Kamis, 09 Juni 2022

BAB IV PROBLEMATIKA PELAKSANAAN TAHFIZH AL-QUR’AN JUZ 30 DI PONDOK PESANTREN DARUL IKHLAS PANYABUNGAN KECAMATAN PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.           Temuan Umum

1.        Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Penduduk Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 1982 (saat itu Madina masih bergabung dengan Tapsel) sudah mulai diserang arus globalisasi dan westernasi yang mengakibatkan merosotnya nilai-nilai Pendidikan Islam dikalangan masyarakat. Disamping itu masih sangat kurangnya lembaga Pendidikan Islam seperti Madrasah  yang ada pada saat itu dalam menampung anak-anak Islam demi mencapai Pendidikan Islami yang diharapkan dapat menjadi panutan masyarakat untuk mengabdi dan tunduk kepada Allah swt.

Pada malam jum’at tanggal 04 Shafar 1403 H bersamaan dengan tanggal 25 Nopember 1982 M beberapa orang pelajar yang berasal dari Tapanuli Selatan yang sedang belajar di Timur Tengah dengan mengambil tempat di Masjidil Haram Mekkah, mengadakan tukar pikiran tentang peningkatan Pendidikan dan Da’wah Islamiyah di Indonesia pada umumnya dan Tapanuli selatan pada khususnya.

Text Box: 48Dalam pertemuan itu dengan kata sepakat, bulatlah pikiran dan tekat untuk membentuk sebuah yayasan yang diberi nama  Yayasan Al-Ikhlash, yang bertujuan untuk meningkatkan Pendidikan dan Da’wah Islamiyah di Indonesia secara umum dan Tapanuli Selatan secara khusus.

Untuk mencapai tujuan Yayasan tersebut sebagai langkah awal didirikanlah Pesantren Al-Ikhlash pada tahun 1986, dan pada tahun 1987 dimulailah tahun pelajaran baru yang bertempat di Dalan Lidang Kecamatan Panyabungan Kabupaten Tapanuli Selatan (Panyabungan masih bergabung dengan Tapanuli Selatan sekarang sudah menjadi Kabupaten Mandailing Natal) Provinsi Sumatra Utara dengan luas lokasi  pada saat itu kurang lebih 2 hektar dan pada tahun itu juga Pesantren Darul Ikhlas memulai tahun ajaran baru pertama dengan jumlah santri 40 orang, untuk tahun ajaran kedua 100 orang. Pada saat itu masih memiliki 1 gedung 5 ruang belajar dan 1 buah gedung asrama.[1]

Jadi, Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan didirikan pada tahun 1987 yang didirikan oleh beberapa pelajar yang bersekolah Mekkah. Pendirian sekolah ini dikarenakan pada saat itu anak-anak dan masyarakat sudah diserang arus globalisasi sehingga merosotnya nilai-nilai Pendidikan Islam. Pesantren ini berlokasi di berlokasi di jalan Medan Padang Kelurahan Dalan Lidang Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Sehingga pada tahun 1987 dimulailah tahun pelajaran baru dengan jumlah santri 40 orang dan bertambah pada tahun-tahun berikutnya.

 

 

2.        Letak Geografis Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan secara geografis terletak di Kelurahan Dalan Lidang Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal, di sekitar Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan terletak perkampungan, perkebunan, karet masyarakat dan persawahan masyarakat. Untuk lebih jelasnya Lokasi Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan dapat dilihat dengan batas-batas lokasi tersebut:

a.    Sebelah timur berbatasan dengan persawahan

b.    Sebelah utara berbatasan dengan kebun karet

c.    Sebelah barat berbatasan dengan kebun karet

d.   Sebelah selatan berbatasan dengan rumah masyarakat[2]

3.        Visi dan Misi Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Adapun Visi Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan adalah “Menjadikan Pondok Pesantren Darul Ikhlas menjadi sebuah lembaga yang membawa islah pada masyarakat yang berilmu, beramal shaleh dan berakhlak mulia menurut Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah saw.”

Sedangkan Misi Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan adalah sebagai berikut:

a.    Mewujudkan pendidikan yang dikelola dengan menerapkan nilai-nilai Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah saw untuk diterapkan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi karakter mukmin yang berilmu dan bertakwa kepada Allah swt.

b.    Membina insan robbani ke arah mencapai kebaikan dunia dan akhirat.

c.    Menyelenggarakan proses pendidikan yang unggul dan mampu memenuhi kebutuhan anak didik untuk menghasilkan lulusan yang berilmu, berkualitas, mandiri dan berakhlak mulia.

d.   Mewujudkan sumber daya manusia khususnya guru yang amanah dan profesional serta mempunyai komitmen dan kompetensi yang tinggi sehingga mampu memberi yang terbaik bagi ummat manusia dan agama Allah swt.

e.    Memberikan keyakinan teguh serta mengamalkan ajaran Islam secara benar dan konsekuen yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah saw.

f.     Menumbuhkan kapasitas dan potensi siswa dan guru secara maksimal sesuai bakat dan minatnya, sehingga mampu memberi yang terbaik untuk kemaslahatan ummat.[3]

 

 

 

 

4.        Struktur Organisasi Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Mudir

H. M. Usman abdullah

 

 

Ketua Yayasan

H. Amsir Sholeh

 
Struktur Organisasi Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sumber: Dokumen Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Pada Tahun 2021.[4]

5.        Sarana dan Prasarana di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Madrasah Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan mempunyai luas areal 35.000 M2 di atas areal tersebut berdiri gedung Pesantren Darul Ikhlas yang dilengkapi dengan gedung  dan sarana prasarana untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah tersebut.

