertambah hingga tercatat pada tahun 2017/2018 jumlah peserta didik keseluruhan berjumlah 277 orang peserta didik .[2] Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pasaman  ini juga sudah terakredisi A (Amat Baik), hal ini menandakan madrasah ini sudah mampu bersaing dan menghasilkan lulusan yang berkulitas.[3]

2.      Visi dan Misi MIN 2 Pasaman

      Adapun visi dan misi MIN 2 Pasaman

a.       Visi  Madrasah

Mewujudkan madrasah berstandar nasional yang handal dan religius, berakhalak mulia, berprestasi, sehat jasmani dan rohani  bertanggung jawab serta peduli terhadap lingkungan”

b.      Misi Madrasah

1)            Mewujudkan madrasah berstandar nasional yang handal

2)            Mewujudkan warga madrasah sebagai generasi yang santun, taat beribadah serta trampil dalam pengamalan

3)            Menguatkan pendidikan agama di madrasah

4)            Menjadikan madrasah yang berperstasi

5)            Meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan

6)            Mengembangkan kurikulum yang adaptif

7)            Mengupayakan ketersediaan sarana dan prasarana yang representatif

8)            Menerapkan evaluasi pembelajaran sebagai basis peningkatan mutu pendidikan

9)            Mengoptimalkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan PAIKEM

10)        Mewujudkan kantin sekolah yang bersih, sehat dan nyaman

11)        Meningkatkan kesiapsiagaan warga madrasah menghadapi bencana.

12)        Menerapkan manajemen berbasis madrasah dan mengoptimalkan peran serta masyarakat.

13)        Membudayakan perilaku hidup bersih,  sehat, dan cinta lingkungan hidup dan melestarikannya.

14)        Mengupayakan iklim yang kondusif bagi tumbuh kembang anak sehingga peka terhadap lingkungan.

15)        Mengembangkan program dan kegiatan untuk mengoptimalkan bakat dan minat siswa.

16)        Mengupayakan PPLH melalui kegitan yang berorientasi pada lingkungan.

c.       TujuanMadrasah

1)            Membentuk warga madrasah yang santun, taat beribadah serta trampil dalam pengamalan

2)            Memperkuat pendidikan agama di madrasah

3)            Meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan

4)            Memiliki dan melaksanakan kurikulum yang adaptif

5)            Memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang representatif

6)            Menerapkan evaluasi pembelajaran sebagai basis peningkatan mutu pendidikan

7)            Siswa mencapai kelulusan dengan nilai optimal

8)            Mengimplementasikan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan PAIKEM

9)            Terwujudnya kantin sekolah yang bersihsehat dan nyaman

10)        Menerapkan manajemen berbasis madrasah dan mengoptimalkan peran serta masyarakat

11)        Membentuk pribadi yang berbudaya hidup bersih, sehat, cinta lingkungan dan berupaya melestarikannya

12)        Melaksanakan kegiatan untuk merespon keadaan lingkungan  sekitar

13)        Terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh kembang anak sehingga terbentuk perilaku peka terhadap lingkungan

14)        Meningkatkan kesiap siagaan warga Madrasah menghadapi bencana

15)        Mengkondisikan kesiapan warga madrasah dalam menghadapi bencana

16)        Mengembangkan program dan kegiatan untuk mengoptimalkan bakat dan minat siswa

17)        Menghasilkan lulusan yang berkualitas,  berpengetahuan, religius, berakhalak mulia, berprestasi, sehat jasmani dan rohani, bertanggung jawab, pembelajar sejati sepanjang hayat, dan siaga bencana dan bertaqwa pada Allah swt.

18)        Termanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang berguna

19)        Optimalkan pemakaian air, listrik, ATK dan sarana prasarana Madrasah.[4]

3.      Sarana dan Prasarana MIN 2 Pasaman

 Tabel 1

Sarana dan prasana di MIN 2 Pasaman

 

No

Jenis Sarana dan Prasana

Jumlah

1

Ruang Kepala Sekolah

1 Ruangan

2

Ruang Wakil Kepala Sekolah

1 Ruangan

3

Ruang Guru

1 Ruangan

4

Ruang TU

2 Ruangan

5

Ruang Belajar

12 Ruangan

6

Ruang BK

 1 Ruangan

7

Ruang UKS

 1 Ruangan

8

Gudang Pramuka

1 Ruangan

9

Ruang serba Guna

1 Ruangan

10

Ruang Perpustakaan

1 Ruangan

11

WC Guru

1 Ruangan

12

WC Peserta Didik

 1 Ruangan

Sumber data: data administrasi di MIN 2 Pasaman.

 

 

 

4.      Keadaan Pendidik dan Peserta Didik MIN 2 Pasaman

Sesuai dengan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa keadan guru di MIN 2 Pasaman suadah memadai, dilihat dari tenaga pendidik dan latar belakang pendidikannya.

 

Tabel 2

Keadaan Pendidik di MIN 2 Pasaman

No

Nama

L/P

Mata Pelajaran

1

INDRIA FITRI, S.Ag, M.Mpd

P

Kepala Sekolah

2

Abdul Maulub, S.Pd.I

L

Wali Kelas 6

3

Aftrina Deny, S.Pd. Sd

P

Wali Kelas 1

4

Beni Nuari, S.Pd

L

Staf TU

5

Dasma Wati,S.Pd.I

P

SKI/Tafidz, Fikih

6

Dwinda Lestari,S.Pd

P

Seni Budaya/Penjaskes

7

Eddy Saputra, A.Md

L

Staf TU

8

Elfi Hidayati, S.Pd

P

Wali Kelas 2

9

Etri Yunita,S.Pd

P

Matematika

10

Husmayanti,S.Pd.I

P

Wali Kelas 5

11

Ida Mardiah,S.Pd.I

P

Wali Kelas 4

12

Jeliderwita,S.Pd.I

P

Wali Kelas 3

13

Kholijah, S.Pd.I

P

Staf TU

14

Leni Susanti, S.Pd.I

P

Wali Kelas 4

15

Lisma Warni,S.Pd.I

P

Tahfidz, Akidah Akhlak.