Untuk mengetahui jelas keadaan fasilitas sarana dan prasarana yang ada di Psantren Darul Ikhlas, dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1

Keadaan Sarana dan Prasarana Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

 No

 

Sarana dan prasarana

 

Jumlah

 

Keadaan

 

 

Ket

Baik

Rusak Ringan

Rusak Berat

1

Ruangan Belajar

36

-

-

-

2

Kantor

2

-

-

-

3

Asrama

30

-

-

-

4

Masjid

1

-

-

-

5

Mushalla

1

-

-

-

6

Kamar Mandi

3

-

-

-

7

Perpustakaan

1

-

-

-

8

Konveksi

1

-

-

-

9

Koperasi

2

-

-

-

10

Lab. Komputer

1

-

-

-

11

Lab. Bahasa

1

-

-

-

12

Klinik Kesehatan

1

-

-

-

13

Lap. Bola Volly

1

-

-

-

14

Lap.Bulu Tangkis

2

-

-

-

15

Lap. Tenis Meja

3

-

-

-

16

Ruang Makan

1

-

-

-

Sumber: Dokumen Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Tahun 2021[5]

 

Berdasarkan data yang di proleh terkait sarana dan prasarana yang ada di Pondok Pseantren Darul Ikhlas Panyabungan sudah cukup dan layak dalam menunjang proses pembelajaran agar mencapai tujuan yang diharapkan. Tetapi dalam hal pembelajaran Tahfiz masih kurang karena proses pembelajaran tahfiz seharusnya dilakukan di ruangan khusus yang lebih kondusif dari ruangan belajar yang lainnya. Maka, perlu dibangun ruangan khusus tahfiz agar proses menghafal ayat Al-Qur’an lebih baik lagi.

6.        Keadaan Guru di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan.

Penyelenggara pendidikan dan pembelajaran akan berjalan dengan baik dan lancar apabila didukung oleh guru yang profesional. Keadaan guru di Pesantern Darul Ikhlas Panyabungan untuk tahun pelajaran 2020/2021 berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2

Keadaan Guru Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No

 

Nama

Tingkat Pendidikan

Jabatan

1

H. Amsir Shaleh Siregar

SMA

Ketua Yayasan

2

H. Sulaiman Nasution

SMA

Wakil Yayasan

3

H. M. Usman Abdullah Nst,  L.c

S1

Pimpinan/Mudir

4

H. Abdul Hakim Nst, S. Pd. I

S1

Ka. Aliyah/Guru

5

Pahrisal Lubis, S. Pd. I

S1

Ka. Mts/Guru

6

Muhaammad Ilyas, S. Pd. I

S1

Sekretaris/Guru

7

H. Abdul Wadud, L.c

S1

WK.Mudir/Guru

8

H. Ali Adam Batubara, S. Pd. I

S1

Guru B. Arab

9

H. Ahmad Husein Nasution

SMA

Guru  Hadist

10

Marah Muda Nasution

SMA

Guru IPA

11

Masriah, S. Pd.

S1

Guru

B. Indonesia

12

Samsuddin Siregar, S. Pd. I

S1

Guru/Bendahara

13

H. Muhammad Yusri Nst

SMA

Guru Tauhid

14

Monang Pul, S. Pd. I., M. Pd

S2

Guru Q. Hadist

15

Anwaruddin Pulungan

SMA

Guru Fiqih

16

Siti Rodiah Nasuiton

SMA

GuruFiqih

17

Markat Nasution

SMA

Guru Nahu

18

H. Kaharuddin Nasuiton

SMA

Guru Tashauf

19

Sangkot Tarida, S. Pd. I

S1

Guru Nahu

20

Siti Narjum

SMA

Guru Tauhid

21

H. Muhammad Pagul Btr

SMA

Guru Tahfiz

22

Nurasiah Nasution, S. Pd. I

S1

Guru A. Akhlak

23

Ahmad Rosyidi

SMA

Guru Nahu

24

Derwana

SMA

Guru Tareh

25

Siti Hartina Hasibuam

SMA

Guru IPS

26

Aliaman Harahap

SMA

Guru B. Inggris

27

Nurasiah, S. Pd. I

S1

Guru PPKN

28

Arita Ramdhona, S. Pd.

S1

Guru B, Inggris

29

Syariful Mahya, S. Pd. I

S1

Tata Usaha

30

Erwin Saputra, S. H. I

S1

Guru Usul Piqih

31

E. Suryani, S. Pd.

S1

Guru Matematika

32

Delimurni Nasuiton, S. Pd. I

S1

Guru A. Akhlak

33

Ahmad Zainan

SMA

Guru A. Akhlak

34

Mhd. Siddik Hsb, S. Pd. I

S1

Guru SKI

35

Zulkarnaen Nasuiton

SMA

TU/P.SPP

36

Harun Serasih, S. Pd.

S1

Guru B. Inggris

37

Muhammad Nasir, S. Sos

S1

GuruSosiologi

38

Fahri Lubis

SMA

Guru Fiqih

39

Nasihuddin, S. Pd.

S1

Guru Matematika

40

Ahmadi, S. Pd.

S1

Guru Ekonomi

41

Marwan Nasution

SMA

Guru Balaghoh

42

Muhammad Syukri, S. Pd.

S1

Guru Matematika

43

Syahrida Nur Siregar, S. Pd.

S1

Guru B. Inggris

44

Asmi Nasuiton, S. Pd.

S1

Guru Ekonomi

45

Rajlin Azmi Hasibuan, A. Md

S1

Guru TIK

46

Ahmad Sehat

SMA

Tata Usaha

47

Ali Masdano, S. Pd.

S1

Guru

B. Indonesia

48

H. Kamaruddin, S. Pd. I

S1

Guru SKI

49

Nasrulloh, S. Pd. I

S1

Guru Q. Hadist

50

Lusi Angraini, S. Pd.

S1

Guru IPA

51

Evi Damayanti, A. Md

S1

Guru TIK

52

Adelina Hasanah, S. Pd.

S1

Guru

B. Indonesia

53

Julia Khoirunnisa, S. Pd. I

S1

Guru Insya’

54

Damra Tua Siregar, S. H. I

S1

Guru Tareh

55

Muhammad Saukani

SMA

Guru

Hadist Haas

56

H. Abdurrahman

SMA

Guru

Usul Hadist

57

Mahmuddin Lubis

SMA

Guru

Usul Piqih

58

M. Ilyas Nasution

SMA

Guru Shorop

59

Muhammad Akhir

SMA

Tata Usaha

60

Muhammad Amin, S. Pd. I

S1

Guru

61

Gustina, S. Pd.

S1

Guru Geografi

62

Samruddin, Amk

S1

Klinik Kesehatan

63

Robiatul Adawiyah

SMA

Guru

64

Mhd. Syahril

SMA

Petugas Piket Pt

65

Ahmad Zuhdi

SMA

Petugas Sekolah

66

Faridah, S. Pd.

S1

Guru Matematika

67

Latifah, S. Pd.

S1

Guru

B. Indonesia

68

H. Darman Husin, L.c

S1

Guru Insya’

69

Dra. Erna

S1

Guru

70

Darmanto

S1

Bendahara

71

H. Ali Sodikin

SMA

Guru

72

H. Wahiddin, L.c

S1

Guru Balaghoh

73

Heni Suryani, S. Pd. I

S1

Guru Piket

74

Rahmad Hidayat

SMA

Guru

75

H. Abdul Wadud. Lc

S1

Guru Insya'

76

Nur Azizah, L.c

S1

Guru

77

Sardini, S. Pd. I

S1

Guru Tahfiz

78

Alhamdi Thaib Hasibuan

SMA

Guru Tahfiz

Sumber: Dokumen Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan[6]

Berdasarkan data tabel di atas dapat diketahui bahwa guru yang ada di Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan berjumlah 78 orang. Dilihat dari bidang studi guru yang ada, jumlah guru tahfiz hanya 3 orang. Sedangkan jumlah santri yang ada pada saat ini sudah mencapai 1.596 dan setiap tahunnya akan bertambah. Dilihat juga dari pendidikannya hanya 1 orang yang memiliki gelar sarjana. Tentunya dengan jumlah guru yang demikian masih belum memadai dalam mengelola tahfiz Al-Qur’an di Pondok Psantren Darul Ikhlas Panyabungan.

7.        Keadaan Murid di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan

Siswa merupakan objek didik dari proses pembelajaran yang dilaksanakan di Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan. Berdasarkan data yang ada di Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan, maka keadaan siswa di Pesantren tersebut untuk tahun ajaran 2020/2021 adalah sebagai mana yang terdapat di tabel yang ada di bawah ini.

 

Tabel 4.3

Keadaan Murid Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Tahun Ajaran 2020/2021 Berdasarkan Tingkat Kelas

No

Kelas

Santri/Siswa

F

Laki-Laki

Perempuan

1

2

3

4

5

6

I

II

III

IV

V

VI

127

132

105

66

71

81

216

188

184

135

149

142

343

320

289

201

220

223

 

Jumlah

582

1.014

1.596

Sumber: Dokumen Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan tahun 2021[7]

B.            Temuan Khusus

1.        Pelaksanaan Tahfiz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan adalah pesantren yang berlokasi di Dalan Lidang Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Pesantren ini merupakan salah satu pesantren yang menerapkan pembelajaran tahfiz Al-Qur’an. Pelaksanaan tahfiz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan diterapkan untuk membina generasi di bidang Al-Qur’an, baik dari segi bacaan, pemahaman dan hafalan, serta pendalamannya.

Program tahfiz Al-Qur’an sudah ada sejak pesantren didirikan dan dilaksanakan di lokal reguler dan ekstrakurikuler. Hal ini disampaikan oleh mudir Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan ayah Usman mengatakan bahwa “Program tahfiz Al-Qur’an di sekolah ini sudah ada sejak pesantren ini didirikan. Program tahfiz Al-Qur’an ini merupakan ciri khas dan suatu kelebihan bagi pondok pesantren jika dibandingkan dengan sekolah lainnya. Pelaksanaannya dilakukan di lokal reguler dan ekstrakurikuler”.[8]

Untuk memperkuat hasil wawancara maka peneliti melakukan observasi pelaksanaan tahfiz Al-Qur’an di tiga kelas yaitu kelas X-A, X-B dan X-C.