16

Misra,S.Pd.I

P

Akidah Akhlak,

17

Mukhlizal,S.Pd.I

L

Wali Kelas 3

18

Murni.M,S.Pd.

P

Wali Kelas 6

19

Saripa Hanum,S.Pd.I

P

Bahasa Arab

20

Susila Wati, S.Pd

P

Wali Kelas 5

21

Welna Yeti,S.Pd.I

P

Wali Kelas 2

22

Yulismar, S.Pd.I

L

Fikih, SKI

23

Yusni Eti,S.Pd.I

P

Wali Kelas 1

24

Yusuf Riadi, S.Pd.I

L

Penjaskes

Sumber data: data administrasi di MIN 2 Pasaman.

Tabel 3

Keadaan Peserta Didik di MIN 2 Pasaman

No

Jenis Kelamin

Jumlah

Peserta Didik

Laki-Laki

Perempuan

Kelas 1

13 Peserta Didik

39 Peserta Didik

52 Peserta Didik

Kelas 2

12 Peserta Didik

  37 Peserta Didik

49 Peserta Didik

Kelas 3

10  Peserta Didik

35 Peserta Didik

45 Peserta Didik

Kelas 4

12 Peserta Didik

35 Peserta Didik

47 Peserta Didik

Kelas 5

13 Peserta Didik

32 Peserta Didik

45Peserta Didik

Kelas 6

9 Peserta Didik

30Peserta Didik

39Peserta Didik

Jumlah

Peserta Didik

Peserta Didik

277 Peserta Didik

Sumber data: data administrasi di MIN 2 Pasaman.

B.     Temuan Kusus

1.      Manejemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, bahwa manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman merupakan suata kajian tentang konsep pembelajaran atau cara pembelajaran yang akan dilakukan, sehingga sangat perlu untuk dijabarkan agar terlaksanakannya aktivitas atau proses pembelajaran yang profesional dan mampu menghasilkan pengetahuan mengenai pegelolaan, strategi dan gaya mengajar guru dalam menentukan keberhasilan atau mencapai tujuan pengajaran. Sehingga proses pembelajaran tersebut bisa berjalan dengan efektif, dan mampu menciptakan keunggulan mutu pendidikan agama Islam.[5]

Berdasarkan wawancara dengan bapak Abdul Maulub, selaku wakil kesiswaan, bahwa manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman yang dilaksanakan dalam proses pendayagunaan seluruh komponen pembelajaran yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan program pembelajaran terutama dalam memotivasi pelajar dengan meningkatkan dan mendorong daya tarik tehadap pelajaran, melibatkan pelajaran lebih kuat dengan pengalaman yang lebik bermakna, dan pembentukan kepribadian bagi tiap-tiap individu dalam pengajaran, yang digunakan dalam memotivasi peserta didik mencapai pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan pemahaman tehadap dunia sekitar mereka, agar tertanamkan jiwa atau pendidikan agama Islam maka dalam semua pengajaran tersebut tidak luput dari ajaran agama Islam karena apapun pelajarannya semua itu bisa di kaitkan dengan ajaran agama Islam, baik pelajaran umum lainnya seperti Matematika, IPS, IPA/SAINS, Bahasa Indonesia, Kesenian, dan Olahraga,  Sehingga mampu menciptakan strategi manajemen pembelajaran yang efektif didalam organisasional pembelajaran atau kegiatan belajar-mengajar.[6]

Berdasarkan uraian diatas sejalan dengan hasil observasi peneliti bahwa, manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman merupakan suatu program yang digunakan agar program pembelajaran bisa berjalan dengan efektif, dan mampu menciptakan keunggulan mutu pendidikan agama Islam baik mengenai pegelolaan, konsep, cara, profesional strategi, metode, dan gaya mengajar guru dalam menentukan keberhasilan atau mencapai tujuan pengajaran. yang dilaksanakan dalam proses pendayagunaan seluruh komponen pembelajaran yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan program pembelajaran terutama dalam memotivasi peserta didik dan mampu megablikasikan kepribadian, pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan pemahaman agar tertanamkan jiwa atau pendidikan agama Islam.[7]

a.       Perencanaan Pembelajaran

Berdasarkan wawancara dengan ibu Indria Fitri, bahwa perencanaan yang dilakukan dalam pembelajaran terlaksana dengan baik dengan mempertimbangkan segala segala komponen baik dari kesesuaian guru dalam bidangnya dan pelajaran sesuai dengan tingkatannya. Proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya yang diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan pembelajaran dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam perencanaan pembelajaran ini seorang guru dituntut melaksanakan dengan baik agar bisamencapai tujuan mengajar, karena pendidik yang akan menjadi fasilitator utama, media, dan sumber utama dalam belajar, jadi seorang pendidik yang lebih mampu merancang penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran,sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.[8]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Elfi Hidayati, selaku wakil kurikulum bahwa manajemen perencanaan pembelajaran diprogramkan dan disesuaikan dengan kurun waktu yang akan dibutuhkan sehingga pelaksanaan dari manajemen perencanaan dapat berjalan dengan baik dan mengenai penentuan alokasi waktu dan minggu efektif, menyusun program tahunan (prota), menyusun program semester (prosem), menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang akan diselenggarakan sudah mempunyai perkiraan atau taraf ketercapaian.[9]

Berdasarkan wawancara dengan bapak Abdul Maulub, selaku wakil kesiswaan, bahwa manajemen perencanaan yang telah diprogramkan harus dilaksanakan.[10] Jadi setiap ada program yang telah ditetapkan baik itu program perencanaan pembelajaran dan segala program yang berkaitan dengan sekolah itu sudah menjadi tanggungjawab seluruh rekan kerja di MIN 2 Pasaman. Mengenai penentuan alokasi waktu dan minggu efektif, menyusun program tahunan (prota), menyusun program semester (prosem), menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sudah dimusyawarakan diawal semester mengenai disiplin kerja.