Berdasarkan hasil observasi di kelas X-A bahwa pelaksanaan tahfiz Al-Qur’an dibimbing oleh ustadz/ayah Sardini. Lokasi yang menjadi tempat tahfizh sama seperti pelajaran yang lainnya yaitu di kelas tempat belajar santri seperti biasanya. Tempat tahfizh masih menjadi masalah dalam pelaksanaan tahfizh karena terganggu dengan pelajaran yang lainnya pada saat proses menghafal Al-Qur’an juz 30. Pelaksanaan tahfizh juz 30 diadakan setiap hari rabu dan kamis. Dalam pelaksanaannya guru menerangkan metode menghafal Al-Qur’an yaitu dengan mengulang-ulang bacaan 8 samapi 10 kali pengulangan dengan cara melihat Al-Qur’an kemudian setelah 10 kali pengulangan akan sendirinya terhafal. Sambil menjelaskan metode menghafal guru bercerita memberikan motivasi kelebihan orang yang menghafal Al-Qur’an akan selamat kemanapun dia pergi dan akan ditolong oleh Allah swt. dalam segala urusannya. Guru berusaha membangkitkan semangat santri untuk menghafal Al-Qur’an. Pada saat guru menjelaskan terlihat santri tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh guru dan bahkan ada yang tidur saat guru menjelaskan dan mengganggu kawan yang ada di dekatnya.[9]

Kemudian setelah menyampaikan metode tahfizh Al-Qur’an dan motivasi agar rajin menghafal selanjtunya guru menjelaskan materi yang akan dihafaloleh santri yang dimulai dari surah an-Naba. Guru menerangkan untuk materi surat yang ayatnya lebih dari 40 boleh disetorkan 2 kali atau semuanya langsung jika sudah hafal. Dalam pelaksanaan menghafal juz 30 terlihat guru mengawasi santi agar menghafal Al-Qur’an secara bersungguh-sungguhdan menegur santri yang bermain-main karena sebagian santri tidak fokus untuk menghafal Al-Qur’an. Proses penyetoran ayat yang dihafal dilakukan 20 menit sebelum kelas berakhir dimulai dari yang nama dipanggil oleh guru berdasarkan absen santri. Untuk santri yang tidak bisa menghafal akan diberi hukuman seperti berdiri di depan kelas, berkeliling lapangan dan memungut sampah.[10]

Selanjutnya dilakukan observasi di kelas X-C yang dibimbing oleh ayah/ustadz Sardini. Pelaksanaan tahfizh Al-Qur’an di kelas X-C tidak jauh berbeda dari kelas X-B. Dalam pelaksanaannya juga guru menyampaikan metode serta motivasi pada santri agar lebih rajin menghafal dan mengulangi hafalan. Untuk materi yang pertama juga dimulai surat an-Naba dan disetorkan 2 kali atau semuanya langsung jika sudah hafal. Pada kelas X-C sikap santri tidak jauh berbeda dari kelas lainnya. Sebagian santri terlihat mengganggu kawan dan malas saat menghafal Al-Qur’an. Saat penyetoran hfalan santri banyak yang tidak hafal materi yang telah diberikan oleh guru dan dalam hal ini juga memberikan hukuman terhadap santri yang tidak hafal materi yang sudah diberikan. Hukuman diberikan agar santri lebih bersungguh-sungguh dalam menghafal juz 30 tetapi pada kenyataannya hukuman yang diberikan belum mampu membuat efek jera pada santri ini terlihat pada saat santri dihukum berdiri di depan kelas masih saja bercanda dengan kawannya yang dihukum.[11]

Peneliti juga melakukan observasi di kelas X-A yang dibimbing oleh ustadz Alhamdi Thaib Hasibua. Pelaksanaan tahfizh di kelas X-A diadakan di mesjid agar temapt tahfizh lebih kondusif tidak terganggu pada saat menghafal. Pelaksanaannya pada hari rabu dan kamis dilaksanakan pada pukul 07.45 sampai pukul 09.05 WIB. Pertama guru membuka pelajaran dengan membaca absen, membagi kedalam dua kelompok atau menjadi dua Shaff dan menyampaikan metode menghafal Al-Qur’an yaitu mengulang-ulang bacaan 10 sampai 15 kali pengulangan sampai terhadapal dengan sendirinya atau yang disebut dengan metode wahdah. Kedua guru menyampaikan materi untuk dihafalkan pada hari rabu yaitu an-Naba sama seperti kelas lainnya. Untuk surat yang lebih dari 40 ayat boleh disetorkan dua kali aatau langsung seluruhnya jika sudah hafal. Dalam pelaksanaan menghafal pada kelas X-A terlihat santri lebih siap dalam menghafal juz 30 yaitu dibuktikan dengan sikap santri yang berbeda dengan kelas lainnya. Santri kelas X-A lebih bersungguh-sungguh dalam menghafal materi yang telah diberikan oleh guru dan fokus terhadap hafalan.

Terakhir adalah proses penyetoran hafalan seperti yang telah disampaikan oleh guru tahfizh yaitu penyetoran untuk surat yang lebih dari 40 ayat boleh disetorkan dua kali atau semuanya langsung apabila sudah hafal. Dalam prose penyetoran dimulai dari nomor absen yang pertama. Salah satu yang menjadi masalah santri adalah susah dalam pengucapan huruf atau Makhorijul huruf  ini terlihat pada saat proses penyetoran ayat.[12]

Pelaksanaan tahfizh juz 30 di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan untuk kelas X dilaksanakan pada hari rabu dan kamis. Tahfizh diadakan di kelas tempat belajar santri seperti pelajaran yang lainnya dan di mesjid. Dalam pelaksanannya guru memberikan metode menghafal Al-Qur’an yaitu dengan mengulang-ulang ayat yang dihafal 10 kali atau lebih sampai terhafal dengan sendirinya atau yang disebut dengan metode wahdah. Untuk materi yang lebih dari 40 ayat boleh disetorkan dua kali penyetoran.sikap santri sangat beragam dalam melaksanakan pembelajaran tahfizh juz 30 sebagian santri terlihat bersungguh-sungguh dalam menghafal dibuktikan dengan sikap santri yang fokus terhadap hafalan dan sebagian lainnya kurang bersungguh-sungguh dalam mengahafal dibuktikan dengan sikap santri yang malas saat menghafal, mengganggu kawan dan tidak hafalan materi yang sudah diberikan pada saat penyetoran.