Berdasarkan wawancara dengan bapak Eddy Saputra, selaku petugas tata usaha, bahwa perencanaan yang telah diprogramkan di awal semester sudah mencakup kepada kerja atau tanggungjawab pendidik, hasil kerja akan dilaporkan melalui petugas tata usaha, jadi setiap permasalahan mengenai proses pembelajaran yang mempunyai kendala akan dilaporkan agar bisa ditindak lanjuti atau ditangani sesuai  pemecahan masalah yang seharusnya seperti jika ada seorang guru yang berhalangan dalam pembelajaran maka akan di laporkan dan di pindahkan kepada guru pengganti sehingga proses pembelajaran masih tetap beranjut, jika kendalanya fasilitas atau ada media terjadi kerusakan maka akan dilaporkan agar di benahi kembali sehingga tidak terhalangnya proses pembelajaran seperti: papan tulis, alat peraga yang rusak dan buku bacaan yang diperlukan.[11]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Ida Mardiah, selaku wali kelas 5A, bahwa perencanaan pembelajaran yang sudah ditetapkan akan dilaksanakan semaksimal mungkin untuk memperoleh keberhasilan dalam pembelajaran. Sebagai guru wali kelas harus mengetahui atau mampu mengembangkannya secara baik dengan keterampilan dalam melaksanakannya agar sesuai dengan ajaran agama Islam. Apabila ada kendala dalam pembelajaran seorang guru juga harus mampu mengatasinya agar proses pembelajaran tetap terlaksanakan.[12]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Husma Yanti, selaku wali kelas 4A, bahwa perencanaan pembelajaran di MIN 2 Pasaman sudah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan yang telah ditetapkan mengenai pelaksanaanya sudah termasuk terhadap kewajiban seorang guru untuk melaksanakannya. Jika terdapat kendala dalam pembelajaran seorang guru juga harus mampu mengatasinya agar proses pembelajaran tetap terlaksanakan.[13]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Leni Susanti, selaku wali kelas 4B bahwa manajemen perencanaan pembelajaran yang sudah diprogramkan seperti penentuan alokasi waktu dan minggu efektif, menyusun program tahunan (prota), menyusun program semester (prosem), menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), akan diupayakan oleh pendidik agar peserta didik mampu mencapai keberhasilan dengan itu maka kualitas pendidikan juga akan baik.[14]

Berdasarkan wawancara dengan ibuMurni, selaku wali kelas 6B bahwa manajemen perencanaan pembelajaran yang diprogramkan mengenai penentuan alokasi waktu dan minggu efektif, menyusun program tahunan (prota), menyusun program semester (prosem), menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), disesuaikan tugas atau kewajiban seorang pendidik yang akan menjalankannya.[15]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Susila Wati, selaku wali kelas 5B, bahwa perencanaan pembelajaran di MIN 2 Pasaman yang akan  dilaksanakan sudah baik sesuai dengan yang telah ditetapkan. Berhasilnya proses pembelajaran itu ditentukan oleh seorang pendidik. Apabila pendidik menjalankan dengan baik maka perencanaan yang dibuat akan dapat terlaksanan dengan baik.[16]

Berdasarkan uraian diatas sejalan dengan hasil observasi peneliti bahwa,manajemen perencanaan pembelajaran merupakan suatu rancangan agar pembelajaran terlaksana dengan baik. Dalam memanajemen rencana pembelajaran harus mempertimbangkan segala komponen yang saling mempengaruhi, seperti strategi, metode, dan gaya mengajar guru dalam menentukan keberhasilan atau mencapai tujuan pendidikan yang memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran,sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.Mengenai penentuan alokasi waktu dan minggu efektif, menyusun program tahunan (prota), menyusun program semester (promes), menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp), yang akan diselenggarakan sudah mempunyai perkiraan atau taraf ketercapaian jadi pendidik harus berusaha mencapainya.[17]

b.      Pengorganisasian Pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, bahwa Pegorganisasian dalam pembelajaran yaitu tentang pembagian tugas atau wewenang kerja yang sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kemampun dari pendidik dalam megemban tugasnya. Yang terpenting selama mengerjakan tugasnya pendidik harus bertanggungjawab dengan segala sesuatu yang terkait dengan pembelajaran seperti: pendayagunaan fasilitas, perlengkapan dan personal yang diperlukan dan mampu membentuk komponen pembelajaran dalamstruktur sekolah, membentuk struktur wewenang dalam pembelajaran, menentukan dan mendesain pembelajaran dengan mengorganisasikan alokasi waktu,media, metode, dan kelengkapan pembelajaran,dan lainnya yang berkaitan dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan belajar.[18]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Elfi Hidayati, selaku wakil kurikulum bahwa manajemen pengorganisasian sudah disesuaikan, penempatan personilnya dipertimbangkan berdasarkan lulusannya dan kemampuan yang dimiliki seorang pendidik terhadap pelajaran yang akan diajarkannya. Selain itu setiap pendidik ditugaskan untuk menjalankan segala peraturan kedisiplinan baik kepada peserta didik dan pendidik itu sendiri. Mengenai pengolahan kelas semua di posisikan dengan tepat baik dari segi fisik seperti kurang penglihatan dan pendengaran, maupun faktor lainya seperti teman sebangku dan teman kelompok belajar.[19]

Berdasarkan wawancara dengan bapak Abdul Maulub, selaku wakil kesiswaan, bahwa pegorganisasian pembelajaran yaitu tentang pembagian tugas seorang pendidik itu merupakan tanggung jawab pendidik. Jadi apabila sudah diberi wewenang terhadap suatu tugas untuk melaksakan proses pembelajaran yang baik maka tugas itu harus dilaksanakan. Mengenai pengolahan kelas pendidik harus mampu memberi posisi yang tepat,  baik dari segi fisik seperti kurang penglihatan dan pendengaran, maupun faktor lainya seperti teman sebangku dan teman kelompok belajar.[20]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Ida Mardiah, selaku wali kelas 5A,bahwa pegorganisasian pembelajaran yaitu tentang tugas yang telah diberi tersebut merupakan tanggung jawab seorang pendidik dalam pelaksanaan dan pengaplikasian terhadap mata pelajaran sehingga setiap komponen pembelajaran itu dapat terlaksana dengan baik dalam proses pembelajaran.[21]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Husma Yanti, selaku wali kelas 4A, bahwa pegorganisasian dalam pembelajaran yaitu terlaksananya pembagian tugas atau wewenang kerja yang sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kemampun dari pendidik dalam megemban tugasnya sehingga pendidik harus bertanggungjawab dengan segala tugasnya agar dijalankan dengan baik. Mengenai pengolahan kelas pendidik harus mampu memberi posisi yang tepat,  baik dari segi fisik seperti kurang penglihatan dan pendengaran, maupun faktor lainya seperti teman sebangku dan teman kelompok belajar.[22]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Leni Susanti, selaku wali kelas 4B bahwa manajemen pengorganisasian yaitu tentang tugasnya pendidik harus bertanggungjawab dengan segala sesuatu yang terkait dengan pembelajaran seperti: pendayagunaan fasilitas, perlengkapan dan personal yang diperlukan untuk mendukung terlaksnanya proses pembelajaran dengan baik.[23]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Murni, selaku wali kelas 6B bahwa manajemen pengorganisasian  dengan tugasnya pendidik dalam membentuk komponen pembelajaran dalam struktur kegiatan belajar, membentuk struktur wewenang dalam pembelajaran, menentukan dan mendesain pembelajaran dengan mengatur alokasi waktu, media, metode, dan kelengkapan pembelajaran, agar terlaksannya kegiatan belajar dengan tepat.[24]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Susila Wati, selaku wali kelas 5B, bahwa pegorganisasian pembelajaran dengan tanggung jawab seorang pendidik dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar atau pengaplikasian terhadap mata pelajaran sehingga setiap komponen pembelajaran itu dapat terlaksana dengan baik dalam proses pembelajaran sehingga sesuai antara materi, media, sumber belajar (fasilitas pembelajaran).[25]

Berdasarkan uraian di atas sejalan dengan hasil observasi peneliti bahwa, pegorganisasian dalam pembelajaran tentang pembagian tugas atau wewenang kerja yang sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kemampuan dari pendidik dalam megemban tanggungjawab tugasnya. Dalam proses pembelajar pendidik harus mampu mengorganisir sumber  daya pembelajaran dan mengolah kelas. Sehingga mampu mendayagunakan fasilitas, perlengkapan dan personal yang diperlukan dan mampu membentuk komponen pembelajaran dalam struktur sekolah, membentuk struktur wewenang dalam pembelajaran, menentukan dan mendesain pembelajaran dengan mengorganisasikan alokasi waktu,media, metode, dan kelengkapan pembelajaran, dan lainnya yang berkaitan dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan belajar.

c.       Pengawasan  Pembelajaran

Berdasarkan wawancara dengan dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, bahwa manajemen pengawasan pembelajaran yang dilaksanakan di MIN 2 Pasaman ini tegas  dengan cara melakukan Pemantauan terhadap cara kerja pendidik berdasarkan laporan yang telah dilakukannya proses pembelajaran. Apabila terdapat beberapa kelemahan dalam mengajar maka seorang pendidik diberi tips atau cara yang lebih baik agar mampu menciptakan peserta didik yang handal berupa pelatihan. Dalam pengawasan ini kepala sekolah berperan sebagai motivator dan teladan jadi kepala sekolah juga harus mampu memberi contoh kerja yang baik, kerja sama yang baik, dan mempunyai kedisiplinan dalam tugasnya dengan bijaksana.[26]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Elfi Hidayati, selaku wakil kurikulum bahwa pengawasan pembelajaran yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pendidik terhadap hasil belajar peserta didik, kemudian hasil evaluasi tersebut akan di pantau mengapa dan apa yang mempegaruhi tingkat ketercapaian peserta didik sehingga bisa ditanggulangi dan dibenahi dengan baik.[27]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Husma Yanti, selaku wali kelas 4A, bahwa manajemen pengawasan pembelajaran yang dilakukan pada peserta didik selama proses pembelajaran, apakah peserta didik tersebut mengikuti pembelajaran dengan baik dan apakah ada kendala yang hambatan yang dialami peserta didik selama proses tersebut berlangsung.[28]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Leni Susanti, selaku wali kelas 4B bahwa manajemen pengawasan dilakukan selama proses pembelajaran, atau sebisa mungkin melakukan pengawasan baik dalam proses pembelajaran atau di luar pembelajaran, di dalam maupun di luar sekolah. Pengawasan dilakukan dalam proses pembelajaran berguna untuk memotivasi belajar peserta didik, jika di luar pembelajaran, di dalam maupun di luar sekolah yaitu untuk lebih mendidik tindakannya berupa teguran.[29]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Murni, selaku wali kelas 6B bahwa manajemen pengawasan dilakukan berguna untuk memotivasi belajar peserta didik, untuk lebih mendidik tindakannya peserta didik agar lebih baik lagi.[30]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Susila Wati, selaku wali kelas 5B, bahwa manajemen pengawasan yang dilakukan apabila ada kejanggalan peserta didik itu diberi teguran dan nasehat.[31]