Dari hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan tentang pelaksanaan tahfizh Al-Qur’an di kelas X yaitu X-A, X-B, dan X-C dapat menjawab rumusan masalah nomor 1 tentang pelaksanaan tahfizh Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan.

2.        Problematika Tahfiz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

Adapun problematika menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan yaitu:

a.         Dari Segi Individu

Santri adalah seorang anak yang menuntut ilmu di suatu lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan formal maupun non formal yang perlu diarahkan dan dituntun. Maka dari itu, seharusnya tidak hanya guru yang berperan memberikan motivasi terhadap siswa dalam menghafal Al-Qur’an, tetapi juga harus ikut peran serta dukungan dari orangtua dalam proses menghafal Al-Qur’an santri di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan. Perlu adanya motivasi dan bimbingan dari orangtua, sebab tanpa dorongan motivasi dari mereka, seorang anak akan mudah bosan jika mereka mendapat kesulitan dalam melakukan suatu pekerjaan tersebut.

Problematika adalah masalah atau persoalan-persoalan yang terjadi dalam proses pembelajaran, atau masalah yang dihadapi santri maupun guru dalam proses pembelajaran Tahfiz Al-Qur’an. Telah diketahui, bahwa dalam setiap kegiatan seseorang yang menuju pada suatu sasaran tujuan tertentu, akan mempunyai masalah dan menemukan masalah. Problematika yang dihadapi santri dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan sangat beragam, tetapi santri diharapkan tetap dapat menghafal dan menjaga hafalannya agar bisa menjadi apa yang diinginkan orangtua, seperti menjadi seorang yang hafiz Al-Qur’an, menjadi imam di masjid-mesjid, menjadi guru tahfiz di masyarakat dan lain sebagainya.

Menurut Muhammad Usman Abdullah Nst, bahwa pelajaran tahfiz belum sepenuhnya diminati oleh semua Santri. Bisa jadi disebabkan latar belakang sekolahnya sebelum melanjutkan di pondok pesantren Darul Ikhlas ini belum pernah diberikan beban untuk menghafal, ataupun metode yang diterapkan oleh guru tahfiz kurang diminati oleh santri sehingga minatnya berkurang untuk menghafal Al-Qur’an.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa santri yang di kelas X Aliyah sebagai berikut:

 Peneliti melakukan wawancara dengan salah satu santri yang bernama Asraf Hasibuan ia mengatakan bahwa “Problematika yang saya hadapi pada saat menghafal adalah malas dan sering lupa”.[13]

Hal senada jua disampaikan oleh santri yang bernama Salman Al-Farisi Lubis dan Wahyu Perdana mereka mengatakan bahwa “Problematika yang saya alami saat menghafal Al-Qur’an adalah mudah lupa, kurang menguasai makhorijul huruf, di samping itu juga timbul dalam diri saya rasa malas saat menghafal”.[14]

 Dari penjelasan di atas bahwa problematika yang dihadapi oleh santri yaitu adanya rasa malas menghafal Al-Qur’an, tidak menguasai makhorijul huruf dan mudah lupa di karenakan tidak mengulang-ulangi hafalan yang telah dihafal sebelumnya.

b.         Dari Segi Pendidik

Secara harfiah pendidik adalah orang yang mendidik. Yakni orang yang memberikan ilmu pengetahuan baru bagi orang yang lain secara kontinyu dan berkesinambungan. Pendidik sangat penting di dalam proses pembelajaran karena pendidik memiliki peran dan tanggungjawab di dalam proses pelaksanaan pembelajaran tidak terkecuali dalam pembelajaran tahfiz.

Dalam proses pelaksanaanya pasti akan menemukan permasalahan baik dari segi pendidik ataupun guru tahfiz. Permasalahan yang dihadapi dari segi guru tahfiz sebagaimana hasil wawancara dengan mudir yaitu ayahanda Muhammad Usman Abdullah mengatakan bahwa “Guru tahfiz kurang bersungguh-sungguh dalam pembelajaran tahfiz. Sebagian guru tahfiz hanya memberikan hafalan terhadap santri dan menentukan waktu untuk menyetor hafalan tanpa memberikan pembelajaran yang baik sesuai dengan pembelajaran tahfiz”.[15]

Selain itu, hukuman belum diterapkan dengan tegas guru hanya memberikan hukuman seperti berdiri di depan kelas, memungut sampah dan keliling lapangan. Sehingga membuat santri malas bahkan merasa remeh dengan hafalan yang telah ditentukan karena hukuman yang begitu ringan dari guru.[16]

Jika diterapkan hukuman bahwa yang tidak memenuhi target hafalan setiap kelas, maka akan berpengaruh dengan kenaikan kelas, pastilah santri akan termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an.

c.         Dari Segi Tempat

Tempat yang nyaman sangat mendukung untuk menghafal Al-Qur’an dan juga kondusifnya dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Sardini bahwa “Pelaksanaan tahfizh Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas akhir-akhir ini kurang berjalan dengan maksimal, di samping kondisi guru tahfizh yang bertempat tinggal jauh dari lingkungan pesantren, membuat guru tahfizh sering tidak bisa hadir. Kondisi ini membuat pelaksanaan tahfiz kurang kondusif sehingga membuat siswa belum maksimal menghafalkan paket ayat yang telah ditentukan sebelumnya oleh guru tahfizh”.[17]