Berdasarkan uraian di atas sejalan dengan hasil observasi peneliti bahwa, manajemen pengawasan pembelajaran dengan melakukan pemantauan terhadap cara kerja dalam proses pembelajaran. Apabila terdapat beberapa kelemahan dalam mengajar maka seorang pendidik diberi tips atau cara yang lebih baik agar mampu menciptakan peserta didik yang handal berupa pelatihan. Sementara dalam pembelajaran yaitu dengan memantau peserta didik apakah peserta didik tersebut mengikuti pembelajaran dengan baik dan apakah ada kendala yang hambatan yang dialami peserta didik selama proses pembelajaran sehingga bisa ditanggulagi. Mengenai karakter siswa itu dipantau juga baik dalam proses pembelajaran atau di luar pembelajaran, di dalam sekolah maupun di luar sekolah, apabila  ada kejanggalan tentang karakter peserta didik itu diberi teguran dan nasehat.[32]

d.      Evaluasi Pembelajaraan

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, bahwa evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan yaitu melakukan ujian kepada peserta didik untuk mengetahui tingkat ketercapaian terhadap materi yang diberikan dan mengetahui kendala yang diperoleh, kemudian hasil evaluasi tersebut dilaporkan. Adapun yang dilaporkan yaitu mengenai laporan pendidik tentang sejauh mana materi yang telah dipelajari peserta didik, tingkat peguasaan pegetahuan dan keterampilan peserta didik terhadap materi ajar yang telah ditentukan, sehingga dalam megevaluasi kemampuan peserta didik bisa diketahui bagaimana taraf pengetahuan peserta didik, mengetahui kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran dan mengetahui sejauh mana perkembangan belajar peserta didik. Sehingga bisa melakukan laporan hasil belajar siswa kepada orangtua peserta didik.[33]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Ida Mardiah, selaku guru wali kelas bahwa evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan berupa melakukan ulangan harian setiap selesai satu materi atau pemberian tungas untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, melakukan  ujian tengah semester untuk megetahui perkembangan peserta didik kemudian hasilnya dilaporkan kepada orang tua berupa raport banyangan, melakukan ujian semester dan akhir semester untuk menentukan apakah peserta didik tersebut bisa naik ke kelas berikutnya dan memberi nilai terhadap usaha belajarnya selama satu dan dua semester, dan memberi tahu siswa yang memiliki prestasi tinggi sehingga peserta didik yang lainnya termotivasi dan berusaha lebih baik.[34]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Husma Yanti, selaku wali kelas 4A, bahwa evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, berupa pemberian tugas, ujian harian, melakukan  ujian tengah semester dan ujian semester. Jika peserta didik memiliki kelemahan dalam suatu bidang tertentu maka seorang guru harus lebih berupaya meningkatkan cara mengajarnya.[35]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Leni Susanti, selaku wali kelas 4B bahwa evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, serta mengetahui tingkat keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran, agar peserta didik dan pendidik bisa melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran.[36]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Murni, selaku wali kelas 6B bahwa manajemen evaluasi pembelajaran  yang dilakukan di MIN 2 Pasaman dengn melaksanakan program ulangan tengah semester, dan latihan yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran baik peserta didik dan pendidik.[37]

Berdasarkan wawancara dengan ibu Susila Wati, selaku wali kelas 5B, bahwa manajemen evaluasi pembelajaran yang dilakukan dengan cara mendiagnostik kelemahan atau keunggulan peserta didik  yang kemudian dianalisis penyebabnya atau sebab-sebab terjadinya kelemaha dan keunggulan tersebut.[38]

Berdasarkan uraian di atas sejalan dengan hasil observasi peneliti bahwa, evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan dengan  melakukan ujian kepada peserta didik untuk mengetahui tingkat ketercapaian peserta didik serta mengetahui tingkat keberhasilan seorang guru dalam mengajar serta dari hasil evaluasi tersebut maka akan diketahui sejauh mana materi yang telah dipelajari, tingkat peguasaan pegetahuan atau pemahaman, keterampilan, kelemahan peserta didik, dan sejauh mana perkembangan belajar peserta didik. Bagi pendidik, jika peserta didik memiliki kelemahan dalam suatu bidang tertentu maka seorang guru harus lebih melihat apa penyebab atau kendalanya dan pendidik juga harus berupaya meningkatkan cara mengajarnya peserta didik mampu mencapai hasil yang baik.

Dapat disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman yang diterapkan mulai manajemen perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan evaluasi dilaksanakan  agar program pembelajaran bisa berjalan dengan efektif, dan mampu menciptakan keunggulan mutu pendidikan agama Islam dengan tepat dan baik.

2.      Mutu Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, bahwa mutu manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman sudah baik  bisa dilihat dari segi pengaplikasiannya yaitu terlaksanya manajemen pembelajaran yang telah diterapkan dengan hasil yang baik.[39]

Berdasarkan wawancara dengan bapak Abdul Maulub, selaku wakil kesiswaan, bahwa mutu manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman sudah baik dapat dilihat terlaksanya manajemen pembelajaran yang diterapkan dengan hasil yang baik maka dikatakan manajemen itu bermutu.[40]

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Elfi Hidayati, adapun manajemen yang sudah dilaksanakan di MIN 2 Pasaman baik sebagai berikut:

a.         Terlaksananya Manajemen Perencanaan Pembelajaran

Manajemen perencanaan pembelajaran di MIN 2 Pasaman terlaksana dengan sangat baik atau berkesinambungan antara program yang telah direncanakan sehingga saling mempengaruhi dalam pelaksanaan pembelajaran seperti kesesuaian program tahunan (Prota), program semester (Promes), alokasi waktu dan minggu efektif, silabus pembelajaran, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

b.         Terlaksananya Manajemen Pengorganisasian Pembelajaran

1)        Pembagian tugas dan wewenag seorang guru

2)        Penempatan guru pendidikan agama sesuai bidangnya sehingga pendidik munguasai bahan ajar yang akan diajarkannya

3)        Pemberian tanggungjawab kepada guru terhadap kedisiplinan yang akan diterapkan

4)        Guru menjalankan segala tugas dan tanggungjawab yang diberikan

c.         Terlaksananya Manajemen Pengawasan  Pembelajaran

Pelaksanaan Manajemen Pengawasan  Pembelajaran di MIN 2 Pasaman yaitu:  pemantauan terhadap perkembangan peserta didik dalam proses pembelajaran, pemantauan terhadap kinerja guru dalam proses pembelajaran, dan menindak lanjuti hasil pemantauan dengan cara melakukan musyarah perbaikan kenerja guru dan memberi tips yang lebih baik mengenai pengajaran.

d.        Terlaksananya Manajemen Evaluasi Pembelajaraan

Adapun pelaksanaan manajemen evaluasi pembelajaraan di MIN 2 Pasaman yaitu: laporan pendidik tentang sejauh mana materi yang telah dipelajari peserta didik, laporan tingkat peguasaan pegetahuan dan keterampilan peserta didik terhadap materi ajar yang telah ditentukan, untuk mengetahui taraf pengetahuan peserta didik, laporan tentang kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran dan mengetahui sejauh mana perkembangan belajar peserta didik. Dan melakukan laporan hasil belajar siswa berupa raport sebagai laporan hasil kepada siswa dan orangtua peserta didik.[41]

Dapat disimpulkan bahwa mutu manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman sudah baik bisa dilihat dari segi pengaplikasiannya yaitu terlaksanya manajemen pembelajaran yang telah diprogramkan mulai dari perencanaan, penorganisasian, pengawasan, dan evaluasi pembelajaran dengan yang baik.

3.      Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, Pendidikan agama Islam dengan memberikan pendidikan yang dapat memberi pengaruh atau pendewasaan agar mampu menjadi manusia yang cakap dalam memaknai kehidupan dunia dan akhirat untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia, seperti dalam membina peserta didik, memperkenalkan dan mengembangkan pengetahuan tentang hukum-hukum agama Islam.[42]

Berdasarkan wawancara dengan bapak Abdul Maulub, selaku wakil kesiswaan, bahwa pendidikan agama Islam yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan pemahaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga dalam pendidikan agama Islam harus memuat mata pelajaran keislaman seperti: Baca Tulis Al-Qu’an, Fiqih, Akidah Akhlak, Qur’an Hadits, Tafsir, Bahasa Arab, Tahfiz Qur’an, dan Praktek Ibadah.[43]

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Elfi Hidayati, bahwa pendidikan agama Islam yang dilakukan di MIN 2 Pasaman dengan cara memberikan wawasan tentang ilmu-ilmu agama mampu memperbaiki nilai-nilai moral, sikap dan tingkah laku manusia serta membina budi pekerti seperti kebenaran, keikhlasan, kejujuran, keadilan, agar dapat membentuk pribadi yang cakap untuk hidup dalam masyarakat dikehidupan dunia dan  sebagai jembatan emas untuk mencapai kebahagiaan ukhrawi. [44]

Dapat disimpulkan bahwa, pendidikan agama Islam dengan memberikan pendidikan yang dapat memberi pengaruh atau pendewasaan  yang baik agar mampu menjadi manusia yang cakap dalam memaknai kehidupan dunia dan akhirat untuk meningkatkan keimanan yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan pemahaman peserta didik tentang agama Islam, serta memberikan wawasan tentang ilmu-ilmu agama mampu memperbaiki nilai-nilai moral, sikap dan tingkah laku manusia serta membina budi pekerti seperti kebenaran, keikhlasan, kejujuran, keadila, dan saling menghormati.

4.      Kendala dalam memanajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Indria Fitri, selaku kepala sekolah di MIN 2 Pasaman, bahwa dalam memanajemen pembelajaran masih terdapat beberapa kendala didalamnya. Sehingga terhambatnya perkembangan atau penyaluran minat belajar dan potensi belajar yang seharusnya dipenuhi dan didukung oleh pemerintahah.[45] Adapun kendala yang dihadapi dalam melaksanakan manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini yaitu:

1)      Sarana dan Prasarana Pembelajaran

Adapun kendala dalam sarana dan prasarana yaitu tidak adanya perpustakaan sebagai tempat membaca, tempat buku-buku bacaan yang dapat dipergunakan sebagi penambahan wawasan dan tidak adanya musollah dan tempat wudhunya sebagai tempat ibadah di Madrasah untuk mengaplikasikan ibadah sunnah seperti penerapan shalat dhuha,  mengaji bersama, praktek shalat, praktek wudhu dan lainnya. Kendala ini diakibatkan karena 2 hal yaitu:

a)      Kurangnya lokasi atau lahan untuk melakukan pembangunan seperti pembangunan musollah, pembangunan perpustakaan, dan laboraturium. Karena sudah dipenuhi perumahan warga setempat. Sehingga terhambatnya pembangunan sarana dan prasarana.

b)      kurang biaya anggaran atau dana untuk melakukan inovasi atau pembangunan sehingga sarana dan prasarana, fasilitas, dan sumber belajar masih tidak terpenuhi secara baik seperti kekurangan dana atau biaya terhadap biaya pembangunan sarana dan prasana musollah, UKS, laboraturium komputer, laboraturium biologi, gudang, alat-alat peraga, perpustakaan, dan bank sampah

2)      Media dan Sumber Pembelajaran

Adapun kendala yang ditemui adalah kurangnya media-media pembelajaran yang dapat membantu proses pembelajaran seperti: buku paket/LKS, alat hitung untuk kelas 1, infokus, komputer, dan alat peraga lainnya. Karena sekarang semakin berkembangnya teknologi sudah banyak teknologi yang sudah diperlukan di dalam proses pembelajaran seperti laboraturium komputer agar bisa memperkenalkan anak tentang cara pendayagunaan dari teknologi bukan hanya teori.