Peneliti juga melakukan wawancara dengan santri yang bernama Fendi ia mengatakan bahwa “Problematika yang saya hadapi adalah adanya rasa malas, lingkungan yang kurang kondusif, dan teman pergaulan yang kurang baik”.[18]

Senada dengan hal tersebut santri yang bernama Taufik, Ibrahim dan Hendra mereka juga mengatakan bahwa “Problematika yang mereka alami dalam menghafal Al-Qur’an adalah adanya rasa malas, tempat menghafal yang kurang nyaman, tidak bisa kondusif, Selain itu mereka belum bisa mengontrol diri mereka saat bergaul dengan teman-teman yang jahil”.[19]

Dilihat dari pernyataan santri di atas bahwa problematika yang mereka alami yaitu tempat yang kurang kondusif serta belum bisa mengontrol diri dari pergaulan teman yang jahil yang merusak hafalan santri. Maka dengan demikin guru perlu memperhatikan kembali tempat santri yang nyaman untuk menghafal Al-Qur’an.

Dari hasil dokumentasi peneliti bahwa tempat untuk pelaksanaan tahfizh dilaksanakan di tempat belajar santri sama dengan pelajaran yang lainnya inilah yang membuat santri terganggu pada saat proses menghafal karena terganggu dengan suara pembelajaran yang lain.[20]

d.        Dari Segi Waktu

Seorang yang menghafal terutama menghafal Al-Qur’an tidak terlepas dari berbagai kendala. Baik dari segi waktu yang tidak dipergunakan siswa secara maksimal untuk menghafal dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa santri yang di kelas X Aliyah sebagai berikut:

Wawancara dengan salah satu santri yang bernama Haikal Faiz ia mengatakan bahwa “Problematika yang saya hadapi pada saat menghafal Al-Qur’an adalah tidak bisa membagi waktu, karena banyak pelajaran yang harus dipelajari”.[21]

Banyaknya pelajaran yang harus dikuasai oleh santri membuat mereka sulit untuk mengatur waktu dalam menghafal Al-Qur’an. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh santri yang bernama Ahmad Safiq Maulana yang mengatakan bahwa “Problematika yang saya alami saat menghafal Al-Qur’an adalah sedikitnya waktu untuk menghafal, juga timbul dalam diri saya rasa malas saat menghafal di karenakan banyaknya pelajaran, jadi tidak fokus membagi waktu”.[22]

Dari penjelasan di atas bahwa problematika yang dihadapi santri yaitu belum bisa membagi waktu dikarenakan banyaknya pelajaran yang harus dikuasai oleh santri, sehingga membuatnya tidak bisa menghapal Al-Qur’an secara maksimal.

e.         Dari Segi Tajwid

Peneliti melakukan wawancara dengan santri yang bernama Dian Rohman Lubis mengatakan “Problematika yang saya hadapi adalah kurangnya ilmu tajwid dan makhorijul huruf dan membuat saya sulit untuk menghafal Al-Qur’an”.[23]

Peneliti juga melakukan wawancara dengan santri yang bernama Abdul Rahman mengatakan bahwa “Problematika yang saya hadapi adalah kurangnya ilmu tajwid, disamping itu juga belum menguasai makhorijul huruf. Inilah yang membuat saya susah menghapal Al-Qur’an.”[24]

Dilihat dari pernyataan santri di atas bahwa problematika yang mereka alami yaitu kurangnya pengetahuan tentang ilmu tajwid, di samping itu juga belum menguasai makhorijul huruf dengan maksimal. Maka ini juga menjadi problem santri sulit menghafal Al-Qur’an.

Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap 15 orang informan dapat menjawab rumusan masalah nomor 2 tentang problematika tahfiz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan. Mereka mengatakan problematika tahfiz Al-Qur’an dari segi individu adalah adanya rasa malas menghafal, tidak mengulangi hafalan dan tidak menguasai makhorijul huruf. Dari segi pendidik kurang bersungguh-sungguh dalam memberikan pelajaran tahfiz Al-Qur’an dan memberikan hukuman yang begitu ringan. Dari segi tempat kurang kondusif untuk pembelajaran tahfiz. Dari segi waktu bahwa santri tidak bisa membagi waktu karena banyaknya pelajaran yang lain yang hatus dikuasai. Dari segi tajwid bahwa santri masih kurang menguasai ilmu tajwid.

3.        Solusi yang Dilakukan dalam Menghadapi Problematika Tahfiz Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

a.         Dari Segi Individu

Peneliti melakukan wawancara dengan santri yang bernama Sahroni dan Ibnu mengatakan “Upaya kami adalah meningkatkan disiplin, dengan rutin untuk menghafal Al-Qur’an sesuai yang ditargetkan oleh sekolah”.[25]

Peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa santri yaitu Iqbal dan Lutfi mengatakan bahwa “Upaya yang akan saya lakukan adalah memperlancar hafalan Al-Qur’an dengan rutin mengulanginya, serta berteman dengan orang yang rajin menghafal Al-Qur’an”.[26]

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa upaya yang dilakukan untuk mengatasi problematika tahfiz Al-Qur’an dari segi individu yaitu dengan meningkatkan disiplin dalam menghafal Al-Qur’an, memperlancar hafalan dan berteman dengan yang rajin menghafal Al-Qur’an

b.         Dari Segi Pendidik

Peneliti melakukan wawancara dengan kepala aliyah yaitu ustadz Abdul Hakim mengatakan bahwa upaya untuk menjadikan pembelajaran tahfiz yang kondusif dan mencapai target yang ditentukan adalah dengan menambah guru tahfiz dan bertempat tinggal di Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan. Supaya bisa memberikan perhatian dan binaan maksimal dengan menambah jadwal di luar mata pelajaran tahfiz. Karena selama ini guru tahfiz masih 3 orang.[27]

Dalam hal ini sebagaimana disampikan oleh guru tahfiz yaitu ustdaz Al-Hamdi Thaib mengatakan bahwa “Upaya yang dilakukan adalah dengan  membuat jadwal khusus kepada santri menghafal Al-Qur’an setiap hari, memberikan hukuman kepada santri yang tidak menghafal dan mengulangi, menambah guru tahfiz yang bersungguh-sungguh dalam memberikan pelajaran tahfiz.[28]

c.         Dari Segi Tempat

Adapun upaya dalam menghadapi problematika santri dalam masalah tempat adalah menambah tempat-tempat menghafal Al-Qur’an yang nyaman berupa pondok-pondok kecil di sekitar pesantren dan ini diharapkan untuk lebih memudahkan santri dalam proses menghafal Al-Qur’an.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan kepala aliyah yaitu Abdul Hakim mengatakan bahwa upaya untuk menjadikan tempat yang kondusif menghafal Al-Qur’an adalah menambah tempat-tempat menghafal Al-Qur’an yang nyaman berupa pondok-pondok kecil di sekitar pesantren.[29]

d.        Dari Segi Waktu

Dalam mengatasi problematika menghafal Al-Qur’an dari segi waktu harus dibuat jadwal-jadwal khusus untuk menghafal dan pandai dalam mengelola waktu. Santri juga diharapkan membuat jadwal menghafal di luar pelajaran tahfiz. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh ustadz Al-hamdi Thaib.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan santri yaitu Noval, Riski, dan Habib mengatakan “Upaya mereka akan lebih giat lagi untuk menghafal dan menambah jadwal menghafal di luar pelajaran tahfiz”.[30]

e.         Dari Segi Tajwid

Adapun upaya dalam menghadapi problematika santri dari segi tajwid adalah berdasarkan hasil wawancara dengan guru tahfiz yaitu ustadz Sardini mengatakan bahwa “Membuat jadwal khusus belajar tajwid santri di luar jam pelajaran sekolah. [31]

Wawancara dengan santri salah satunya adalah Sobri mengatakan “Upaya saya akan lebih giat lagi untuk belajar tajwid, makhorijul huruf, dan menambah jadwal menghafal di luar pelajaran tahfiz”.[32]

Peneliti melakukan wawancara dengan santri yang bernama Dani Makhyar dan Ikmal mengatakan “Upaya yang akan mereka lakukan adalah lebih mendalami ilmu tajwid dan makhorijul huruf kembali, supaya mempermudah untuk menghafal Al-Qur’an”.[33]

Berdasarkan hasil wawancara dengan 15 orang informan dapat menjawab rumusan masalah nomor 3 tentang solusi yang dilakukan untuk mengatasi problematika tahfiz Al-Qur’an yang ada di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan. Mereka mengatakan solusi dari segi individu dengan meningkatkan disiplin dalam menghafal Al-Qur’an, memperlancar hafalan dan berteman dengan yang rajin menghafal Al-Qur’an, dari segi pendidik menambah guru tahfiz dan meningkatkan kompetensi guru, dari segi waktu mengadakan waktu tahfiz di luar jam pelajaran sekolah, dari segi tempat yaitu membangun pondok-pondok kecil khusus untuk menghafal Al-Qur’an, dan dari segi ilmu tajwid menambah jam pelajaran tajwid di luar pelajaran tahfiz.

4.        Analisis Hasil Penelitian

Penelitian ini membahas tentang problematika menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Darul  Ikhlas Panyabungan Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal yaitu proses pelaksanaan tahfiz Al-Qur’an dengan baik dan penelitian ini memfokuskan tentang problematika yang ada di Pondok Pesantren Darul  Ikhlas Panyabungan baik problematika yang dihadapi oleh santri maupun gurunya sendiri.

Problematika adalah masalah atau persoalan-persoalan yang terjadi dalam proses pembelajaran atau masalah yang dihadapi santri dan guru dalam proses tahfiz Al-Qur’an

Tahfiz berasal dari kata hafizho-yahfazhu-hifzhun. Ini pangkal dari menghafal Al-Qur’an dan arti menghafal dalam kenyataannya, yaitu membaca berulang-ulang sehingga hafal dari satu ayat ke ayat berikutnya, satu surat ke surat lainnya dan begitu seterusnya hingga genap 30 juz.

Dilihat dari pernyataan santri di atas adalah kurangnya penguasaan tajwid, makhorijul huruf, adanya rasa malas, baik menghapal dan mengulanginya. Selain itu ada juga pengaruh dari pergaulan teman dan lingkungan sekitar. Di samping itu adanya problem dari guru sebagaimana pernyataan mudir ma’had yaitu Muhammad Usman Abdullah mengatakan bahwa guru tahfiz kurang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pembelajran dan kurangnya guru tahfiz. Maka, perlu penambahan guru tahfiz dan bertempat tinggal di lingkungan pesantren, supaya terbinanya tahfiz Al-Qur’an dengan maksimal sesuai dengan yang diharapkan

Guru tahfiz juga perlu mengevaluasi santri/santriah sejauh mana pengetahuan tentang ilmu tajwid dan makhorijul huruf. Agar tidak banyak yang bersalahan saat proses penyetoran ayat hafalan dan lebih memudahkan santri dalam menghafal.