Dapat disimpulkan bahwa kendala yang dihadapi dalam memanajemen pembelajaran pendidikan agama Islam dibidang sarana dan prasarana, media dan sumber pembelajaran yang kurang memadai.

5.      Cara Mengatasi kendala dalam memanajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman

 

Berdasarkan kendala-kendala yang terdapat diatas maka pihak sekolah atau guru-guru sudah melakukan beberapa upaya atau cara mengatasinya diantaranya:

1)      Melakukan musyawarah bersama komite sekolah mengenai perbaikan sarana dan prasarana pada tanggal 23 November 2018. Mengajukan proposal pembangunan kepada pemerintahan atau lembanga pendidikan pada tanggal 25 Januari 2018 atau sesuai dengan yang ada pada lampiran.[46] Membangun gedung serba guna dan rancangan renovasi gedung atau ruangan bertingkat agar bisa menambah ruangan seperti laboraturium, perpustakaan, musollah.[47]

2)      Melakukan musyawarah dan mengajukan proposal agar mengeluarkan bantuan perlengkapan media dan sumber belajar yang memadai.

Dapat disimpulkan bahwa cara mengatasi kendala dalam manajamen pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilakukan di MIN 2 Pasaman dengan melakukan musyawarah dengan komite, membangun gedung serba guna dan rencana membangun gedung bertingkat.

C.    Analisis Hasil Penelitian

Manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan di MIN 2 Pasaman yaitu manajemen  yang mampu menciptakan keunggulan mutu pendidikan agama Islam, dan pegelolahan program pembelajaran yang efektif, dalam mencapai tujuan atau menentukan keberhasilanpengajaran. Selain itu dalam proses pendayagunaan seluruh komponen pembelajaran harus saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan program pembelajaran terutama dalam memotivasi peserta didik dan mampu megablikasikan kepribadian, pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan pemahaman agar tertanamkan jiwa atau pendidikan agama Islam. Adapun keadaanmanajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman,sehingga dikatakan bahwa manajemennya bermutu sebagai berikut:

1.        Terlaksananya manajemen perencanaan pembelajarandengan baik. Seperti yang diprogramkan kepada setiap pendidik dalam melaksanakan manajemen rencana pembelajaran harus mempertimbangkan segala komponen yang saling mempengaruhi, seperti strategi, metode, dan gaya mengajar guru dalam menentukan keberhasilan atau mencapai tujuan pendidikan yang memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran,sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.Mengenai penentuan alokasi waktu dan minggu efektif, menyusun program tahunan (ProTa), menyusun program semester (promes), menyusun silabus pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang akan diselenggarakan sudah mempunyai perkiraan atau taraf ketercapaian jadi pendidik harus berusaha mencapainya.

2.        Terlaksananya manajemen dalam pembelajaran yaitu tentang pembagian tugas atau wewenang kerja yang sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kemampuan dari pendidik dalam megemban tanggungjawab tugasnya. Dalam proses pembelajar pendidik dituntun mampu mengorganisir sumber daya pembelajaran dan mengolah kelas. Sehingga mampu mendayagunakan fasilitas, perlengkapan dan personal yang diperlukan dan mampu membentuk komponen pembelajaran dalamstruktur sekolah, membentuk struktur wewenang dalam pembelajaran, menentukan dan mendesain pembelajaran dengan mengorganisasikan alokasi waktu,media, metode, dan kelengkapan pembelajaran,dan lainnya yang berkaitan dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan belajar.

3.        Terlaksananya manajemen pengawasan pembelajaran seperti pemantauan terhadap cara kerja pendidik dalam proses pembelajaran. Apabila terdapat beberapa kelemahan dalam mengajar maka seorang pendidik diberi tips atau cara yang lebih baik agar mampu menciptakan peserta didik yang handal berupa pelatihan. Sementara dalam proses pembelajaran yaitu dengan memantau peserta didik apakah peserta didik tersebut mengikuti pembelajaran dengan baik dan apakah ada kendala yang hambatan yang dialami peserta didik selama proses pembelajaran sehingga bisa ditanggulagi. Mengenai karakter siswa itu di pantau juga baik dalam proses pembelajaran atau diluar pembelajaran, di dalam sekolah maupun diluar sekolah, apabila  ada kejanggalan tentang karakter peserta didik itu diberi teguran dan nasehat.

4.        Terlaksananya manajemen evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan yaitu melakukan ujian kepada peserta didik untuk mengetahui tingkat ketercapaian peserta didik serta mengetahui tingkat keberhasilan seorang guru dalam mengajar. Dari hasil evaluasi tersebut maka akan diketahui sejauh mana materi yang telah dipelajari, tingkat peguasaan pegetahuan atau pemahaman, keterampilan, kelemahan peserta didik, dan sejauh mana perkembangan belajar peserta didik. Bagi pendidik, jika peserta didik memiliki kelemahan dalam suatu bidang tertentu maka seorang guru harus lebih melihat apa penyebab atau kendalanya dan pendidik juga harus berupaya meningkatkan cara mengajarnya peserta didik mampu mencapai hasil yang baik.

Jadi Mutu manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman sudah baik dapat dilihat dari terjalankannya semua manajamen atau program yang sudah diterapkan seperti: terlaksananya manajemen perencanaan pembelajaran dengan baik dan tepat, terlaksananya manajemen pengorganisasian pembelajaran, terlaksananya manajemen pengawasan  pembelajaran, terlaksananya manajemen evaluasi pembelajaraan dengan adanya laporan tentang perkembangan siswa.

Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman merupakanpendidikan yang memberikan wawasan tentang ilmu-ilmu agama untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. serta berakhlak mulia, mampu memperbaiki nilai-nilai moral, sikap dan tingkah laku manusia serta membina budi pekerti seperti kebenaran, keikhlasan, kejujuran, keadilan, agar dapat membentuk pribadi yang cakap baik dalam ilmu pengetahuan dan sosialisasinya.

Adapun kendala dan cara mengatasi manajemen pembelajaran pendidikan agama Islam di MIN 2 Pasaman:

1.      Sarana dan prasarana yaitu tidak adanya perpustakaan sebagai tempat membaca, tempat buku-buku bacaan yang dapat dipergunakan sebagi penambahan wawasan dan tidak adanya musollah dan tempat wudhunya sebagai tempat ibadah di Madrasah untuk mengaplikasikan ibadah sunnah seperti penerapan shalat dhuha,  mengaji bersama, praktek shalat, praktek wudhu dan lainnya. Kendala ini diakibatkan karena 2 hal yaitu:

a.         Kurangnya Lokasi atau lahan untuk melakukan pembangunan seperti pembangunan musollah, pembangunan perpustakaan, dan laboraturium. Karena sudah dipenuhi perumahan warga setempat. Sehingga terhambatnya pembangunan sarana dan prasarana.

b.         kurang biaya anggaran atau dana untuk melakukan inovasi atau pembangunan sehingga sarana dan prasarana, fasilitas, dan sumber belajar masih tidak terpenuhi secara baik seperti kekurangan dana atau biaya terhadap biaya pembangunan sarana dan prasana musollah, UKS, laboraturium komputer, laboraturium biologi, gudang, alat-alat peraga, perpustakaan, dan bank sampah

2.      Media dan Sumber Pembelajaran

Adapun kendala yang ditemui adalah kurangnya media-media pembelajaran yang dapat membantu proses pembelajaran seperti: buku paket/LKS, alat hitung untuk kelas 1, infokus, komputer, dan alat peraga lainnya. Karena sekarang semakin berkembangnya teknologi sudah banyak teknologi yang sudah diperlukan di dalam proses pembelajaran seperti laboraturium komputer agar bisa memperkenalkan anak tentang cara pendayagunaan dari teknologi bukan hanya teori.

Cara Mengatasikendala dalam memanajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MIN 2 Pasaman

1.      Melakukan musyawarah bersama komite sekolah mengenai perbaikan sarana dan prasarana pada tanggal 23 November 2018. Mengajukan proposal pembangunan kepada pemerintahan atau lembanga pendidikan pada tanggal 25 Januari 2018 atau sesuai dengan yang ada pada lampiran. Membangun gedung serba guna dan rancangan renovasi gedung atau ruangan bertingkat agar bisa menambah ruangan seperti laboraturium, perpustakaan, musollah.

2.      Melakukan musyawarah dan mengajukan proposal agar mengeluarkan bantuan perlengkapan media dan sumber belajar yang memadai.

 

 

 



[1]Surat Keputusan MenteriAgama RI

[2] Profil MIN Muara Bangun tahun 2017/2018, Pukul 19:30

[3]Sertifikat Akreditasi Madrasah Ibtidaiyah Negeri Muara Bangun: 2015

[4] Hasil Observasi di MIN  2 Pasaman  Pada Tgl 06 Januari 2018, Pukul 09:00

[5]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[6] Abdul Maulub, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 15:00 di MIN  2 Pasaman

[7] Hasil Observasi Peneliti Pada Tanggal , 19 Maret 2018

[8]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[9]Elfi Hidayati, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[10] Abdul Maulub, Wawancara Tgl 08 Januari, Pukul 09:30 di MIN  2 Pasaman

[11]Eddy Saputra, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 10:40 di MIN  2 Pasaman

[12]Ida Mardiah, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:00 di MIN  2 Pasaman

[13]Husma Yanti, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[14]Leni Susanti, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:50 di MIN  2 Pasaman

[15]Murni, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 09:30 di MIN  2 Pasaman

[16]Susila Wati, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 10:20 di MIN  2 Pasaman

[17] Hasil Observasi Peneliti Pada Tanggal , 19 Maret 2018

[18]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[19]Elfi Hidayati, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[20] Abdul Maulub, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:30 di MIN  2 Pasaman

[21]Ida Mardiah, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:00 di MIN  2 Pasaman

[22]Husma Yanti, Wawancara Tgl 16 Maret,  Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[23]Leni Susanti, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:50 di MIN  2 Pasaman

[24]Murni, Wawancara Tgl 16 Maret,  Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[25]Susila Wati, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 10:20 di MIN  2 Pasaman

[26]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[27]Elfi Hidayati, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[28]Husma Yanti, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[29]Leni Susanti, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:50 di MIN  2 Pasaman

[30]Murni, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[31]Susila Wati, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 10:20 di MIN  2 Pasaman

[32] Hasil Observasi Peneliti Pada Tanggal , 19 Maret 2018

[33]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[34]Ida Mardiah, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:00 di MIN  2 Pasaman

[35]Husma Yanti,Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[36]Leni Susanti, Wawancara Tgl 16 Maret,  Pukul 08:50 di MIN  2 Pasaman

[37]Murni, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[38]Susila Wati, Wawancara Tgl 16 Maret, Pukul 10:20 di MIN  2 Pasaman

[39]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[40] Abdul Maulub, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:30 di MIN  2 Pasaman

[41]Elfi Hidayati, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[42]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[43] Abdul Maulub, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:30 di MIN  2 Pasaman

[44]Elfi Hidayati, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 09:00 di MIN  2 Pasaman

[45]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

[46] Sumber data: data administrasi di MIN 2 Pasaman.

[47]Indria Fitri, Wawancara Tgl 06 Januari, Pukul 08:30 di MIN  2 Pasaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.

  “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”. BAB II KAJIAN TEORI A.     Pengemba...