Di dalam kajian teori, faktor problematika menghafal Al-Qur’an baik dari internal maupun eksternal adalah malas melakukan simaan, bersikap sombong, tidak sungguh-sungguh, tidak menguasai mahkorijul huruf dan tajwid, tidak mengulang hafalan, malas, tidak sabar, berputus asa, sering lupa, berlebihan dalam memandang dunia dan lingkungan.

Sedangkan yang ditemukan peneliti dalam penelitian ini di lapangan adalah Problematika menghafal Al-Qur’an di Ponpes Darul  Ikhlas Panyabungan dari individu adalah mudah lupa, malas baik dari segi menghafal dan mengulangi, tidak menguasai makhorijul huruf. Dari segi guru tahfiz kurang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pembelajaran dan kurangnya guru tahfiz. Adapun Dari segi waktu adalah banyaknya pelajaran membuat santri tidak bisa membagi jadwal untuk menghafal, dan membuat santri kurang fokus dalam menghafal. Adapun dari segi tempat adalah tempat yang kurang kondusif membuat  tidak nyaman dalam menghafal. Selanjutnya yang terakhir dari segi tajwid adalah siswa belum maksimal menguasai ilmu tajwid.

Adapun upaya yang dilakukan dari segi individu adalah rutin untuk menghafal Al-Quran sesuai yang ditargetkan oleh sekolah, serta berteman dengan orang yang rajin menghafal Al-Qur’an. Dari segi guru tahfiz dengan menambah guru tahfiz dan bertempat tinggal di Pesantren Darul  Ikhlas Panyabungan supaya memberikan perhatian dan binaan maksimal dengan menambah jadwal di luar mata pelajaran tahfiz. Dari segi tempat dengan menambah tempat-tempat menghafal Al-Qur’an yang nyaman berupa pondok-pondok kecil di sekitar pesantren dan ini diharapkan untuk lebih memudahkan santri dalam proses menghafal Al-Qur’an. Dari segi waktu dengan membuat jadwal khusus bagi santri untuk menghapal Al-Qur’an setiap hari, memberikan hukuman kepada santri yang tidak menghapal dan mengulangi, mengontrol pergaulan santri dengan teman-temannya di asrama. Dan yang terakhir dari segi tajwid adalah membuat jadwal khusus belajar tajwid santri di luar jam pelajaran sekolah.



[1] Muhammad Usman Abdullah Nst,  Mudir Ma’had, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 5 Juli 2021.

[2] Observasi Lokasi Pondok Pesantren Darul Iklas Panyabungan 8 Juli 2021.

[3] Berdasarkan Sumber, Panduan Profil dan Peraturan Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Tahun 2020-2021.

[4] Dokumen Struktur Organisasi di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabugan pada Tahun 2021.

[5] Dokumen Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Tahun 2021.

[6] Dokumen Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Tahun 2021.

[7] Dokumen Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan Tahun 2021.

[8] Muhammad Usman Abdullah Nst,  Mudir Ma’had, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 5 Juli 2021.

[9] Observasi Pelaksanaan Tahfizh Al-Qur’an Kelas X-B di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 8 Juli 2021.

[10] Observasi Pelaksanaan Tahfizh Al-Qur’an Kelas X-B di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 8 Juli 2021.

[11] Observasi Pelaksanaan Tahfizh Al-Qur’an Kelas X-C di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 14 Juli 2021.

[12] Observasi Tahfizh Al-Qur’an Kelas X-A di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 15 Juli 2021.

[13] Asraf Hasibuan, Siswa Kelas X, Wawancara,  Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 14 Juli 2021.

[14] Salman  Al-Farisi Lubis dan Wahyu Perdana, Siswa Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 6 Juli 2021.

[15] Muhammad Usman Abdullah Nst,  Mudir Ma’had, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 5 Juli 2021.

[16] Observasi Pelaksanaan Tahfiz Al-Qurr’an di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 14 Juli 2021.

[17] Sardini, Guru Tahfiz, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 6 Juli 2021.

[18] Fendi, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 5 Juli 2021.

[19] Taufik, Ibrahim, dan Hendra, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 11 Juli 2021.

[20] Dokumentasi Denah Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan.

[21] Haikal Faiz, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 14 Juli 2021.

[22] Khoirunnisa Nasution, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 10 Juli 2021.

[23] Dian Rohman Lubis, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 12 Juli 2021.

[24] Abdul Rahman, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 13 Juli 2021.

[25]Sahroni, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 11 Juli 2021.

[26]Iqbal dan Lutfi, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 12 Juli 2021.

[27]Abdul Hakim, Kepala Aliyah, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 10 Juli 2021.

[28]Alhamdi Thaib, Guru Tahfiz, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 14 Juli 2021.

[29]Abdul Hakim, Kepala Aliyah, Wawancara, Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 10 Juli 2021.

[30]Noval, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 13 Juli 2021

[31]Sardini, Guru Tahfiz, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 6 Juli 2021.

[32]Sofri, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 13 Juli 2021.

[33] Makhyar, Santri Kelas X, Wawancara, Pondok Pesantren Darul Ikhlas Panyabungan pada tanggal 12 Juli 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB II “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”.

  “Pengembangan Integritas Kepribadian Anak Berdasarkan Kajian Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 60-82”. BAB II KAJIAN TEORI A.     Pengemba...